Sunday, January 3, 2016

Tanjung Bira, a piece of heaven on earth

Tanjung Bira, a Piece of Heaven on Earth

Anniversary ke-7 ulang tahun pernikahan kami yang jatuh tgl. 21 Desember 2015 diwarnai dengan acara travelling yang menakjubkan, mengagumkan, dan mengesankan. Siapa sangka rencana travelling yang awalnya ke Lombok tapi terbentur biaya, justru dapat ganti yang lebih impresif di Tanjung Bira, Makassar.

Perjalanan dari Jakarta ke Makassar selama lebih dari 2 jam, dilanjutkan perjalanan darat. Dari Hasanudin Airport yang berlokasi di Maros, kami menyempatkan diri untuk mampir ke Leang Leang, sebuah taman prasejarah yang dilingkupi gunung batu di sekelilingnya. Taman ini berisi bebatuan besar dan kuat, seperti batu karang di tepi laut. Selain itu, tempat ini juga dihiasi rerumputan hijau. Jika membaca sekilas hanya bebatuan, tapi setelah didatangi bebatuan ini pun tampak indah dengan berbagai bentuknya. Ada yang menjulang tinggi, ada yang berlubang di tengahnya, ada yang menampakan cerukan di kakinya, ada pula yang nampak miring. Sayang petualangan di Leang Leang harus diakhiri oleh guyuran hujan yang tiba-tiba menderas.

Dari Leang Leang, kami kembali mampir ke Bantimurung. Ini adalah kerajaan kupu-kupu, dimana terdapat penangkaran kupu-kupu serta museum kupu-kupu. Selain itu, tempat ini juga dihiasi dengan air terjun yang sangat deras curah airnya saat hujan, serta kolam dikaki air terjunnya. Disisi air terjun, terdapat tangga tinggi yang membawa ke gua. Bantimurung cukup bagus untuk di ekspose, namun sayang terdapat jenjang harga tiket masuk yang tidak masuk akal, menurutku, antara wisatawan lokal dengan turis asing. Harga yang dibanderol untuk wisatawan lokal adalah Rp 25.000,00 sedangkan untuk turis asing dikenakan harga Rp 255.000,00! Bayangkan selisihnya yang lebih dari 9x lipat. Selain itu penampilan patung kupu-kupu besar di pintu gerbang juga tampak sudah terkikis rayap, mungkin akan lebih menarik seandainya tempat ini lebih dirawat. Namun, ada point lebih untuk para penjual souvenir di depan pintu masuk yang memberi harga cukup masuk akal dan masih bisa ditawar lagi.

Karena hari beranjak gelap dan badan sudah setengah basah terkena guyuran air hujan Sulawesi Selatan, kami pun berfokus melanjutkan perjalanan menuju Tanjung Bira. Jalur yg dilewati bukanlah rute standar melalui pesisir, melainkan melalui gunung batu yang dibelah untuk jalan lintas antar propinsi. Bayangan di benak mengenai jalan tanah yang rusak terhapus begitu kami memasuki daerah pegunungan batu tersebut. Jalan aspal hitam, panjang melingkari pegunungan yang tampak semakin kelam dalam guyuran air hujan. di kiri kanan tampak bebatuan tinggi dengan hiasan akar-akar pohon berurat menelangkup bebatuan itu, dengan semburat warna hijau segar di ujung-ujungnya. Sesekali air hujan dan angin menggoyangkan dedaunan, indah dan sangat harmonis.

Kami berkendara di tengah hujan deras melalui beberapa kabupaten. Selepas dari kabupaten Maros, kami memasuki Kabupaten Bone yang rupanya merupakan tempat asal Wapres Jusuf Kalla. Kabupaten Bone sangat luas, dilengkapi dengan gunung batu dan sungai lebar. Sepertinya inilah kabupaten terluas yang kami lewati malam itu. Selepas dari Bone, kami masuk ke Kabupaten Sinjai dan menyempatkan diri untuk makan malam di sebuah warung makan. Mie kuah seafood yang panas dengan pedas merica menyegarkan tubuh kami, pedasnya merica benar-benar menghangatkan tubuh yang sempat kedinginan karena guyuran hujan di Bantimurung. Setelah sejenak melepas lelah, kami melanutkan perjalanan membelah Kabupaten Sinjai menuju Kabupaten Bulukumba, di kabupaten inilah Tanjung Bira berada, dan inilah tujuan utama kami dalam perjalanan ini.

Tepat pukul 22:00 malam kami tiba di hotel Padma Bira, setelah menyelesaikan urusan administrasi dan membayar hotel serta mobil, kami beristirahat dengan nyaman di hotel ini. Berharap malam cepat berlalu, subuh segera menjelang, dan keindahan Tanjung Bira segera kami reguk.

Keesokan paginya, kami bergegas ke pantai sekitar pukul 5 pagi. Jalanan masih agak gelap dan sepi. Kami hanya perlu berjalan satu menit untuk sampai ke anjungan pantai. Dari sini, pantai yang putih bersih langsung menyapa dan memanggil kami mendekat. Pasir putih yang sangat lembut membelai kaki kami yang bertelanjang di atas pantai ini. Mentari yang mulai malu-malu menyingsing memantulkan cahayanya di pantai putih ini, seolah cermin bagi apapun yang memijaknya. Keadaan yang sepi membuat kami serasa menjadi pemilik tunggal pantai ini, seperti orang kaya raya yang punya private beach, kami memuaskan diri menikmati pantai ini, pasir putih lembutnya yang seperti adonan tepung di bagian yang basah, serta bagaikan bedak di tempat yang kering. 

Di ujung pantai putih ini, terdapat semacam daerah berumput hijau yang empuk di kaki, kemudian dibatasi dengan bebatuan. Dari arah pesisir yang berbatu karang, sering terdengan gemericik air dari dalam bebatuan yang mengalirkan sungai-sungai kecil di atas pantai putih ini menuju ke lautan. Pernah sesekali sungai kecil ini memerosokkan kakiku hingga ke betis dan cukup mengagetkan. 

Menjelang pukul delapan pagi, kami menyewa boat untuk menyeberang ke Pulau Liukang dimana terdapat penangkaran penyu. Pemandangan laut yang sangat indah di tengah lautan menyihir kami yang segera tersadarkan oleh percikan air asin di wajah. Air laut seperti berkilauan terkena sinar matahari, dengan kilauan warna hijau dan biru. Pemandangan bawah laut pun, tak kalah indahnya dengan warna hijau dan biru yang sangat jernih, benar-benar pantai dan lautan ini seperti sekeping surga di atas bumi. Indah...tak terlukiskan dengan kata-kata. Airnya pun bening bak kaca yang mempersilakan tatapan kita menghujam ke dasarnya yang diwarnai hijau dan biru serta membiaskannya ke permukaan. 

Sayang kami hanya punya waktu sebentar di tengah lautan ini karena antrean boat yang cukup panjang di pantai. Kami harus berbagi dengan yang lain karena typical laut ini dimana angin mengencang dan arus menderas ke pantai saat mentari mulai menggelincir ke barat. Bahkan menjelang sore, air semakin merangsek ke pantai, dan saat malam tiba pantai benar-benar tertutup debur ombak yang menghajar hingga ke dinding batu dan tembok para pedagang. Ditingkahi suara debur ombak yang menghantam pantai serta bebatuan, malam itu kami menikmati suguhan tari tradisional dari Dinas Pariwisata Bulukumba yang menaungi Tanjung Bira, berikut pembacaan puisi. Malam yang gelap sungguh kontras dengan pagelaran tari dari Tana Toraja yang menyiratkan cinta, kebahagiaan dan duka yang menyayat dalam paduan warna biru menyala, kuning emas, serta hitam legam.

