Thursday, November 29, 2012

ABOUT MARRIAGE, SEX LIFE, AND FAMILY

Jakarta, 29 November 2012

 

Aku dan suamiku sudah menikah selama 4 tahun. Kami mengawali pernikahan kami dengan niatan untuk menyempurnakan ibadah. Diawali dengan sebuah perkenalan melalui saudara iparku, kemudian kami berkomunikasi melalui pesan singkat, saling melihat diri di Friendster, kemudian bertemu di acara pernikahan seorang sahabat. Kemudian dia mengunjungi rumahku untuk bertemu kedua orang tuaku dan langsung menyampaikan niatnya untuk meminangku. Klasik saja, orang tuaku menyerahkan semua padaku dan aku minta waktu untuk memikirkan pinangannya.

Tapi dua minggu kemudian keluarganya berkunjung ke rumahku untuk sekedar bersilaturahmi, lalu dilanjutkan dengan kunjungan kedua untuk memintaku jadi istrinya. Dan semua berlanjut dengan lancar tanpa rintangan dimana dia melamarku lalu seluruh prosesi pernikahan dilaksanakan. Mulai dari acara kumbokarno (pembentukan panitia pernikahan), pengajian beberapa hari sebelum menikah, lamaran sambil membawa srah-srahan, akad nikah dan resepsi pada hari Minggu, 21 Desember 2012.

Esok harinya kami berangkat ke Pulau Bali untuk berbulan madu selama 5 hari. Bulan madu yang sangat menyenangkan. Pulau Bali pun kami jelajahi dari dataran rendahnya hingga ke dataran tingginya. Dari tempat yang paling panas hingga yang paling dingin. Pulau Bali memang tempat indah para dewa-dewi dimana berjuta insan memadu cinta dan kasih sayang disana. Kami sangat menikmati hijaunya Pulau Bali lengkap dengan berbagai karya seni yang menghiasinya. Secara travelling, bulan madu ini sangat berhasil. Tapi secara ‘bulan madu’, boleh dikata kurang berhasil karena kami selalu gagal untuk menjajaki surga dunia itu. Mungkin karena aku yang belum siap secara psikologis sehingga merasa ketakutan akan rasa sakit yang ditimbulkan untuk menuju gerbang surga dunia itu. Atau mungkin memang benar-benar harus sakit dulu sebelum merasakan kenikmatan. No pain no gain hehehe…

Tapi di hari kelima, sehari sebelum kami kembali ke Solo, kami berhasil menjalankan tugas mulia tersebut. Rupanya, sex merupakan hal penting dalam sebuah perkawinan. Karena kegiatan itulah yang benar-benar menjadikan dua insan yang saling asing untuk benar-benar menyatu. Tak ada lagi batas, tabir, rahasia, maupun malu, dan jaim. Sex memegang peranan penting dalam pernikahan. Sex adalah sebuah aktivitas yang menuntut komunikasi dan saling pengertian, sex jugalah yang mendekatkan suami istri dan akhirnya menyatukan keduanya hingga tak ada lagi jarak diantara keduanya.  Tapi antusiasme sex yang menggebu-gebu memang hanya terjadi di awal pernikahan, mungkin karena itulah sebabnya orang bilang bahwa sex bukanlah segalanya dalam pernikahan, meskipun berperan penting.

Karena yang terjadi selanjutnya dalam pernikahan adalah lebih pada tanggung jawab; pemenuhan hak dan kewajiban dimana hak istri adalah kewajiban suami dan hak suami adalah kewajiban istri; komunikasi yang lancar dan intensif antara kedua belah pihak; bukan hanya secara verbal tapi juga secara non-verbal, seperti memahami sinyal-sinyal, gejala, dan indikasi yang tersirat; serta saling pengertian antara kedua belah pihak; dan tentu saja mau mengalah.

