Friday, February 17, 2012

PAK TUA PENGATUR JALAN

PAK TUA PENGATUR JALAN      
Jakarta, 13 February 2012

Berkendara membelah lautan kendaraan di pagi hari jalanan Casablanca menuju ke tempat mengais rejeki adalah rutinitas bagi sebagian besar penduduk kota Jakarta. Di saat udara masih dingin dan sinar mentari masih redup, tatkala menarik selimut di atas kasur adalah kenikmatan yang luar biasa, dan membasahi tubuh dengan air dingin adalah sebuah kemalasan luar biasa; kami justru meyiramkan air dingin itu ke tubuh kami, bergegas mengenakan baju, dan segera turut melaju dalam deraman kendaraan dan asap knalpot yang tak pandang bulu siapa yang diterpa.  

Memacu kendaraan dalam bungkusan jaket agar tetap hangat, meliuk-liuk di antara ribuan kendaraan lainnya yang berlomba menuju tempat bekerja masing-masing sambil menikmati tamparan angin yang marah karena terganggu langkah sepoinya. Di antara langkah mantap bis-bis besar, gerak lamban mobil-mobil pribadi, dan kayuhan pedal sepeda di tepi jalan, aku dan suamiku berzig-zag mencari jalan untuk kendaraan kami menuju kawasan senayan.

Padatnya jalan Casablanca setiap pagi, siang, sore, dan malam tanpa mengenal hari libur maupun hari kerja tak sedikit pun meyurutkan langkah kami tuk menyibak keramaiannya. Inilah ikhtiar untuk mencari rizqi penyambung hidup kami. Meski seringkali tehalang mobil pribadi yang ditumpangi satu orang saja, maupun angkot yang berhenti seenaknya, kami tetap berlalu menuju kantor kami.

Tak terasa ujung kemacetan hampir berakhir. Sebentar lagi kami harus berbelok kiri ke jalan kampong di dekat Pasar Karet Belakang, sekedar sedikit menikmati jalanan yang lengang meski berliku-liku. Tapi lumayan untuk mencicipi udara yang lebih bersih dan bebas dari aroma pekat dan pedih knalpot. 

Di ujung belokan jalan, di belakang Plaza Semanggi, selalu kulihat seorang bapak tua berkaus pink pudar dan celana hitam kusam berusaha mengatur jalannya lalu lintas agar para pengendara tidak bersenggolan karena tikungan tajam tertutup tembok. Dengan berdiri di atas kaki lemahnya, sambil sesekali berjalan gontai dia melambai-lambaikan tangannya menata arus pemakai jalan. Wajahnya tua dengan pipi yang kempot dan gigi yang sudah tanggal pula, tubuhnya kurus dan telihat lemah di atas kaki yang juga tak lagi tampak kuat menopangnya. Tapi niatnya untuk mengatur arus jalan kelihatan masih cukup kuat untuk menegakkan tubuh tua itu. Terkadang dia mengangkat tangannya agar mobil dari arah berlawanan dengan ku berhenti dulu hingga kami semua lewat, baru dia menurunkan tangannya sambil memberi aba-aba agar mobil itu lewat. Jalanan yang tidak terlalu besar ini memang memungkinkan terjadinya singgungan jika semua harus lewat bersamaan di pengkolan jalan itu.

Aku menengok wajah tirusnya, bola matanya tak mampu menutupi kenyataan bahwa dia sudah sangat tua, meski masih berdiri di atas kedua kaki kurus itu. Mata itu berwarna coklat pudar. Kulit keriput di sekeliling mata itupun tampak sudah sangat uzur. 

Dan aku pun bertanya-tanya, apakah dia seorang diri didunia ini? Tidak adakah anak-anak yang menyantuninya agar dia bisa menikmati hari tuanya bersama cucu-cucu? Ataukah dia sebegitu bersemangat untuk membiayai hidupnya sendiri agar tidak membebani anak cucunya?

Beberapa motor dan mobil melewatinya begitu saja. Tak terlihat ada tangan yang melebar sekedar untuk menebar sedikit rizqi untuk pak tua itu. Mungkin dia ikhlas mengatur jalan ini, tapi apa salahnya jika sedikit berbagi sekedar untuk dia beli makanan atau baju dinas gantinya. Toh tak kan jadi miskin juga mereka dengan sedikit berbagi pada orang lain. Bukankah menjadi tanggung jawab kita juga sebagai sesama manusia untuk membagikan rizqi dari Allah? Bukankah dalam setiap receh rizqi kita, Allah menitipkan hak orang-orang yang renta dan papa seperti pak tua pengatur jalan itu?

Melihat wajah tuanya, terbayang wajah bapak di kampong. Nun jauh di pinggiran kota solo sana. Meski bapak masih gagah dan bisa mengendarai mobil maupun motor, tapi sedih rasanya membayangkan jika bapakku harus seperti pak tua itu. Tak terperi pedihnya hati ini jika sampai bapak yang sudah bersusah payah sepanjang hidupnya hingga aku dewasa, masih pula harus berdiri di jalanan di atas kaki rapuhnya sekedar untuk menopang hidupnya. Tak tega bahkan hanya sekedar untuk membayangkannya. Pilu hatiku... Tak terasa butiran air hangat merembes keluar dari mataku dan membasahi pipiku. 