Keesokan pagi, sisa kebuasan laut di Tanjung Bira sama sekali tak tampak, pantai ini kembali tenang dan indah serta mengundang. Dan kedatangan kami kali ini hanya sekedar untuk mengucapkan selamat tinggal ke Tanjung Bira. Kami menghabiskan 3 jam untuk berjalan dari ujung Tanjung Bira ke ujung Tanjung Bira Barat, menyesap halusnya pasir di kaki kami, menikmati pijitan bebatuan di ujung-ujung kaki kami sambil sesekali mengistirahatkan kaki ini di empuknya rerumputan hijau. Udara segar lautan tak henti-hentinya kami reguk dalam-dalam untuk memenuhi setiap sel tubuh kami dengan kenangan akan Tanjung Bira. Suatu waktu nanti kami akan kembali ke tanjung yang menumbuhkan cinta kami ini.

Sekitar jam 9 pagi, kami melanjutkan perjalanan menuju Makassar menyusuri pesisir. Lepas dari Kabupaten Bulukumba, kami masuk ke Kabupaten Bantaeng dan sempat mampir ke pantainya yang berpasir hitam namun sangat bersih, tak tampak sedikit pun sampah disini, Lalu perjalanan berlanjut ke Kabupaten Jeneponto yang terkenal dengan ternak kuda dan hidangan coto kudanya, kami pun menyempatkan diri untuk mampir minum air kelapa di tepi pantai Jeneponto dan kemudian mencicipi coto kuda sebagai hidangan khas daerahnya. 

Memasuki Makassar, kami sejenak mengunjungi Pantai Akkarena yang rupanya merupakan pantai aklamasi. Kemudian kami berkunjung ke Fort Rotterdam yang juga menjadi tempat penahanan Pangeran Diponegoro di masa penjajahan Belanda dahulu, ruangan ini tertutup sehingga aku hanya bisa mengintip dari kaca jendela kusam yang sedikit memperlihatkan jeruji besi. Namun kekhasan bangunan Belanda sangat tampak dimana tembok-temboknya sangat tebal dan bahkan bisa dilewati dua orang berpapasan di tembok bagian atasnya. Setelah menyempatkan diri untuk membeli oleh-oleh di Toko Keradjinan, kami check in hotel Fave Daeng Tompo, lalu makan durian di Sungai Sadang dan lanjut makan konro Karebosi.

Malamnya kami habiskan waktu dengan menikmati keramaian di seputar Losari yang malam itu tampak sangat semrawut lalu lintasnya, serta kotor dan bau pesing. Daerah Losari jauh lebih baik di pagi hari, karena adanya car free day dari pukul lima pagi hingga pukul sepuluh, sehingga jalanan dipenuhi oleh berbagai komunitas sepeda, sepatu roda, lari, hingga pecinta reptilia.

Sungguh perjalanan empat hari  ini sangat memuaskan, terutama Tanjung Bira, yang sangat indah.

South Celebes, 24-27 December 2015

     

Wednesday, July 2, 2014

Sepenggal Kisah Umrah di Madinah & Makkah

Sepenggal Kisah Umrah di Madinah & Makkah
KSA, 20-26 Mei 2014
Sudah sejak lama keinginan untuk beribadah di tanah suci terbersit di pikiranku, namun karena merasa belum cukup baik dan merasa beratnya tanggungan yang harus disandang sepulang dari tanah suci, maka hasrat itu sering kali terkubur dalam tumpukan kertas pekerjaan di kantor serta tetek bengek urusan rumah yang tak ada habisnya.

 Akhirnya setelah segala kekusutan sedikit demi sedikit terurai, hasrat itu pun menemukan jalannya untuk terpenuhi. Berawal di bulan Oktober 2013, kami bertemu dengan seorang ibu yang mengajak untuk turut serta dalam rombongannya, berangkat umrah di bulan Mei 2014. Memang cukup lama harus menunggu, tapi justru masa tunggu itu bisa aku dan suamiku gunakan untuk lebih mempersiapkan diri. Seperti untuk mengurus suntik meningitis, menyiapkan pas foto dan segala macam dokumen lainnya, juga baju-baju yang pantas dipakai di rumah orang, apalagi untuk perempuan seperti aku. Sebagai tamu tentunya kami, terutama aku, harus menghormati aturan yang berlaku di rumah orang lain. Bukankah dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung?

Ketika bulan Mei 2014 tiba, jantung serasa berdegup lebih kencang, menunggu tanggal yang dijanjikan untuk berangkat ke tanah suci. Aku mulai mengkonsumsi obat pengatur haid di awal bulan Mei 2014, karena jadwal keberangkatan bertepatan dengan jadwal bulananku. Dengan koper yang disediakan oleh biro perjalanan, aku pun mulai packing untuk mengatur apa saja yang harus kami bawa dan bagaimana supaya bisa muat dalam satu koper masing-masing untuk aku dan suamiku.

Dan tanggal yang ditunggu pun tiba. Hari Selasa, 20 Mei 2014, dini hari kami terbang bersama ratusan jamaah lainnya dengan pesawat Flynas, langsung dari Soekarno Hatta ke King Abdul Azis Airport di Jeddah. Perjalanan di udara berlangsung selama 9 jam 35 menit yang sebagian besar aku lalui dengan tidur, karena dengan seat untuk tiga orang, hanya terisi aku dan suamiku, jadi aku dan suamiku masih bisa bergantian merebahkan tubuh. Suamiku lebih banyak terjaga daripada aku, sedangkan aku hanya terjaga untuk menikmati hidangan yang disajikan pukul 5 pagi dan pukul 12 siang. Hidangan yang disajikan cukup nikmat dari segi rasa, dan juga cukup menggoda dari segi jenis hidangannya. Ditambah air putih serta jus buah, cukuplah untuk merecharge energy.

Setelah proses landing yang mulus, kami harus menunggu sekitar dua jam untuk proses pengambilan barang di bagasi dan antre imigrasi. Kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan bus menuju Madinah. Perjalanan ini berlangsung sekitar 5 jam, cukup lama, mungkin karena kami mampir ke Masjid Terapung untuk menunaikan sholat Dzuhur dan Ashar serta makan siang disana. Sedikit tentang Masjid Terapung, karena kami datang pada saat laut tidak pasang, maka kami bisa melihat pilar-pilar penyangganya. Toilet disini bersih dengan menggunakan semacam teko air untuk beristinja. Lelaki mendirikan sholat di dalam masjid, sedangkan perempuan mendirikan sholat di bagian luar masjid. Banyak sekali pejual disekitar masjid, terutama penjual makanan dan souvenir. Burung dara yang bersih juga tampak di sekitar masjid, terbang bersama hembusan angin laut.

Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya kami tiba di hotel yang berjarak sekitar 100 meter dari halaman Masjid Nabawi. Kami mandi dan sholat Maghrib di hotel, kemudian berangkat ke Masjid Nabawi untuk sholat Isya. Masjid Nabawi sangat Indah dengan pilar tinggi dan besar, plafon berhias warna kuning seperti emas, menara serta payung-payung yang menutup, dan karpet tebal dalam baluran sinar lampu yang terang. Sholat tahiyatul masjid langsung didirikan begitu mendapat tempat di dalam Masjid Nabawi, masjidnya Rasulullah. Suasana religious mulai terasa kuat saat adzan berkumandang. Suara adzan disini berbeda dengan di Indonesia. Disini, adzan diawali dengan suara datar lalu meninggi melalui speaker yang menggemakan suara dengan bagus dan bening. Pada saat sholat, imam membacakan surat yang cukup panjang dengan suara yang dalam dan menenangkan, lalu setiap takbiratul ihram suara imam seperti dipantulkan oleh second imam dengan suara yang lebih melengking, nyaring, dan panjang.

Pada hari biasa, aku dan suamiku menyempatkan diri untuk menikmati Masjid Nabawi. Di siang hari payung di halaman masjid terkembang untuk melindungi jamaah  yang sholat diluar dari terik matahari. Pad hari Jumat, setelah Sholat Jumat, atap masjid bergeser terbuka dan membiarkan sinar matahari menerpa karpet-karpet masjid. Mungkin itu sebabnya meski tebal dan sering terinjak kaki yang basah, tapi karpet disini tidak berbau. Di malam hari, cahaya kuning dari lampu menerangi pintu-pintu masjid yang berwarna keemasan. Air zamzam tersedia di setiap koridor yang dapat diminum oleh para jamaah, gratis, dengan gelas plastic bersih, bahkan jamaah boleh membawa pulang air zamzam dengan botol minuman masing-masing.

Selama di Madinah, kami juga menyempatkan diri untuk sholat di Raudhah yang sangat penuh sesak oleh jamaah lainnya. Diperlukan kesabaran hati dan kekuatan fisik untuk beribadah disana karena antrean yang sangat panjang serta kondisinya yang berjubel. Disitu terdapat makam Rasulullah beserta kedua sahabatnya Abu Bakar asy Shidiq & Umar bin Khattab, serta sebuah makam kosong yang alkisah disiapkan untuk makam Isa as di akhir jaman nanti.

Selain itu kami juga mengikuti tour ke Jabal Uhud, gunung dimana terjadi peperangan Uhud dan bala tentara muslim kalah perang karena tidak mengikuti perintah Rasulullah. Makam para sahabat yang tewas dalam peperangan Uhud juga ada di kaki gunung, rupanya disana makam hanya berupa tanah datar saja, tanpa papan nama, apalagi bangunan berkeramik seperti disini. Masjid Quba yang diriwayatkan sebagai tempat sholat dua rakaat berpahala sepadan dengan menjalankan ibadah umrah juga kami kunjungi. Selanjutnya kami menuju perkebunan kurma, dimana kami boleh mengumpulkan kurma muda yang jatuh dari pohonnya, tapi tidak boleh memetik langsung dari pohon. Alkisah kurma muda dapat membantu meyuburkan organ reproduksi pasangan, jadi kami bersemangat mengumpulkannya sambil berharap doa kami untuk memiliki keturunan diijabah Allah.

Setelah sholat Jumat, kami berangkat ke Makkah mengendarai bus. Perjalanan berlangsung selama 7 jam, dimana kami sudah mandi besar serta berbaju putih untuk persiapan ibadah umrah. Kami mengambil miqat di Masjid Bir Ali dan kembali melanjutkan perjalanan menuju hotel terlebih dahulu. Entah bagaimana kami baru tiba di hotel, di daerah Misfallah pukul 11 malam. Setelah makan malam dan bersuci, kami berjalan kaki menuju Masjidil Haram yang berjarak sekitar 500 meter dari hotel.

Tiba di Masjidil Haram, kami masuk melalui King Abdul Azis Gate dan setelah berjalan beberapa langkah, di depan mataku terpampang Kabah, rumah Allah, dalam balutan kiswah hitam dengan tulisan Arab dari benang emas. Tampak agung sekaligus anggun, perkasa sekaligus ramah mengundang kami mendekat. Tanpa terkontrol, mataku terasa panas dan air mata yang kubendung kuat mulai meleleh. Saat bersujud, roboh semua benteng yang kubangun, aku menangis sesenggukan dalam uraian istighfar dalam hati serta lontaran bibirku. Terasa kecil sekali diri ini di hadapan Allah, hancur luluh semua ego diri yang ada selama ini, porak poranda segala keakuan yang menguasai sanubari ini. Terasa berat sekali badan ini untuk bangkit dari sujud di depan rumah Allah.

Lewat tengah malam itu juga kami menjalankan ibadah umrah, diawali dengan thawaf, berjalan mengelilingi Kabah tujuh kali, dilanjutkan dengan sa’I, berjalan dari bukit shafa ke bukit marwah bolak-balik tujuh kali seperti saat Siti Hajar mencarikan air minum untuk puranya, Nabi Ismail as, kemudian tahalul, yaitu memotong rambut sebagai pamungkas kegiatan umrah. Umrah kedua dilakukan siang hari, saat matahari berada di puncaknya. Airmata pun tak berhenti bercucuran selama tujuh putaran thawaf. Rasa syahdu meliputi hati dan pikiran. Suatu pagi selepas sholat dhuha di Masjdil Haram, ketika mengunjungi Kabah berdua saja dengan suamiku, kami berkesempatan untuk sholat di Hijr Ismail, melihat di dalam Maqam Ibrahim, serta mencium Kabah di bagian Rukun Yamani, bagian Kabah yang tidak tertutup Kiswah. Semerbak wangi Kabah (atau Kiswah?) tak hilang dari telapak tanganku nyaris sepanjang hari itu. Bahkan aroma itu masih sering tercium saat aku sudah kembali ke tanah air.

Suara adzan di Masjidil Haram berbeda lagi dengan yang di Masjid Nabawi. Imam pun membacakan surat yang lebih pendek daripada di Masjid Nabawi. Selain itu, kota Madinah juga lebih tertata dan bersih dibanding kota Makkah. Satu persamaannya, di kedua kota ini banyak ditemukan burung dara dengan makanan berserakan disekitar, tapi tidak ada kotorannya sama sekali. Aneh, bukan?

Selama di Makkah, kami melakukan perjalanan ke beberapa tempat. Jabal Rahmah, tugu besar di atas gunung yang menjadi tempat pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa. Jabal Magnit, sebuah tempat dimana mobil berjalan sendiri dengan posisi gigi 0 di jalur landai. Serta beberapa masjid lain yang juga kami kunjungi.
Hari terakhir di Makkah, terasa berat sekali untuk meninggalkan Kabah. Ada keinginan untuk tinggal lebih lama, atau bahkan selamanya, dan beribadah disana. Ada kerinduan mengiris jiwa, bahkan saat aku belum pergi meninggalkannya. Tapi kehidupan terus berjalan, setelah thawaf wadha, aku berlalu tanpa menengok lagi Kabah. Aku pergi meninggalkan sekeping hatiku disana dengan tetesan airmata, membawa segumpal kenangan dan segenggam hasrat untuk kembali lagi kesana. Insya Allah..aku akan kembali mengunjungi rumahmu lagi, ya Allah..     


Tuesday, March 19, 2013

Cirebon, Des 2012


Cirebon, Des 2012

Cirebon mungkin lokasi yang cukup strtegis karena disinilah terdapat persimpangan kereta jalur selatan dan utara. Disini juga merupakan wilayah pantai yang mestinya bisa lebih dikomersilkan, selain wisata sejarah yang cukup kuat juga. Di akhir bulan Desember 2012, aku, suamiku, dan teman-teman kantorku berwisata ke Cirebon. Walo hanya semalam, dua hari, tapi kunjungan ini terasa lebih mendalam dan lebih banyak yang bisa diambil hikmahnya.