Ketika pernikahan hanya melibatkan suami dan istri, segalanya masih terasa mudah untuk dijalani, ringan. Namun pernikahan tidak hanya antara suami dan istri, karena sejatinya pernikahan adalah melibatkan keluarga kedua belah pihak. Istri masuk dalam keluarga suami, dan suami masuk dalam keluarga istri. Disini lebih dibutuhkan pemahaman, karena ketika satu individu kecil memasuki institusi yang lebih besar, tentu menginginkan penerimaan dari institusi yang lebih besar itu. Dan penerimaan ini hanya bisa terjadi ketika individu tersebut bisa memahami kultur dan kebiasaan serta norma yang berlaku dalam institusi itu. Berat sebelah? Memang! Karena dimana-mana yang dituntut untuk beradaptasi adalah kelompok yang lebih kecil terhadap kelompok yang lebih besar. Itulah sebabnya ketika berbicara mengenai survival for the fittest pasti bicara tentang individu, dan kunci untuk hal ini adalah adaptasi. Habislah individu yang tidak bisa beradaptasi, perlahan tapi pasti kehancuran masing-masing individu akan membawa pada kepunahan kelompoknya, karena tak ada yang bisa hidup sendiri tanpa kelompoknya. Dan pada saat individu masuk dalam institusi yang lebih besar ini, keluarga, beberapa gesekan bisa terjadi. Entah karena salah paham, mis komunikasi, atau memang issue yang sensitive.

Hal ini terjadi padaku. Di awal pernikahan segalanya baik-baik saja. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Dan hidup seperti sebuah paket. Lahir, tumbuh, remaja, dewasa, lulus, bekerja, menikah, punya anak… paket yang terakhir gagal terkirim sepertinya. Sehingga semua orang mulai membunyikan alarm, seolah-olah bahaya besar sedang terjadi, like a disaster that will cause someone deceased. Berawal dari pertanyaan, orang mulai bertanya apakah aku sudah hamil, seolah-olah hamil adalah hak-ku, bukan hak ilahi. Yaaa…ternyata hamil adalah hak ilahi, terserah Dia dengan semua hak prerogatifnya terhadap semesta alam, termasuk aku yang hanya partikel kecil di alam raya ini. Lalu berlanjut dengan desakan, kenapa aku ga segera hamil, apakah sengaja ditunda atau memang belum hamil. Jujur..aku tidak pernah menunda apapun, aku selalu ngeflow dengan jalannya hidupku, dan saat ini flow hidupku seperti ini, didesak untuk mendapatkan paket yang memang belum terkirim.

Periode selanjutnya lebih pada saran dan nasihat yang terkadang agak memaksa untuk berkunjung ke dokter ini dan itu, atau ke ahli alternative ini dan itu, atau konsumsi ini dan itu, jangan begini dan begitu, lakukan ini dan itu, tiresome.. Cause I did all those things they said! I read in papers, I’m not a dumb. Tapi ada yang lebih menyakitkan ketika tiba-tiba disodorkan obat mandul di depan mata, dear god atau holy shit..?! Entahlah..tapi aku mulai merasa how unfair life is. Nothing is easy on me. Why me, god. Dan semua cercaan serta makian entah pada siapa yang akhirnya aku tujukan pada my single deity. Ketika amarah menggelegak dan tak tahu kemana ditujukan, maka tuhan adalah sasaran terakhir yang paling baik. Dia toh tidak akan marah padaku, Dia tetap akan diam saja, seperti biasanya.

Lalu karena desakan yang bertubi, pikiran mulai kalut, emosi menguasai jiwa. Satu persatu desakan itupun kupenuhi. Satu persatu tempat dan tindakan rujukan kujalani. Dompet menipis, tabungan mengempis untuk sesuatu yang jua berhasil.

