Tanjung Bira, a Piece of Heaven on Earth
Anniversary ke-7 ulang tahun pernikahan kami yang jatuh tgl. 21 Desember 2015 diwarnai dengan acara travelling yang menakjubkan, mengagumkan, dan mengesankan. Siapa sangka rencana travelling yang awalnya ke Lombok tapi terbentur biaya, justru dapat ganti yang lebih impresif di Tanjung Bira, Makassar.
Perjalanan dari Jakarta ke Makassar selama lebih dari 2 jam, dilanjutkan perjalanan darat. Dari Hasanudin Airport yang berlokasi di Maros, kami menyempatkan diri untuk mampir ke Leang Leang, sebuah taman prasejarah yang dilingkupi gunung batu di sekelilingnya. Taman ini berisi bebatuan besar dan kuat, seperti batu karang di tepi laut. Selain itu, tempat ini juga dihiasi rerumputan hijau. Jika membaca sekilas hanya bebatuan, tapi setelah didatangi bebatuan ini pun tampak indah dengan berbagai bentuknya. Ada yang menjulang tinggi, ada yang berlubang di tengahnya, ada yang menampakan cerukan di kakinya, ada pula yang nampak miring. Sayang petualangan di Leang Leang harus diakhiri oleh guyuran hujan yang tiba-tiba menderas.
Dari Leang Leang, kami kembali mampir ke Bantimurung. Ini adalah kerajaan kupu-kupu, dimana terdapat penangkaran kupu-kupu serta museum kupu-kupu. Selain itu, tempat ini juga dihiasi dengan air terjun yang sangat deras curah airnya saat hujan, serta kolam dikaki air terjunnya. Disisi air terjun, terdapat tangga tinggi yang membawa ke gua. Bantimurung cukup bagus untuk di ekspose, namun sayang terdapat jenjang harga tiket masuk yang tidak masuk akal, menurutku, antara wisatawan lokal dengan turis asing. Harga yang dibanderol untuk wisatawan lokal adalah Rp 25.000,00 sedangkan untuk turis asing dikenakan harga Rp 255.000,00! Bayangkan selisihnya yang lebih dari 9x lipat. Selain itu penampilan patung kupu-kupu besar di pintu gerbang juga tampak sudah terkikis rayap, mungkin akan lebih menarik seandainya tempat ini lebih dirawat. Namun, ada point lebih untuk para penjual souvenir di depan pintu masuk yang memberi harga cukup masuk akal dan masih bisa ditawar lagi.
Karena hari beranjak gelap dan badan sudah setengah basah terkena guyuran air hujan Sulawesi Selatan, kami pun berfokus melanjutkan perjalanan menuju Tanjung Bira. Jalur yg dilewati bukanlah rute standar melalui pesisir, melainkan melalui gunung batu yang dibelah untuk jalan lintas antar propinsi. Bayangan di benak mengenai jalan tanah yang rusak terhapus begitu kami memasuki daerah pegunungan batu tersebut. Jalan aspal hitam, panjang melingkari pegunungan yang tampak semakin kelam dalam guyuran air hujan. di kiri kanan tampak bebatuan tinggi dengan hiasan akar-akar pohon berurat menelangkup bebatuan itu, dengan semburat warna hijau segar di ujung-ujungnya. Sesekali air hujan dan angin menggoyangkan dedaunan, indah dan sangat harmonis.
Kami berkendara di tengah hujan deras melalui beberapa kabupaten. Selepas dari kabupaten Maros, kami memasuki Kabupaten Bone yang rupanya merupakan tempat asal Wapres Jusuf Kalla. Kabupaten Bone sangat luas, dilengkapi dengan gunung batu dan sungai lebar. Sepertinya inilah kabupaten terluas yang kami lewati malam itu. Selepas dari Bone, kami masuk ke Kabupaten Sinjai dan menyempatkan diri untuk makan malam di sebuah warung makan. Mie kuah seafood yang panas dengan pedas merica menyegarkan tubuh kami, pedasnya merica benar-benar menghangatkan tubuh yang sempat kedinginan karena guyuran hujan di Bantimurung. Setelah sejenak melepas lelah, kami melanutkan perjalanan membelah Kabupaten Sinjai menuju Kabupaten Bulukumba, di kabupaten inilah Tanjung Bira berada, dan inilah tujuan utama kami dalam perjalanan ini.