Kami berangkat naik kereta pagi pada hari Sabtu pukul 06.00 WIB masing-masing dengan membawa backpacknya sendiri-sendiri. Perjalanan selama 3 jam berlangsung cukup menyenangkan dan mengantukkan buatku, rel kereta api dari Jakarta ke Cirebon dikelilingi dengan pemandangan alam yang indah, hijau, berlekuk seperti tubuh penari Bali. Kereta sampai di stasiun tepat pukul 09.00 WIB dimana kami langsung menjajal hidangan khas Cirebon, empal gentong di station Cirebon yang memang nikmat itu. 

Selanjutnya kami menuju ke Trusmi, sebuah jalan tidak terlalu besar di Cirebon namun dipenuhi toko-toko batik khas Cirebon yang bernuansa cerah itu. Beberapa toko kami masuki dan beberapa batik khas Cirebon berhasil kami angkut ke dalam mobil, baik berupa pakaian jadi maupun kain yang harus dijahit lagi. 

Setelah lelah berbelanja, kami kembali berwisata kuliner dengan menikmati Nasi Lengko H. Barno, makanan ini sangat sederhana tapi entah mengapa terasa sangat nikmat di lidah jawaku. Hanya nasi sepiring dengan tempe goring diiris kecil2, kecap, dan sambal kacang, serta toge..semuanya diaduk jadi satu sambil mencecap sate kambing..rasanya bener-bener komplit..gurih dan manis menyatu di lidah, enaaak..! dan yang pasti sangat kenyang..

Perjalanan kami lanjutkan ke salah satu bangunan kuno di Cirebon, Kraton Kasepuhan yang total luasnya lebih dari 20 ha. Kraton ini semestinya bisa terlihat lebih indah jika saja lebih terawat dan tanpa aroma aneh yang cukup menyengat di pintu gerbangnya. Ada beberapa bangunan terpisah yang menjadi semacam bangunan kesatrian dan keputren, juga pemandian istri raja, masjid, tempat mengaji, serta tujuh sumber air yang salah satunya ditutup karena beracun. Beberapa bagian kraton yang sedang direnovasi tidak memungkinkan bagi kami untuk melihat lebih detail, tapi secara keseluruhan kami cukup puas bisa menyaksikan peninggalan sejarah yang masih cukup gagah berdiri di bumi Cirebon ini.

Kemudian kami menuju ke hotel, Hotel Amaris yang berdekatan dengan stasiun Cirebon, budget hotel yang cukup nyaman untuk sekedar melepas lelah, membersihkan diri dan meletakkan barang-barang belanjaan. Lepas petang kami kembali mengelilingi kota Cirebon, dengan menikmati Nasi Lengko, yaitu nasi yang dibungkus daun jati dengan berbagai macam pilihan lauk model pukwe (njupuk dewe = ambil sendiri) di meja panjang tempat para pembeli antre mengambil lauk. Sengaja aku tidak mau terlalu kenyang makan disini, karena masih ada rencana untuk makan di tempat lain. Selanjutnya kami kongkow di dekat Kraton Kasepuhan yang kami kunjungi sebelumnya untuk sekedar menikmati teh poci khas Jawa Tengah, teh tubruk panas dalam poci tanah liat disiramkan dalam gelas tanah liat dengan pemanis gula batu yang membuat minuman ini terasa lebih nikmat dan harum.

Beberapa jam kami habiskan disini selain ditemani tehpoci, juga gorengan..mungkin hanya di Cirebon ada outlet McD yang jualan tahu goreng hahahaha…no..actually bungkusnya saja yang meniru kertas pembungkus McD sekaligus dengan nama McD tercetak di kertas itu. Wisata kuliner ini kami akhiri dengan menikmati kelapa kopyor asli, dihidangkan dengan gelas besar dan agak terlalu kenyang mengingat kami sudah makan dan minum banyak sebelumnya. Jadi rencana makan sup bubur ayam harus dilupakan terlebih dahulu, next trip I guess.

Akhirnya kami kembali ke hotel untuk beristirahat, besok kami masih harus melanjutkan perjalanan yng cukup panjang…

Pagi hari, aku dan suamiku keluar kamar pukul 06.30 WIB untuk sarapan di lobi dekat resepsionis, untuk ukuran budget hotel, menunya pun cukup lumayan, lagipula tempatnya juga bersih..sangat jauh berbeda dengan hotel di Thailand yang juga aku kunjungi bulan Desember ini. Teman-teman menyusul beberapa saat kemudian. Setelah selesai makan, kami langsung check out untuk melanjutkan perjalanan seputar Cirebon. Kunjungan pertama adalah kembali ke Trusmi untuk sekedar menuntaskan belanjaan yang belum kelar. 

Dari Trusmi, kami melanjutkan perjalanan ke Kuningan. Sepanjang jalan dari Cirebon ke Kuningan juga tampak indah dengan jalinan pepohonan di lereng perbukitan yang menghijau dan bergelombang. Sesampai di Kuningan, kami makan hucap, ini adalah makanan yang terdiri dari tahu goreng, lontong dengan bleng, dan kecap. Walo terasa agak aneh, tapi enak juga lama-lama.. Tujuan pertama di Kuningan adalah sebuah tempat wisata yang berupa pemandian. Tapi bukannya mandi, kami malah menikmati terapi ikan. Kami menyerahkan kaki kami untuk digelitik ikan-ikan kecil yang menyantap kulit mati kami. Sangat geli pada awalnya, tapi lama-lama enak juga, apalagi dengan dibumbui desiran angin yang membelai wajah terasa nikmat dan membuai ke alam mimpi…

Selanjutnya para lelaki menikmati spa air panas di lokasi sekitar. Dan dilanjutkan dengan makan siang yang terlambat di lereng bukit itu. Hidangan ikan air tawar menggoda lidah kami dengan ditemani tahu dan tempe goring serta sambel terasi berdansa bersama sisa sarapan di perut kami. Setelah makan kami melanjutkan perjalanan ke tempat penyelenggaraan perjanjian Linggarjati, perjanjian antara para founding father kita dengan pihak Belanda yang dimediasi oleh pihak ketiga.

Lokasi perjanjian ini sangat indah. Sebuah rumah tua khas bangunan jaman Belanda dengan tembok tebal dan atap tinggi, dikelilingi oleh taman luas dengan rumput yang dipotong rapi serta pepohonan besar yang rindang. Secara keseluruhan, bangunan ini tampak terawat. Perabotannya pun juga terawat, meski pengunjung dilarang untuk menjajal perabotan itu, mungkin lebih untuk alasan keselamatan pengunjung mengingat perabotan itu sudah tua. Kamar mandi yang pernah digunakan para perwakilan delegasi menunjukkan typical kamar mandi jaman dulu yang luas dengan bak mandi besar berlantai lapisan semen, airnya dingiiin banget. Tempat tidur para delegasi juga masih ada, rupanya mereka sharing room karena setiap kamar terdiri dari dua tempat tidur. Tempat tidurnya kecil, mungkin ukuran 90 cm lebarnya yang hanya muat untuk satu orang saja.