Bahkan secara psikologis kehidupan kami mulai terganggu. Suamiku yang berbadan sehat tanpa keluhan mulai merasa seperti orang sakit karena setiap minggu harus ke rumah sakit bertemu dengan lelaki berjubah putih yang meresepkan bermacam obat dan vitamin. Pikiranku pun mulai terkooptasi dengan agenda yang harus dijadwalkan. Jika sebelumnya sex adalah sesuatu yang menyenangkan, untuk melepas penat, stress, dan meraih kesenangan. Maka sex kami berubah menjadi sebuah beban berat yang terjadwal. Aku selalu menandai hari-hari dimana aku berovulasi dan menjaga sperma suamiku fit pada saat itu, lalu mengajaknya ke kamar untuk melakukan ‘kewajiban’ yang sangat berat. Yaaa…kewajiban sangat berat karena disana ada target untuk punya anak, untuk memenuhi harapan semua orang, untuk menyenangkan semua orang. Sedemikian beratnya aktivitas itu hingga kami pun tak mampu menjalaninya. Dan beban itupun semakin berat setiap harinya. Karena orang-orang tak henti bertanya mengenai bocah kecil yang seharusnya muncul sebagai hasil kerja keras kami. Dan semakin hari semakin sulit kehidupan sex yang harus kami jalani. Sex bukan lagi hal yang menyenangkan, tempat kami mengeksplorasi surga dunia. Tapi sex berubah menjadi monster yang menyeramkan dimana terdapat tuntutan dari semua orang yang harus dipenuhi.

Karena beratnya beban itu, maka kami pun mundur selangkah. Saat kami sudah berjalan di kilometer 7, kami memutuskan untuk kembali lagi ke kilometer 3. Menata ulang semua yang sudah kami susun. Sedikit menutup mata dan telinga serta tidak peduli dengan omongan orang. Mungkin kami adalah pasangan yang menyebalkan bagi orang-orang di sekeliling kami. Tapi kami lebih bahagia dengan hal yang kami kondisikan ini. Kami tidak bisa menyenangkan semua orang. Tapi setidaknya kami bisa saling membahagiakan satu sama lain. Bukankah pernikahan adalah untuk saling menjaga, melindungi, membahagiakan, dan mencari tempat yang menenangkan? Ketika pernikahan berubah menjadi makhluk tak terkendali yang siap menghancurkan kebahagiaan kami, maka sudah waktunya bagi kami untuk menata ulang semuanya. Menyingkirkan makhluk itu dan menyusun kembali prioritas yang kami impikan sejak awal.

Saat ini kami bahagia dengan apa yang kami miliki, lepas dari semua keriuhan dan tuntutan yang disampaikan orang-orang di sekeliling kami. Kami menikmati saat kami bangun pagi dan melihat satu sama lain masih bersama, bersisian di ranjang yang sama. Kami menikmati saat kami berangkat bermimpi dengan jemari tangan bertautan dan saling mengatakan “I love you”. Kami pun menikmati aktivitas penyatuan dua individu dengan penuh kebahagiaan untuk melepas segala penat tanpa beban yang harus dipanggul dan target yang harus dipenuhi.

Orang bilang anak adalah harta karun akhirat, yang akan menolong kita di akhirat dengan doa-doanya. Tapi bukankah anak lebih potensial untuk menjadi jembatan ke neraka? So what’s the point of rushing and pushing? Let it be, let it flow.   

AND THEY LIVE HAPPILY EVER AFTER…

Menikah dan menjadi seorang istri adalah kisah romantic yang selalu diidamkan oleh para gadis, sejak masih gadis kecil hingga menjadi gadis remaja lalu gadis dewasa. Menemukan sang pangeran berkuda putih dengan jubah megah dan pedang di tangan, seolah dialah yang akan selalu menjaga dan melindungi si gadis seperti sang ayah selalu menjaga dan melindunginya sejak masih bayi hingga beranjak dewasa lalu melepaskan menuju gerbang pernikahan.

Hidup bersama dengan sang pangeran bak kisah negeri dongeng yang dilimpahi hidup bahagia tanpa aral dan onak hingga maut memisahkan, seolah menjadi plot utama dalam kisah mimpi-mimpi para gadis yang hendak melepas masa lajangnya. Menghabiskan sisa hidup dengan pujaan hati, membesarkan anak-anak, lalu berlari dan bercanda dengan cucu-cucu. Gambaran yang sangat indah..

And they live happily ever after..benarkah?

Cukupkah dengan menikahi pria idaman lalu kita akan bahagia selamanya?

Cukupkah cinta saja sebagai bekal pernikahan kita?

Tidak.. TIDAK..