Tepat pukul 22:00 malam kami tiba di hotel Padma Bira, setelah menyelesaikan urusan administrasi dan membayar hotel serta mobil, kami beristirahat dengan nyaman di hotel ini. Berharap malam cepat berlalu, subuh segera menjelang, dan keindahan Tanjung Bira segera kami reguk.
Keesokan paginya, kami bergegas ke pantai sekitar pukul 5 pagi. Jalanan masih agak gelap dan sepi. Kami hanya perlu berjalan satu menit untuk sampai ke anjungan pantai. Dari sini, pantai yang putih bersih langsung menyapa dan memanggil kami mendekat. Pasir putih yang sangat lembut membelai kaki kami yang bertelanjang di atas pantai ini. Mentari yang mulai malu-malu menyingsing memantulkan cahayanya di pantai putih ini, seolah cermin bagi apapun yang memijaknya. Keadaan yang sepi membuat kami serasa menjadi pemilik tunggal pantai ini, seperti orang kaya raya yang punya private beach, kami memuaskan diri menikmati pantai ini, pasir putih lembutnya yang seperti adonan tepung di bagian yang basah, serta bagaikan bedak di tempat yang kering.
Di ujung pantai putih ini, terdapat semacam daerah berumput hijau yang empuk di kaki, kemudian dibatasi dengan bebatuan. Dari arah pesisir yang berbatu karang, sering terdengan gemericik air dari dalam bebatuan yang mengalirkan sungai-sungai kecil di atas pantai putih ini menuju ke lautan. Pernah sesekali sungai kecil ini memerosokkan kakiku hingga ke betis dan cukup mengagetkan.
Menjelang pukul delapan pagi, kami menyewa boat untuk menyeberang ke Pulau Liukang dimana terdapat penangkaran penyu. Pemandangan laut yang sangat indah di tengah lautan menyihir kami yang segera tersadarkan oleh percikan air asin di wajah. Air laut seperti berkilauan terkena sinar matahari, dengan kilauan warna hijau dan biru. Pemandangan bawah laut pun, tak kalah indahnya dengan warna hijau dan biru yang sangat jernih, benar-benar pantai dan lautan ini seperti sekeping surga di atas bumi. Indah...tak terlukiskan dengan kata-kata. Airnya pun bening bak kaca yang mempersilakan tatapan kita menghujam ke dasarnya yang diwarnai hijau dan biru serta membiaskannya ke permukaan.
Sayang kami hanya punya waktu sebentar di tengah lautan ini karena antrean boat yang cukup panjang di pantai. Kami harus berbagi dengan yang lain karena typical laut ini dimana angin mengencang dan arus menderas ke pantai saat mentari mulai menggelincir ke barat. Bahkan menjelang sore, air semakin merangsek ke pantai, dan saat malam tiba pantai benar-benar tertutup debur ombak yang menghajar hingga ke dinding batu dan tembok para pedagang. Ditingkahi suara debur ombak yang menghantam pantai serta bebatuan, malam itu kami menikmati suguhan tari tradisional dari Dinas Pariwisata Bulukumba yang menaungi Tanjung Bira, berikut pembacaan puisi. Malam yang gelap sungguh kontras dengan pagelaran tari dari Tana Toraja yang menyiratkan cinta, kebahagiaan dan duka yang menyayat dalam paduan warna biru menyala, kuning emas, serta hitam legam.
Keesokan pagi, sisa kebuasan laut di Tanjung Bira sama sekali tak tampak, pantai ini kembali tenang dan indah serta mengundang. Dan kedatangan kami kali ini hanya sekedar untuk mengucapkan selamat tinggal ke Tanjung Bira. Kami menghabiskan 3 jam untuk berjalan dari ujung Tanjung Bira ke ujung Tanjung Bira Barat, menyesap halusnya pasir di kaki kami, menikmati pijitan bebatuan di ujung-ujung kaki kami sambil sesekali mengistirahatkan kaki ini di empuknya rerumputan hijau. Udara segar lautan tak henti-hentinya kami reguk dalam-dalam untuk memenuhi setiap sel tubuh kami dengan kenangan akan Tanjung Bira. Suatu waktu nanti kami akan kembali ke tanjung yang menumbuhkan cinta kami ini.