Selain itu juga ada foto-foto pada saat pelaksanaan perjanjian itu, juga foto pemilik rumah yang menyerahkan rumah ini untuk perjanjian. Ternyata ada cerita dibalik pemilihan lokasi Linggarjati di Kuningan, ketika itu pemerintahan Jakarta menolak ke Jogja, sedangkan pemerintahan sementara Jogja juga menolak ke Jakarta, maka muncullah seorang perempuan, putri bupati Kuningan yang menelurkan ide untuk menyelenggarakan pertemuan itu di Linggarjati Kuningan karena secara lokasi berada di tengah-tengah antara Jakarta dan Jogjakarta, hmmmmm..the power of a woman..

Selesai menikmati Linggarjati, kami pun kembali ke Cirebon menuju ke stasiun untuk kembali ke Jakarta dengan kereta sore itu. Perjalanan yang menyenangkan..banyak ilmu yang bisa digali. Banyak pemandangan yang bisa dinikmati. Banyak makanan baru yang bisa disantap. Well..can’t wait for the next trip with you guys…    

Monday, March 18, 2013

Thailand Trip

Perjalanan ke Thailand dimulai pada hari  Jumat, 7 Des 2012. Aku pergi dengan rekan kerjaku naik pesawat pertama dan transit di KL airport selama beberapa jam. Beberapa jam yang tidak memungkinkan untuk jalan2, namun juga cukup membosankan untuk duduk diam saja di airport, untung ada free wifi jadi bisa sedikit melihat kondisi tanah air yang baru beberapa jam ditinggalkan tapi sudah sangat merindukan. Setelah menunggu sekitar 2 jam, akhirnya pesawat ke Thailand take off juga dan sekitar 2 jam kemudian kami sudah mendarat di Svarnabhumi Airport. Bandaranya bagus, dengan sentuhan etnis yang cukup kuat, bersih juga tapi sayang ga ada free wifi, sehingga kesan sebagai bandara internasional agak tercoret karena hal ini (kayak Soeta ya hehehe..)

Kami langsung dijemput oleh perwakilan agency di Bangkok, namanya Ms. Pin, middle age about 50 I think, fat and slow, slownya mungkin karena dia sedang sakit kaki karena terjatuh beberapa hari sebelumnya. Kami langsung naik bis ke beberapa shop yang dinyatakan wajib dikunjungi turis oleh pemerintah. Kunjungan pertama ke jewelery shop, berbagai perhiasan dari perak, emas dan berlian ada di display dengan harga yang juga beraneka ragam tentunya. Tapi pastilah bukan ini tujuan ke Thailand, buatku. Kunjungan selanjutnya ke Honey Shop. Mereka jual madu seperti yang dijual MLM di Indonesia, aku sih tidak terpikat tapi semua yang ada di ruangan terpikat dan membeli madu2 itu..kalo cuma madu di Indonesia juga banyak. Lagipula ngapain beli produk UKM Bangkok, mending beli produk UKM Indonesia. Membantu rakyat sendiri hehehe...

Setelah itu kami ke hotel, hotelnya lumayan parah..bau aneh, kurang bersih, airnya kekuning-kuningan, dan yang paling kacau..ga ada wifi..mungkin ini hotel kelas mawar di Bangkok,ato malah kelas lumut hehehe...tapi anehnya ternyata banyak orang Indonesia yang nginep disitu, aku tau keesokan harinya. Setelah berbenah, mandi dan sholat, kami keluar untuk makan malam dan nonton Siam Niramit. Rupanya tiket yang dibeli sudah termasuk untuk dinner dan dinner yang dihidangkan pun nikmat. Dari segi rasa, penampilan, maupun materinya. Terbayar lah bayar mahal. Setelah makan baru kami duduk manis di semacam thatre gitu, untuk nonton Siam Niramit. Ini adalah art show yang sangat bagus, menceritakan kehidupan warga lokal Thailand berdasarkan wilayah tinggalnya. Yang tanahnya subur, bertani. Yang dekat pesisir, berlaut. Ada juga yang memang dasarnya petarung dan jadi tentara kerajaan. Ada pula yng berbaju adat seperti orang betawi. Sepertinya memang ada kedekatan budaya dengan Indonesia, mungkin dari jaman Majapahit dulu... Art show ini juga dilengkapi dengan tata panggung yang sangat detail dan sound system yang wah.. Mestinya dengan kekayaan cerita tradisional Indonesia, kita bisa bikin yang lebih bagus dari ini..apalagi kita punya seniman2 handal..mungkin hanya apresiasi masyarakat saja yang kurang yaa...

Hari kedua, kami kami ke berbagai macam kuil. Pertama ke kuil Budha Tidur. Perjalanan ke kuil ini melewati istana raja yang sederhana saja tapi sangat terawat. Langsung terbayang shops yang kemarin sempat kami kunjungi pasti untuk membiayai perawatan istana ini. Andai saja kraton Solo bisa terawat seperti ini, pasti sangat menarik dengan berbagai pagelaran dan benda kuno yang ada di dalamnya. Tidak ada yang istimewa dengan patung Budha tidur, menurutku, selain bahwa patung ini sangat besar dan berwarna kuning. Itu saja.. Lalu kami menyeberang sungai besar yang sangat bersih dan sama sekali tidak bau menuju kuil lainnya yang secara fisik hampir mirip Candi Prambanan. Tegak, tinggi, menjulang ke langit, dan berkesan angkuh seolah menantang untuk mencapai puncaknya dan turun kembali ke daratan tempatnya berpijak. Sayang tidak banyak waktu yang tersedia sehingga tantangan itu harus kuabaikan.

Di sisi lain kuil ini ada pasar tradisional. Banyak penjualnya yang berbahasa Indonesia, mungkin karena banyaknya pengunjung dari Indonesia yaaaa hehehehe.. Lalu kami kembali menyeberang sungai dan menuju mobil untuk ke Jatujak, ini adalah semacam pasar harian yang hanya berdagang hari Sabtu dan Minggu saja. Pasar ini tutup pukul 17.00 sehingga kami hanya punya waktu terbatas untuk berbelanja di pasar ini. Lumayan juga dagangannya..cukup murah kalo diconvert ke mata uang Rupiah. Segala macam barang ada disini, baju, tas, souvenir, makanan, minuman, sarung bantal, gordyn, bahkan binatang hehehe...

Dari Jatujak, tanpa mandi dulu, kami langsung ke restoran terbesar di dunia versi Guinness World of Record. Memang besar sih dari segi panjang x lebar, ada juga pertunjukan terbang sambil bawa cahaya dengan pakaian ala drakula China, tapi jangan tanya soal taste yaaa...begitu lewat kitchen-nya, sudah berasa eneg n pengin muntah, trus hidangannya juga sama sekali ga enak, ga ada rasa bawang, garam, lada..bener2 tawar dan masih tercium bau amis. Jadi jangan harap bisa makan nikmat disini. Aku sih sama sekali ga bisa masuk itu masakan, it tasted disgusting..  