Pernikahan tidaklah sesimple yang ada di negeri dongeng, meskipun kita menikahi pria idaman kita tapi tetap tidak semudah itu untuk hidup bahagia selamanaya, walaupun kadar cinta kita 24 karat sekalipun. Karena dalam pernikahan terdapat bermacam-macam elemen yang harus dipenuhi. Cinta…ya..di awal-awal pernikahan cintalah yang membangkitkan hasrat untuk bersatu. Tapi selanjutnya diperlukan lebih banyak perhatian, kejujuran, komunikasi, dan tanggung jawab.

Pernikahan adalah sebuah proses penjajaran dua orang yang sangat berbeda agar bisa berjalan beriringan, sejalan dalam pikiran, harmonis dalam tindakan, tanpa ada paksaan ataupun dominasi satu atas yang lain. Pernikahan tidaklah sesimpel kisah negeri dongeng. Karena pernikahan realitas tidak cukup hanya melibatkan pria dan wanita, tapi juga pernikahan antara seorang pria dengan keluarga besar wanita, pernikahan wanita dengan keluarga besar pria, serta pernikahan antara keluarga besar itu sendiri. Pernikahan pun memerlukan pencukupan kebutuhan, fisik dan rohani.

Pun demikian halnya dengan kebahagiaan. Kebahagiaan adalah sebuah proses panjang tak berkesudahan. Sebuah proses untuk menjadi bahagia. Dan ini pun tidak mudah, karena bahagia tidaklah mutlah, sangat nisbi. Seorang anak kecil akan sangat bahagia hanya karena bolanya yang hilang ditemukan lagi. Tapi seorang perempuan bisa jadi justru lebih bahagia saat kehilangan kekasihnya, meskipun pada awalnya diwarnai kesedihan dan mungkin cucuran air mata.

Meraih kebahagiaan dalam pernikahan pun bukanlah tanpa effort. Diperlukan effort dari kedua belah pihak, pria dan wanita. Dituntut untuk bisa saling menempatkan diri dan mengalah. Rasanya tak heran mengapa dalam Islam dinyatakan bahwa menikah adalah sebagian dari ibadah. Karena disinilah manusia benar-benar dituntut untuk berusaha, bersabar, ikhlas; bukan sekedar teori tapi benar-benar harus menjalani. Melalui pernikahan pula, manusia harus bisa mengalahkan egonya sendiri sesuai ajaran berpuasa. Dalam pernikahan pula, manusia harus pandai-pandai mengatur emosi dan berhati-hati mengambil keputusan, karena sedikit saja salah melangkah akan menghancurkan segalanya. Sangat mudah untuk sekedar menikah, tapi mempertahankan pernikahan itulah yang membutuhkan semua potensi diri kita.
 
Terkadang, setelah menikah kita mendapati orang yang kita nikahi bukanlah orang yang kita pacari dahulu. Jika dulu semuanya serba menyenangkan, kini semuanya serba menuntut tanggung jawab. Sehingga perlahan-lahan pasangan kita, atau justru kita sendirilah, yang berubah karena besarnya tuntutan yang harus dipenuhi. Terkadang, salah satu tidak sanggup menerima perubahan itu, sehingga menyerah dan memutuskan untuk berhenti. Namun sekali lagi, usaha terbesar yang harus diberikan adalah mempertahankan pernikahan itu. Kita bisa menikah sejuta kali dalam hidup ini. Tapi pernikahan sekali seumur hidup itulah yang dihargai dengan logam dan batu mulia.   

Friday, February 17, 2012

PAK TUA PENGATUR JALAN

PAK TUA PENGATUR JALAN      
Jakarta, 13 February 2012

Berkendara membelah lautan kendaraan di pagi hari jalanan Casablanca menuju ke tempat mengais rejeki adalah rutinitas bagi sebagian besar penduduk kota Jakarta. Di saat udara masih dingin dan sinar mentari masih redup, tatkala menarik selimut di atas kasur adalah kenikmatan yang luar biasa, dan membasahi tubuh dengan air dingin adalah sebuah kemalasan luar biasa; kami justru meyiramkan air dingin itu ke tubuh kami, bergegas mengenakan baju, dan segera turut melaju dalam deraman kendaraan dan asap knalpot yang tak pandang bulu siapa yang diterpa.  