Sekitar jam 9 pagi, kami melanjutkan perjalanan menuju Makassar menyusuri pesisir. Lepas dari Kabupaten Bulukumba, kami masuk ke Kabupaten Bantaeng dan sempat mampir ke pantainya yang berpasir hitam namun sangat bersih, tak tampak sedikit pun sampah disini, Lalu perjalanan berlanjut ke Kabupaten Jeneponto yang terkenal dengan ternak kuda dan hidangan coto kudanya, kami pun menyempatkan diri untuk mampir minum air kelapa di tepi pantai Jeneponto dan kemudian mencicipi coto kuda sebagai hidangan khas daerahnya.
Memasuki Makassar, kami sejenak mengunjungi Pantai Akkarena yang rupanya merupakan pantai aklamasi. Kemudian kami berkunjung ke Fort Rotterdam yang juga menjadi tempat penahanan Pangeran Diponegoro di masa penjajahan Belanda dahulu, ruangan ini tertutup sehingga aku hanya bisa mengintip dari kaca jendela kusam yang sedikit memperlihatkan jeruji besi. Namun kekhasan bangunan Belanda sangat tampak dimana tembok-temboknya sangat tebal dan bahkan bisa dilewati dua orang berpapasan di tembok bagian atasnya. Setelah menyempatkan diri untuk membeli oleh-oleh di Toko Keradjinan, kami check in hotel Fave Daeng Tompo, lalu makan durian di Sungai Sadang dan lanjut makan konro Karebosi.
Malamnya kami habiskan waktu dengan menikmati keramaian di seputar Losari yang malam itu tampak sangat semrawut lalu lintasnya, serta kotor dan bau pesing. Daerah Losari jauh lebih baik di pagi hari, karena adanya car free day dari pukul lima pagi hingga pukul sepuluh, sehingga jalanan dipenuhi oleh berbagai komunitas sepeda, sepatu roda, lari, hingga pecinta reptilia.
Sungguh perjalanan empat hari ini sangat memuaskan, terutama Tanjung Bira, yang sangat indah.
South Celebes, 24-27 December 2015
Anniversary ke-7 ulang tahun pernikahan kami yang jatuh tgl. 21 Desember 2015 diwarnai dengan acara travelling yang menakjubkan, mengagumkan, dan mengesankan. Siapa sangka rencana travelling yang awalnya ke Lombok tapi terbentur biaya, justru dapat ganti yang lebih impresif di Tanjung Bira, Makassar.
Perjalanan dari Jakarta ke Makassar selama lebih dari 2 jam, dilanjutkan perjalanan darat. Dari Hasanudin Airport yang berlokasi di Maros, kami menyempatkan diri untuk mampir ke Leang Leang, sebuah taman prasejarah yang dilingkupi gunung batu di sekelilingnya. Taman ini berisi bebatuan besar dan kuat, seperti batu karang di tepi laut. Selain itu, tempat ini juga dihiasi rerumputan hijau. Jika membaca sekilas hanya bebatuan, tapi setelah didatangi bebatuan ini pun tampak indah dengan berbagai bentuknya. Ada yang menjulang tinggi, ada yang berlubang di tengahnya, ada yang menampakan cerukan di kakinya, ada pula yang nampak miring. Sayang petualangan di Leang Leang harus diakhiri oleh guyuran hujan yang tiba-tiba menderas.
Dari Leang Leang, kami kembali mampir ke Bantimurung. Ini adalah kerajaan kupu-kupu, dimana terdapat penangkaran kupu-kupu serta museum kupu-kupu. Selain itu, tempat ini juga dihiasi dengan air terjun yang sangat deras curah airnya saat hujan, serta kolam dikaki air terjunnya. Disisi air terjun, terdapat tangga tinggi yang membawa ke gua. Bantimurung cukup bagus untuk di ekspose, namun sayang terdapat jenjang harga tiket masuk yang tidak masuk akal, menurutku, antara wisatawan lokal dengan turis asing. Harga yang dibanderol untuk wisatawan lokal adalah Rp 25.000,00 sedangkan untuk turis asing dikenakan harga Rp 255.000,00! Bayangkan selisihnya yang lebih dari 9x lipat. Selain itu penampilan patung kupu-kupu besar di pintu gerbang juga tampak sudah terkikis rayap, mungkin akan lebih menarik seandainya tempat ini lebih dirawat. Namun, ada point lebih untuk para penjual souvenir di depan pintu masuk yang memberi harga cukup masuk akal dan masih bisa ditawar lagi.