Dari sini, semua orang di bis melanjutkan acara nonton tiger show, semacam debus tapi tanpa baju. Aku memilih tinggal di bis, well..aku harus menjaga jilbab yang kukenakan di kepalaku kan..? Meskipun Ms. Pin bilang banyak yang lepas jilbab demi nonton orang telanjang, I said no, thanks. No chance aku lepas jilbab di depan orang banyak, orang lain bisa dibohongi, tapi diriku sendiri & Allah? This might be godless land buat mereka, but for me Allah is everywhere, even in me. Lagipula jelas bukan Niken kalo sekadar ikut2an orang lain, apalagi untuk hal ga penting dan jelas diharamkan Zat Penciptaku, Sesembahanku. The show should be an hour, but they returned before 30mnts. Takut digrebek katanya... So don't ask me about the show, I didn't know at all, and never wanna know :)

Besoknya kami kembali ke tanah air, sekali lagi transit di KL Airport dimana kami menyempatkan diri untuk belanja. Aku sekedar beli coklat untuk oleh2. Tapi ada juga yang beli minuman keras. Silakan aja sih...none of my business. Ada juga yang mau pinjem passport-ku untuk beli miras, ya maaf..itu sama saja tolong menolong dalam perbuatan mudharat, dilarang agama. Hanya karena kita jalan2 keluar negeri, bukan berarti ga punya prinsip kaaaaan....amar ma'ruf nahi munkar harus tetap bergema dalam jiwa, ga mau cuma jadi beo yang ikut2an, hidup harus punya prinsip, meski kadang prinsip itu sangat mahal harganya.


Thursday, November 29, 2012

ABOUT MARRIAGE, SEX LIFE, AND FAMILY

Jakarta, 29 November 2012

 

Aku dan suamiku sudah menikah selama 4 tahun. Kami mengawali pernikahan kami dengan niatan untuk menyempurnakan ibadah. Diawali dengan sebuah perkenalan melalui saudara iparku, kemudian kami berkomunikasi melalui pesan singkat, saling melihat diri di Friendster, kemudian bertemu di acara pernikahan seorang sahabat. Kemudian dia mengunjungi rumahku untuk bertemu kedua orang tuaku dan langsung menyampaikan niatnya untuk meminangku. Klasik saja, orang tuaku menyerahkan semua padaku dan aku minta waktu untuk memikirkan pinangannya.

Tapi dua minggu kemudian keluarganya berkunjung ke rumahku untuk sekedar bersilaturahmi, lalu dilanjutkan dengan kunjungan kedua untuk memintaku jadi istrinya. Dan semua berlanjut dengan lancar tanpa rintangan dimana dia melamarku lalu seluruh prosesi pernikahan dilaksanakan. Mulai dari acara kumbokarno (pembentukan panitia pernikahan), pengajian beberapa hari sebelum menikah, lamaran sambil membawa srah-srahan, akad nikah dan resepsi pada hari Minggu, 21 Desember 2012.

Esok harinya kami berangkat ke Pulau Bali untuk berbulan madu selama 5 hari. Bulan madu yang sangat menyenangkan. Pulau Bali pun kami jelajahi dari dataran rendahnya hingga ke dataran tingginya. Dari tempat yang paling panas hingga yang paling dingin. Pulau Bali memang tempat indah para dewa-dewi dimana berjuta insan memadu cinta dan kasih sayang disana. Kami sangat menikmati hijaunya Pulau Bali lengkap dengan berbagai karya seni yang menghiasinya. Secara travelling, bulan madu ini sangat berhasil. Tapi secara ‘bulan madu’, boleh dikata kurang berhasil karena kami selalu gagal untuk menjajaki surga dunia itu. Mungkin karena aku yang belum siap secara psikologis sehingga merasa ketakutan akan rasa sakit yang ditimbulkan untuk menuju gerbang surga dunia itu. Atau mungkin memang benar-benar harus sakit dulu sebelum merasakan kenikmatan. No pain no gain hehehe…

Tapi di hari kelima, sehari sebelum kami kembali ke Solo, kami berhasil menjalankan tugas mulia tersebut. Rupanya, sex merupakan hal penting dalam sebuah perkawinan. Karena kegiatan itulah yang benar-benar menjadikan dua insan yang saling asing untuk benar-benar menyatu. Tak ada lagi batas, tabir, rahasia, maupun malu, dan jaim. Sex memegang peranan penting dalam pernikahan. Sex adalah sebuah aktivitas yang menuntut komunikasi dan saling pengertian, sex jugalah yang mendekatkan suami istri dan akhirnya menyatukan keduanya hingga tak ada lagi jarak diantara keduanya.  Tapi antusiasme sex yang menggebu-gebu memang hanya terjadi di awal pernikahan, mungkin karena itulah sebabnya orang bilang bahwa sex bukanlah segalanya dalam pernikahan, meskipun berperan penting.

Karena yang terjadi selanjutnya dalam pernikahan adalah lebih pada tanggung jawab; pemenuhan hak dan kewajiban dimana hak istri adalah kewajiban suami dan hak suami adalah kewajiban istri; komunikasi yang lancar dan intensif antara kedua belah pihak; bukan hanya secara verbal tapi juga secara non-verbal, seperti memahami sinyal-sinyal, gejala, dan indikasi yang tersirat; serta saling pengertian antara kedua belah pihak; dan tentu saja mau mengalah.

Ketika pernikahan hanya melibatkan suami dan istri, segalanya masih terasa mudah untuk dijalani, ringan. Namun pernikahan tidak hanya antara suami dan istri, karena sejatinya pernikahan adalah melibatkan keluarga kedua belah pihak. Istri masuk dalam keluarga suami, dan suami masuk dalam keluarga istri. Disini lebih dibutuhkan pemahaman, karena ketika satu individu kecil memasuki institusi yang lebih besar, tentu menginginkan penerimaan dari institusi yang lebih besar itu. Dan penerimaan ini hanya bisa terjadi ketika individu tersebut bisa memahami kultur dan kebiasaan serta norma yang berlaku dalam institusi itu. Berat sebelah? Memang! Karena dimana-mana yang dituntut untuk beradaptasi adalah kelompok yang lebih kecil terhadap kelompok yang lebih besar. Itulah sebabnya ketika berbicara mengenai survival for the fittest pasti bicara tentang individu, dan kunci untuk hal ini adalah adaptasi. Habislah individu yang tidak bisa beradaptasi, perlahan tapi pasti kehancuran masing-masing individu akan membawa pada kepunahan kelompoknya, karena tak ada yang bisa hidup sendiri tanpa kelompoknya. Dan pada saat individu masuk dalam institusi yang lebih besar ini, keluarga, beberapa gesekan bisa terjadi. Entah karena salah paham, mis komunikasi, atau memang issue yang sensitive.

Hal ini terjadi padaku. Di awal pernikahan segalanya baik-baik saja. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Dan hidup seperti sebuah paket. Lahir, tumbuh, remaja, dewasa, lulus, bekerja, menikah, punya anak… paket yang terakhir gagal terkirim sepertinya. Sehingga semua orang mulai membunyikan alarm, seolah-olah bahaya besar sedang terjadi, like a disaster that will cause someone deceased. Berawal dari pertanyaan, orang mulai bertanya apakah aku sudah hamil, seolah-olah hamil adalah hak-ku, bukan hak ilahi. Yaaa…ternyata hamil adalah hak ilahi, terserah Dia dengan semua hak prerogatifnya terhadap semesta alam, termasuk aku yang hanya partikel kecil di alam raya ini. Lalu berlanjut dengan desakan, kenapa aku ga segera hamil, apakah sengaja ditunda atau memang belum hamil. Jujur..aku tidak pernah menunda apapun, aku selalu ngeflow dengan jalannya hidupku, dan saat ini flow hidupku seperti ini, didesak untuk mendapatkan paket yang memang belum terkirim.