Memacu kendaraan dalam bungkusan jaket agar tetap hangat, meliuk-liuk di antara ribuan kendaraan lainnya yang berlomba menuju tempat bekerja masing-masing sambil menikmati tamparan angin yang marah karena terganggu langkah sepoinya. Di antara langkah mantap bis-bis besar, gerak lamban mobil-mobil pribadi, dan kayuhan pedal sepeda di tepi jalan, aku dan suamiku berzig-zag mencari jalan untuk kendaraan kami menuju kawasan senayan.

Padatnya jalan Casablanca setiap pagi, siang, sore, dan malam tanpa mengenal hari libur maupun hari kerja tak sedikit pun meyurutkan langkah kami tuk menyibak keramaiannya. Inilah ikhtiar untuk mencari rizqi penyambung hidup kami. Meski seringkali tehalang mobil pribadi yang ditumpangi satu orang saja, maupun angkot yang berhenti seenaknya, kami tetap berlalu menuju kantor kami.

Tak terasa ujung kemacetan hampir berakhir. Sebentar lagi kami harus berbelok kiri ke jalan kampong di dekat Pasar Karet Belakang, sekedar sedikit menikmati jalanan yang lengang meski berliku-liku. Tapi lumayan untuk mencicipi udara yang lebih bersih dan bebas dari aroma pekat dan pedih knalpot. 

Di ujung belokan jalan, di belakang Plaza Semanggi, selalu kulihat seorang bapak tua berkaus pink pudar dan celana hitam kusam berusaha mengatur jalannya lalu lintas agar para pengendara tidak bersenggolan karena tikungan tajam tertutup tembok. Dengan berdiri di atas kaki lemahnya, sambil sesekali berjalan gontai dia melambai-lambaikan tangannya menata arus pemakai jalan. Wajahnya tua dengan pipi yang kempot dan gigi yang sudah tanggal pula, tubuhnya kurus dan telihat lemah di atas kaki yang juga tak lagi tampak kuat menopangnya. Tapi niatnya untuk mengatur arus jalan kelihatan masih cukup kuat untuk menegakkan tubuh tua itu. Terkadang dia mengangkat tangannya agar mobil dari arah berlawanan dengan ku berhenti dulu hingga kami semua lewat, baru dia menurunkan tangannya sambil memberi aba-aba agar mobil itu lewat. Jalanan yang tidak terlalu besar ini memang memungkinkan terjadinya singgungan jika semua harus lewat bersamaan di pengkolan jalan itu.

Aku menengok wajah tirusnya, bola matanya tak mampu menutupi kenyataan bahwa dia sudah sangat tua, meski masih berdiri di atas kedua kaki kurus itu. Mata itu berwarna coklat pudar. Kulit keriput di sekeliling mata itupun tampak sudah sangat uzur. 

Dan aku pun bertanya-tanya, apakah dia seorang diri didunia ini? Tidak adakah anak-anak yang menyantuninya agar dia bisa menikmati hari tuanya bersama cucu-cucu? Ataukah dia sebegitu bersemangat untuk membiayai hidupnya sendiri agar tidak membebani anak cucunya?

Beberapa motor dan mobil melewatinya begitu saja. Tak terlihat ada tangan yang melebar sekedar untuk menebar sedikit rizqi untuk pak tua itu. Mungkin dia ikhlas mengatur jalan ini, tapi apa salahnya jika sedikit berbagi sekedar untuk dia beli makanan atau baju dinas gantinya. Toh tak kan jadi miskin juga mereka dengan sedikit berbagi pada orang lain. Bukankah menjadi tanggung jawab kita juga sebagai sesama manusia untuk membagikan rizqi dari Allah? Bukankah dalam setiap receh rizqi kita, Allah menitipkan hak orang-orang yang renta dan papa seperti pak tua pengatur jalan itu?