Ya Allah, jika masih ada usiaku, perkenankan aku untuk merawat kedua orang tuaku. Ijinkan aku untuk sekedar berbagi rizqi dan kebahagiaan dengan kedua orang tuaku. Jangan biarkan orang tuaku seperti pak tua pengatur jalan itu. Ampuni mereka, lindungi mereka dan limpahilah kebahagiaan di penghujung usia mereka. Ijinkanlah segaris senyuman selalu menghiasi wajah mereka setiap waktu. 

Friday, February 10, 2012

On Becoming A ............

ON BECOMING A ………
Jakarta, 10 January 2012

To be or not to be, that’s the question. 

This most famous quotation from Shakespeare in Hamlet is exactly like what I have to face now. It is about whether I’m going to move on or stick on what I am now. There are certain positive and negative points in each. And it’s like doing a business mapping for me. Once I draw the line in a wrong way, then I make the whole picture wrong.

I was doing great things in my previous position so that I can maximize my potential. With all of those great things I’ve done I was very certain that I would pass the assessment test for promotion even if I wasn’t prepared at all. Besides, the chance to be promoted was much bigger as I was two levels below my direct supervisor. On the contrary to my current condition that the chance was much smaller as my boss is only one level above me and I have to start it all over again, back to zero in here. Even if I have well-prepared, I might not pass the assessment test done to me.

So it is now the time for the huge question. Moving on or sticking on it.

Moving on means going out and move to another atmosphere with several possibilities that I have to predict to anticipate every circumstance incurs. Sticking on it means accepting what is pushed to me to take and I hate this kind of condition.

Moving on is another adaptation phase that I have to face. It means new environment with all brand new tasks and fresh faces to deal with. I know I was good in adaptation, staying quiet for a while to learn my circumstances then get into it, that’s my secret recipe. However, I may also fail in this process, though never before, but I have to consider every possibility that may incur. I may also have new friends, new network, learning new skill and competence, and new income either higher or lower. It may be a very challenging and competitive hemisphere for me.

While sticking on it is like becoming a fatalist for me. I hate to accept what was pushed to me. I hate to be a loser. I never want to be a champion, I just want to fight for my better life and provide a better condition for others after I fought. That’s how I live my life so far and God’s with me. However, it may be the safest condition for me. I got enough money here, good coverage too, people say what else do I need financially instead of gambling with my unknown future out there
So…to be or not to be, that’s the question.

Moving on means going out of my comfort zone. And sticking on means staying financially safe. The first one is like becoming a gambler while the second one is like becoming what most people are. So, am I a gambler? Nope! But I’m not a fatalist either. If becoming an idealist is this expensive, then I’ll take it. You cannot get a shark with a worm; you need salmon to get a shark.

To be or not to be, so..let’s be it!