Karena hari beranjak gelap dan badan sudah setengah basah terkena guyuran air hujan Sulawesi Selatan, kami pun berfokus melanjutkan perjalanan menuju Tanjung Bira. Jalur yg dilewati bukanlah rute standar melalui pesisir, melainkan melalui gunung batu yang dibelah untuk jalan lintas antar propinsi. Bayangan di benak mengenai jalan tanah yang rusak terhapus begitu kami memasuki daerah pegunungan batu tersebut. Jalan aspal hitam, panjang melingkari pegunungan yang tampak semakin kelam dalam guyuran air hujan. di kiri kanan tampak bebatuan tinggi dengan hiasan akar-akar pohon berurat menelangkup bebatuan itu, dengan semburat warna hijau segar di ujung-ujungnya. Sesekali air hujan dan angin menggoyangkan dedaunan, indah dan sangat harmonis.
Kami berkendara di tengah hujan deras melalui beberapa kabupaten. Selepas dari kabupaten Maros, kami memasuki Kabupaten Bone yang rupanya merupakan tempat asal Wapres Jusuf Kalla. Kabupaten Bone sangat luas, dilengkapi dengan gunung batu dan sungai lebar. Sepertinya inilah kabupaten terluas yang kami lewati malam itu. Selepas dari Bone, kami masuk ke Kabupaten Sinjai dan menyempatkan diri untuk makan malam di sebuah warung makan. Mie kuah seafood yang panas dengan pedas merica menyegarkan tubuh kami, pedasnya merica benar-benar menghangatkan tubuh yang sempat kedinginan karena guyuran hujan di Bantimurung. Setelah sejenak melepas lelah, kami melanutkan perjalanan membelah Kabupaten Sinjai menuju Kabupaten Bulukumba, di kabupaten inilah Tanjung Bira berada, dan inilah tujuan utama kami dalam perjalanan ini.
Tepat pukul 22:00 malam kami tiba di hotel Padma Bira, setelah menyelesaikan urusan administrasi dan membayar hotel serta mobil, kami beristirahat dengan nyaman di hotel ini. Berharap malam cepat berlalu, subuh segera menjelang, dan keindahan Tanjung Bira segera kami reguk.
Keesokan paginya, kami bergegas ke pantai sekitar pukul 5 pagi. Jalanan masih agak gelap dan sepi. Kami hanya perlu berjalan satu menit untuk sampai ke anjungan pantai. Dari sini, pantai yang putih bersih langsung menyapa dan memanggil kami mendekat. Pasir putih yang sangat lembut membelai kaki kami yang bertelanjang di atas pantai ini. Mentari yang mulai malu-malu menyingsing memantulkan cahayanya di pantai putih ini, seolah cermin bagi apapun yang memijaknya. Keadaan yang sepi membuat kami serasa menjadi pemilik tunggal pantai ini, seperti orang kaya raya yang punya private beach, kami memuaskan diri menikmati pantai ini, pasir putih lembutnya yang seperti adonan tepung di bagian yang basah, serta bagaikan bedak di tempat yang kering.
Di ujung pantai putih ini, terdapat semacam daerah berumput hijau yang empuk di kaki, kemudian dibatasi dengan bebatuan. Dari arah pesisir yang berbatu karang, sering terdengan gemericik air dari dalam bebatuan yang mengalirkan sungai-sungai kecil di atas pantai putih ini menuju ke lautan. Pernah sesekali sungai kecil ini memerosokkan kakiku hingga ke betis dan cukup mengagetkan.
Menjelang pukul delapan pagi, kami menyewa boat untuk menyeberang ke Pulau Liukang dimana terdapat penangkaran penyu. Pemandangan laut yang sangat indah di tengah lautan menyihir kami yang segera tersadarkan oleh percikan air asin di wajah. Air laut seperti berkilauan terkena sinar matahari, dengan kilauan warna hijau dan biru. Pemandangan bawah laut pun, tak kalah indahnya dengan warna hijau dan biru yang sangat jernih, benar-benar pantai dan lautan ini seperti sekeping surga di atas bumi. Indah...tak terlukiskan dengan kata-kata. Airnya pun bening bak kaca yang mempersilakan tatapan kita menghujam ke dasarnya yang diwarnai hijau dan biru serta membiaskannya ke permukaan.