Periode selanjutnya lebih pada saran dan nasihat yang terkadang agak memaksa untuk berkunjung ke dokter ini dan itu, atau ke ahli alternative ini dan itu, atau konsumsi ini dan itu, jangan begini dan begitu, lakukan ini dan itu, tiresome.. Cause I did all those things they said! I read in papers, I’m not a dumb. Tapi ada yang lebih menyakitkan ketika tiba-tiba disodorkan obat mandul di depan mata, dear god atau holy shit..?! Entahlah..tapi aku mulai merasa how unfair life is. Nothing is easy on me. Why me, god. Dan semua cercaan serta makian entah pada siapa yang akhirnya aku tujukan pada my single deity. Ketika amarah menggelegak dan tak tahu kemana ditujukan, maka tuhan adalah sasaran terakhir yang paling baik. Dia toh tidak akan marah padaku, Dia tetap akan diam saja, seperti biasanya.

Lalu karena desakan yang bertubi, pikiran mulai kalut, emosi menguasai jiwa. Satu persatu desakan itupun kupenuhi. Satu persatu tempat dan tindakan rujukan kujalani. Dompet menipis, tabungan mengempis untuk sesuatu yang jua berhasil.

Bahkan secara psikologis kehidupan kami mulai terganggu. Suamiku yang berbadan sehat tanpa keluhan mulai merasa seperti orang sakit karena setiap minggu harus ke rumah sakit bertemu dengan lelaki berjubah putih yang meresepkan bermacam obat dan vitamin. Pikiranku pun mulai terkooptasi dengan agenda yang harus dijadwalkan. Jika sebelumnya sex adalah sesuatu yang menyenangkan, untuk melepas penat, stress, dan meraih kesenangan. Maka sex kami berubah menjadi sebuah beban berat yang terjadwal. Aku selalu menandai hari-hari dimana aku berovulasi dan menjaga sperma suamiku fit pada saat itu, lalu mengajaknya ke kamar untuk melakukan ‘kewajiban’ yang sangat berat. Yaaa…kewajiban sangat berat karena disana ada target untuk punya anak, untuk memenuhi harapan semua orang, untuk menyenangkan semua orang. Sedemikian beratnya aktivitas itu hingga kami pun tak mampu menjalaninya. Dan beban itupun semakin berat setiap harinya. Karena orang-orang tak henti bertanya mengenai bocah kecil yang seharusnya muncul sebagai hasil kerja keras kami. Dan semakin hari semakin sulit kehidupan sex yang harus kami jalani. Sex bukan lagi hal yang menyenangkan, tempat kami mengeksplorasi surga dunia. Tapi sex berubah menjadi monster yang menyeramkan dimana terdapat tuntutan dari semua orang yang harus dipenuhi.

Karena beratnya beban itu, maka kami pun mundur selangkah. Saat kami sudah berjalan di kilometer 7, kami memutuskan untuk kembali lagi ke kilometer 3. Menata ulang semua yang sudah kami susun. Sedikit menutup mata dan telinga serta tidak peduli dengan omongan orang. Mungkin kami adalah pasangan yang menyebalkan bagi orang-orang di sekeliling kami. Tapi kami lebih bahagia dengan hal yang kami kondisikan ini. Kami tidak bisa menyenangkan semua orang. Tapi setidaknya kami bisa saling membahagiakan satu sama lain. Bukankah pernikahan adalah untuk saling menjaga, melindungi, membahagiakan, dan mencari tempat yang menenangkan? Ketika pernikahan berubah menjadi makhluk tak terkendali yang siap menghancurkan kebahagiaan kami, maka sudah waktunya bagi kami untuk menata ulang semuanya. Menyingkirkan makhluk itu dan menyusun kembali prioritas yang kami impikan sejak awal.

Saat ini kami bahagia dengan apa yang kami miliki, lepas dari semua keriuhan dan tuntutan yang disampaikan orang-orang di sekeliling kami. Kami menikmati saat kami bangun pagi dan melihat satu sama lain masih bersama, bersisian di ranjang yang sama. Kami menikmati saat kami berangkat bermimpi dengan jemari tangan bertautan dan saling mengatakan “I love you”. Kami pun menikmati aktivitas penyatuan dua individu dengan penuh kebahagiaan untuk melepas segala penat tanpa beban yang harus dipanggul dan target yang harus dipenuhi.

Orang bilang anak adalah harta karun akhirat, yang akan menolong kita di akhirat dengan doa-doanya. Tapi bukankah anak lebih potensial untuk menjadi jembatan ke neraka? So what’s the point of rushing and pushing? Let it be, let it flow.   

AND THEY LIVE HAPPILY EVER AFTER…

Menikah dan menjadi seorang istri adalah kisah romantic yang selalu diidamkan oleh para gadis, sejak masih gadis kecil hingga menjadi gadis remaja lalu gadis dewasa. Menemukan sang pangeran berkuda putih dengan jubah megah dan pedang di tangan, seolah dialah yang akan selalu menjaga dan melindungi si gadis seperti sang ayah selalu menjaga dan melindunginya sejak masih bayi hingga beranjak dewasa lalu melepaskan menuju gerbang pernikahan.

Hidup bersama dengan sang pangeran bak kisah negeri dongeng yang dilimpahi hidup bahagia tanpa aral dan onak hingga maut memisahkan, seolah menjadi plot utama dalam kisah mimpi-mimpi para gadis yang hendak melepas masa lajangnya. Menghabiskan sisa hidup dengan pujaan hati, membesarkan anak-anak, lalu berlari dan bercanda dengan cucu-cucu. Gambaran yang sangat indah..

And they live happily ever after..benarkah?

Cukupkah dengan menikahi pria idaman lalu kita akan bahagia selamanya?

Cukupkah cinta saja sebagai bekal pernikahan kita?

Tidak.. TIDAK..

Pernikahan tidaklah sesimple yang ada di negeri dongeng, meskipun kita menikahi pria idaman kita tapi tetap tidak semudah itu untuk hidup bahagia selamanaya, walaupun kadar cinta kita 24 karat sekalipun. Karena dalam pernikahan terdapat bermacam-macam elemen yang harus dipenuhi. Cinta…ya..di awal-awal pernikahan cintalah yang membangkitkan hasrat untuk bersatu. Tapi selanjutnya diperlukan lebih banyak perhatian, kejujuran, komunikasi, dan tanggung jawab.

Pernikahan adalah sebuah proses penjajaran dua orang yang sangat berbeda agar bisa berjalan beriringan, sejalan dalam pikiran, harmonis dalam tindakan, tanpa ada paksaan ataupun dominasi satu atas yang lain. Pernikahan tidaklah sesimpel kisah negeri dongeng. Karena pernikahan realitas tidak cukup hanya melibatkan pria dan wanita, tapi juga pernikahan antara seorang pria dengan keluarga besar wanita, pernikahan wanita dengan keluarga besar pria, serta pernikahan antara keluarga besar itu sendiri. Pernikahan pun memerlukan pencukupan kebutuhan, fisik dan rohani.

Pun demikian halnya dengan kebahagiaan. Kebahagiaan adalah sebuah proses panjang tak berkesudahan. Sebuah proses untuk menjadi bahagia. Dan ini pun tidak mudah, karena bahagia tidaklah mutlah, sangat nisbi. Seorang anak kecil akan sangat bahagia hanya karena bolanya yang hilang ditemukan lagi. Tapi seorang perempuan bisa jadi justru lebih bahagia saat kehilangan kekasihnya, meskipun pada awalnya diwarnai kesedihan dan mungkin cucuran air mata.