A New Phase in Me

A NEW PHASE IN ME
Jakarta, 9 Januari 2012 

Setiap kolam punya jenis ikannya sendiri. Walaupun jenisnya mungkin sama, namun selalu ada ciri khusus dari ikan di kolam yang sama. Mungkin dari gaya berenangnya, gaya sembunyinya, gaya makannya; tapi ada ciri khusus dari masing-masing kolam.
Pun demikian dengan bekerja. Budaya kerja di masing-masing kantor pastilah berbeda. Ada yang sangat disiplin dengan waktu sehingga jam datang dan jam pulang, exactly on time. Asumsi yang dipakai adalah efektivitas jam kerja 8 jam sehari, sehingga tidak perlu timbul biaya tambahan karena lembur, baik untuk bayar lembur pekerja maupun biaya yang timbul akibat perpanjangan jam kerja seperti listrik. Ada pula yang cukup lentur dengan 8 jam sehari itu, yang penting bekerja selama 8 jam, kalau datang terlambat maka pulang juga harus dikompensasikan dengan keterlambatan tersebut sehingga total waktu kerja benar-benar 8 jam sehari. Namun, ada pula yang jam kerjanya tidak tertentu, bisa jadi datang pagi dan pulang malam dengan parameter semua assignment harus selesai dikerjakan pada hari yang sama.
Perbedaan budaya dalam hal jam kerja ini tentunya merupakan keragaman budaya kerja yang mewarnai keseharian para pekerja. Akan ada sedikit cultural shock ketika seorang pekerja dengan typical gaya kerja pertama harus mengikuti kolam ketiga, pekerja kolam kedua mengikuti kolam pertama, dan pekerja kolam pertama dan kedua mengikuti kolam ketiga. Terjadinya cultural shock ini dapat diatasi dengan proses adaptasi dari masing-masing pekerja atau dengan mengadaptasi kolam barunya dengan si pekerja. Tentu lebih mudah jika satu orang yang berubah mengikuti lingkungannya, tanpa ada dampak tertentu bagi lingkungan itu pula. Namun bukan mustahil juga bila satu orang bisa merubah lingkungannya jika dia berada di posisi yang tepat dengan argumentasi yang tepat pula. Memang satu sendok teh garam tidak bisa mengasinkan seluruh kolam, tapi ketika sendok yang digunakan sebesar sekop maka bisa jadi kolam tersebut akan menjadi asin mengikuti perubahan yang dimasukkan dalam kolam.
Efek yang timbul akan cukup radikal jika lingkungan yang berubah mengikuti perseorangan, mungkin terjadi ketidakseimbangan lingkungan dengan adanya pertentangan dari berbagai pihak, baik secara lunak maupun tentangan yang frontal. Setiap perubahan menuntut konsekuensi logis yang bisa jadi berupa pengorbanan.
Jenis pengorbanan ini bisa datang dari siapapun, termasuk dari si pembawa perubahan itu sendiri atau justru dari penghuni lingkungan yang berubah. Apapun konsekuensinya, setiap kemungkinan harus dipertimbangkan masak-masak untuk meminimalisir resiko yang mungkin timbul. Karena tidak ada perusahaan manapun yang ingin namanya tercemar karena berita yang kurang sedap. Setiap perusahaan mengharapkan perubahan seradikal apapun, dapat diterima dengan baik dan tidak menimbulkan gejolak apalagi hingga diluar perusahaan. Perubahan boleh terjadi namun image harus tetap dijaga, itu resep setiap perusahaan.
Lalu bagaimana caranya agar perubahan itu tidak menimbulkan gejolak di kemudian hari?
Sosialisasi memegang peranan penting dalam hal ini. Jika rencana perubahan itu disosialisasikan dengan tepat maka para pihak dapat mengantisipasi efek-efek yang mungkin timbul. Mereka dapat memperhitungkan kemungkinan yang bisa terjadi dan cara antisipasi tepat untuk setiap prediksi kemungkinan tersebut.
Komunikasi juga merupakan kunci penting lainnya. Ketika sosialisasi disampaikan dengan cara berkomunikasi yang baik maka akan mampu meredam gejolak yang mungkin timbul. Tapi ketika sosialisasi  disampaikan dengan cara berkomunikasi yang kurang baik, maka akan memancing gejolak yang seharusnya dapat diredam.
Beberapa agen pembawa perubahan memiliki kemampuan komunikasi yang sangat memadai untuk menyampaikan perubahan ini, sehingga para pihak dapat menerima terjadinya perubahan dengan legowo. Namun ketika pembawa perubahan mengkomunikasikan misinya dengan cara yang salah, entah gaya penyampaiannya atau pilihan bahasanya, maka disitulah akan terjadi miskomunikasi yang bisa menimbulkan bencana berkepanjangan.
Dimulai dari bisik-bisik ketidakpuasan, pengaduan pada system yang lebih tinggi, gejolak pemberontakan, hingga perlawanan itu sendiri, yang pada akhirnya hanya akan merugikan salah satu pihak, karena pada kenyataannya jika berhubungan dengan organisasi modal maka tidak akan ada diskusi yang memberikan kemenangan bagi para pihak. Selalu harus ada yang dikorbankan dan harus ada yang dijaga kehormatannya, dan atas nama kehormatan yang lebih kuasa maka yang lemah harus dikalahkan dan mengalah. Disinilah timbul korban, yang semestinya tidak perlu terjadi jika perubahan tersebut disosialisasikan dengan cara berkomunikasi yang memadai, tanpa merendahkan yang lain ataupun meninggikan yang lainnya lagi.
Karena ketika yang terjadi adalah perendahan terhadap yang lain, penistaan pada yang lemah, pengorbanan pada yang kalah maka sumpah serapah atas luka yang timbul akan terlontar dan pada akhirnya hukum alam berjalan dengan teori kekekalan energy-nya, bahwa energy tidak pernah hilang, energy hanya berpindah dan berubah bentuk, dan akhirnya akan kembali pada si empunya energy itu sendiri. Kebaikan yang dilepaskan akan kembali padanya menjadi kebaikan. Keburukan yang dilepaskan akan kembali padanya menjadi keburukan.
Maka dari itu, berhati-hatilah ketika berada pada posisi sebagai pembawa perubahan, pengambil kebijakan, pembuat keputusan yang tindakannya dapat merubah kehidupan orang lain. Pertimbangkan setiap tindakan dan ucapan dengan bijak, hadapi setiap konsekuensi dengan gagah, jangan pernah melempar tanggung jawab pada orang lain yang mungkin justru tidak terakses oleh orang-orang yang secara tidak langsung nasibnya ada di tangan anda. Pelajari setiap kondisi dan situasi yang terpetakan agar tidak menjadi boomerang bagi diri anda sendiri. Karena hidup yang berarti adalah memberi makna bagi orang lain, bukan menghancurkan kehidupan orang lain. Sekali anda meghancurkan kehidupan orang lain, anda harus bertanggung jawab seumur hidup di dunia dan di akhirat.