Sayang kami hanya punya waktu sebentar di tengah lautan ini karena antrean boat yang cukup panjang di pantai. Kami harus berbagi dengan yang lain karena typical laut ini dimana angin mengencang dan arus menderas ke pantai saat mentari mulai menggelincir ke barat. Bahkan menjelang sore, air semakin merangsek ke pantai, dan saat malam tiba pantai benar-benar tertutup debur ombak yang menghajar hingga ke dinding batu dan tembok para pedagang. Ditingkahi suara debur ombak yang menghantam pantai serta bebatuan, malam itu kami menikmati suguhan tari tradisional dari Dinas Pariwisata Bulukumba yang menaungi Tanjung Bira, berikut pembacaan puisi. Malam yang gelap sungguh kontras dengan pagelaran tari dari Tana Toraja yang menyiratkan cinta, kebahagiaan dan duka yang menyayat dalam paduan warna biru menyala, kuning emas, serta hitam legam.
Keesokan pagi, sisa kebuasan laut di Tanjung Bira sama sekali tak tampak, pantai ini kembali tenang dan indah serta mengundang. Dan kedatangan kami kali ini hanya sekedar untuk mengucapkan selamat tinggal ke Tanjung Bira. Kami menghabiskan 3 jam untuk berjalan dari ujung Tanjung Bira ke ujung Tanjung Bira Barat, menyesap halusnya pasir di kaki kami, menikmati pijitan bebatuan di ujung-ujung kaki kami sambil sesekali mengistirahatkan kaki ini di empuknya rerumputan hijau. Udara segar lautan tak henti-hentinya kami reguk dalam-dalam untuk memenuhi setiap sel tubuh kami dengan kenangan akan Tanjung Bira. Suatu waktu nanti kami akan kembali ke tanjung yang menumbuhkan cinta kami ini.
Sekitar jam 9 pagi, kami melanjutkan perjalanan menuju Makassar menyusuri pesisir. Lepas dari Kabupaten Bulukumba, kami masuk ke Kabupaten Bantaeng dan sempat mampir ke pantainya yang berpasir hitam namun sangat bersih, tak tampak sedikit pun sampah disini, Lalu perjalanan berlanjut ke Kabupaten Jeneponto yang terkenal dengan ternak kuda dan hidangan coto kudanya, kami pun menyempatkan diri untuk mampir minum air kelapa di tepi pantai Jeneponto dan kemudian mencicipi coto kuda sebagai hidangan khas daerahnya.
Memasuki Makassar, kami sejenak mengunjungi Pantai Akkarena yang rupanya merupakan pantai aklamasi. Kemudian kami berkunjung ke Fort Rotterdam yang juga menjadi tempat penahanan Pangeran Diponegoro di masa penjajahan Belanda dahulu, ruangan ini tertutup sehingga aku hanya bisa mengintip dari kaca jendela kusam yang sedikit memperlihatkan jeruji besi. Namun kekhasan bangunan Belanda sangat tampak dimana tembok-temboknya sangat tebal dan bahkan bisa dilewati dua orang berpapasan di tembok bagian atasnya. Setelah menyempatkan diri untuk membeli oleh-oleh di Toko Keradjinan, kami check in hotel Fave Daeng Tompo, lalu makan durian di Sungai Sadang dan lanjut makan konro Karebosi.
Malamnya kami habiskan waktu dengan menikmati keramaian di seputar Losari yang malam itu tampak sangat semrawut lalu lintasnya, serta kotor dan bau pesing. Daerah Losari jauh lebih baik di pagi hari, karena adanya car free day dari pukul lima pagi hingga pukul sepuluh, sehingga jalanan dipenuhi oleh berbagai komunitas sepeda, sepatu roda, lari, hingga pecinta reptilia.
Sungguh perjalanan empat hari ini sangat memuaskan, terutama Tanjung Bira, yang sangat indah.
South Celebes, 24-27 December 2015