Meraih kebahagiaan dalam pernikahan pun bukanlah tanpa effort. Diperlukan effort dari kedua belah pihak, pria dan wanita. Dituntut untuk bisa saling menempatkan diri dan mengalah. Rasanya tak heran mengapa dalam Islam dinyatakan bahwa menikah adalah sebagian dari ibadah. Karena disinilah manusia benar-benar dituntut untuk berusaha, bersabar, ikhlas; bukan sekedar teori tapi benar-benar harus menjalani. Melalui pernikahan pula, manusia harus bisa mengalahkan egonya sendiri sesuai ajaran berpuasa. Dalam pernikahan pula, manusia harus pandai-pandai mengatur emosi dan berhati-hati mengambil keputusan, karena sedikit saja salah melangkah akan menghancurkan segalanya. Sangat mudah untuk sekedar menikah, tapi mempertahankan pernikahan itulah yang membutuhkan semua potensi diri kita.
 
Terkadang, setelah menikah kita mendapati orang yang kita nikahi bukanlah orang yang kita pacari dahulu. Jika dulu semuanya serba menyenangkan, kini semuanya serba menuntut tanggung jawab. Sehingga perlahan-lahan pasangan kita, atau justru kita sendirilah, yang berubah karena besarnya tuntutan yang harus dipenuhi. Terkadang, salah satu tidak sanggup menerima perubahan itu, sehingga menyerah dan memutuskan untuk berhenti. Namun sekali lagi, usaha terbesar yang harus diberikan adalah mempertahankan pernikahan itu. Kita bisa menikah sejuta kali dalam hidup ini. Tapi pernikahan sekali seumur hidup itulah yang dihargai dengan logam dan batu mulia.   

Friday, February 17, 2012

PAK TUA PENGATUR JALAN

PAK TUA PENGATUR JALAN      
Jakarta, 13 February 2012

Berkendara membelah lautan kendaraan di pagi hari jalanan Casablanca menuju ke tempat mengais rejeki adalah rutinitas bagi sebagian besar penduduk kota Jakarta. Di saat udara masih dingin dan sinar mentari masih redup, tatkala menarik selimut di atas kasur adalah kenikmatan yang luar biasa, dan membasahi tubuh dengan air dingin adalah sebuah kemalasan luar biasa; kami justru meyiramkan air dingin itu ke tubuh kami, bergegas mengenakan baju, dan segera turut melaju dalam deraman kendaraan dan asap knalpot yang tak pandang bulu siapa yang diterpa.  

Memacu kendaraan dalam bungkusan jaket agar tetap hangat, meliuk-liuk di antara ribuan kendaraan lainnya yang berlomba menuju tempat bekerja masing-masing sambil menikmati tamparan angin yang marah karena terganggu langkah sepoinya. Di antara langkah mantap bis-bis besar, gerak lamban mobil-mobil pribadi, dan kayuhan pedal sepeda di tepi jalan, aku dan suamiku berzig-zag mencari jalan untuk kendaraan kami menuju kawasan senayan.

Padatnya jalan Casablanca setiap pagi, siang, sore, dan malam tanpa mengenal hari libur maupun hari kerja tak sedikit pun meyurutkan langkah kami tuk menyibak keramaiannya. Inilah ikhtiar untuk mencari rizqi penyambung hidup kami. Meski seringkali tehalang mobil pribadi yang ditumpangi satu orang saja, maupun angkot yang berhenti seenaknya, kami tetap berlalu menuju kantor kami.

Tak terasa ujung kemacetan hampir berakhir. Sebentar lagi kami harus berbelok kiri ke jalan kampong di dekat Pasar Karet Belakang, sekedar sedikit menikmati jalanan yang lengang meski berliku-liku. Tapi lumayan untuk mencicipi udara yang lebih bersih dan bebas dari aroma pekat dan pedih knalpot. 

Di ujung belokan jalan, di belakang Plaza Semanggi, selalu kulihat seorang bapak tua berkaus pink pudar dan celana hitam kusam berusaha mengatur jalannya lalu lintas agar para pengendara tidak bersenggolan karena tikungan tajam tertutup tembok. Dengan berdiri di atas kaki lemahnya, sambil sesekali berjalan gontai dia melambai-lambaikan tangannya menata arus pemakai jalan. Wajahnya tua dengan pipi yang kempot dan gigi yang sudah tanggal pula, tubuhnya kurus dan telihat lemah di atas kaki yang juga tak lagi tampak kuat menopangnya. Tapi niatnya untuk mengatur arus jalan kelihatan masih cukup kuat untuk menegakkan tubuh tua itu. Terkadang dia mengangkat tangannya agar mobil dari arah berlawanan dengan ku berhenti dulu hingga kami semua lewat, baru dia menurunkan tangannya sambil memberi aba-aba agar mobil itu lewat. Jalanan yang tidak terlalu besar ini memang memungkinkan terjadinya singgungan jika semua harus lewat bersamaan di pengkolan jalan itu.

Aku menengok wajah tirusnya, bola matanya tak mampu menutupi kenyataan bahwa dia sudah sangat tua, meski masih berdiri di atas kedua kaki kurus itu. Mata itu berwarna coklat pudar. Kulit keriput di sekeliling mata itupun tampak sudah sangat uzur. 

Dan aku pun bertanya-tanya, apakah dia seorang diri didunia ini? Tidak adakah anak-anak yang menyantuninya agar dia bisa menikmati hari tuanya bersama cucu-cucu? Ataukah dia sebegitu bersemangat untuk membiayai hidupnya sendiri agar tidak membebani anak cucunya?

Beberapa motor dan mobil melewatinya begitu saja. Tak terlihat ada tangan yang melebar sekedar untuk menebar sedikit rizqi untuk pak tua itu. Mungkin dia ikhlas mengatur jalan ini, tapi apa salahnya jika sedikit berbagi sekedar untuk dia beli makanan atau baju dinas gantinya. Toh tak kan jadi miskin juga mereka dengan sedikit berbagi pada orang lain. Bukankah menjadi tanggung jawab kita juga sebagai sesama manusia untuk membagikan rizqi dari Allah? Bukankah dalam setiap receh rizqi kita, Allah menitipkan hak orang-orang yang renta dan papa seperti pak tua pengatur jalan itu?

Melihat wajah tuanya, terbayang wajah bapak di kampong. Nun jauh di pinggiran kota solo sana. Meski bapak masih gagah dan bisa mengendarai mobil maupun motor, tapi sedih rasanya membayangkan jika bapakku harus seperti pak tua itu. Tak terperi pedihnya hati ini jika sampai bapak yang sudah bersusah payah sepanjang hidupnya hingga aku dewasa, masih pula harus berdiri di jalanan di atas kaki rapuhnya sekedar untuk menopang hidupnya. Tak tega bahkan hanya sekedar untuk membayangkannya. Pilu hatiku... Tak terasa butiran air hangat merembes keluar dari mataku dan membasahi pipiku. 

Ya Allah, jika masih ada usiaku, perkenankan aku untuk merawat kedua orang tuaku. Ijinkan aku untuk sekedar berbagi rizqi dan kebahagiaan dengan kedua orang tuaku. Jangan biarkan orang tuaku seperti pak tua pengatur jalan itu. Ampuni mereka, lindungi mereka dan limpahilah kebahagiaan di penghujung usia mereka. Ijinkanlah segaris senyuman selalu menghiasi wajah mereka setiap waktu.