Melihat wajah tuanya, terbayang wajah bapak di kampong. Nun jauh di pinggiran kota solo sana. Meski bapak masih gagah dan bisa mengendarai mobil maupun motor, tapi sedih rasanya membayangkan jika bapakku harus seperti pak tua itu. Tak terperi pedihnya hati ini jika sampai bapak yang sudah bersusah payah sepanjang hidupnya hingga aku dewasa, masih pula harus berdiri di jalanan di atas kaki rapuhnya sekedar untuk menopang hidupnya. Tak tega bahkan hanya sekedar untuk membayangkannya. Pilu hatiku... Tak terasa butiran air hangat merembes keluar dari mataku dan membasahi pipiku. 

Ya Allah, jika masih ada usiaku, perkenankan aku untuk merawat kedua orang tuaku. Ijinkan aku untuk sekedar berbagi rizqi dan kebahagiaan dengan kedua orang tuaku. Jangan biarkan orang tuaku seperti pak tua pengatur jalan itu. Ampuni mereka, lindungi mereka dan limpahilah kebahagiaan di penghujung usia mereka. Ijinkanlah segaris senyuman selalu menghiasi wajah mereka setiap waktu. 

Friday, February 10, 2012

On Becoming A ............

ON BECOMING A ………
Jakarta, 10 January 2012

To be or not to be, that’s the question. 

This most famous quotation from Shakespeare in Hamlet is exactly like what I have to face now. It is about whether I’m going to move on or stick on what I am now. There are certain positive and negative points in each. And it’s like doing a business mapping for me. Once I draw the line in a wrong way, then I make the whole picture wrong.

I was doing great things in my previous position so that I can maximize my potential. With all of those great things I’ve done I was very certain that I would pass the assessment test for promotion even if I wasn’t prepared at all. Besides, the chance to be promoted was much bigger as I was two levels below my direct supervisor. On the contrary to my current condition that the chance was much smaller as my boss is only one level above me and I have to start it all over again, back to zero in here. Even if I have well-prepared, I might not pass the assessment test done to me.

So it is now the time for the huge question. Moving on or sticking on it.

Moving on means going out and move to another atmosphere with several possibilities that I have to predict to anticipate every circumstance incurs. Sticking on it means accepting what is pushed to me to take and I hate this kind of condition.

Moving on is another adaptation phase that I have to face. It means new environment with all brand new tasks and fresh faces to deal with. I know I was good in adaptation, staying quiet for a while to learn my circumstances then get into it, that’s my secret recipe. However, I may also fail in this process, though never before, but I have to consider every possibility that may incur. I may also have new friends, new network, learning new skill and competence, and new income either higher or lower. It may be a very challenging and competitive hemisphere for me.

While sticking on it is like becoming a fatalist for me. I hate to accept what was pushed to me. I hate to be a loser. I never want to be a champion, I just want to fight for my better life and provide a better condition for others after I fought. That’s how I live my life so far and God’s with me. However, it may be the safest condition for me. I got enough money here, good coverage too, people say what else do I need financially instead of gambling with my unknown future out there
So…to be or not to be, that’s the question.

Moving on means going out of my comfort zone. And sticking on means staying financially safe. The first one is like becoming a gambler while the second one is like becoming what most people are. So, am I a gambler? Nope! But I’m not a fatalist either. If becoming an idealist is this expensive, then I’ll take it. You cannot get a shark with a worm; you need salmon to get a shark.

To be or not to be, so..let’s be it!

A New Phase in Me

A NEW PHASE IN ME
Jakarta, 9 Januari 2012 

Setiap kolam punya jenis ikannya sendiri. Walaupun jenisnya mungkin sama, namun selalu ada ciri khusus dari ikan di kolam yang sama. Mungkin dari gaya berenangnya, gaya sembunyinya, gaya makannya; tapi ada ciri khusus dari masing-masing kolam.
Pun demikian dengan bekerja. Budaya kerja di masing-masing kantor pastilah berbeda. Ada yang sangat disiplin dengan waktu sehingga jam datang dan jam pulang, exactly on time. Asumsi yang dipakai adalah efektivitas jam kerja 8 jam sehari, sehingga tidak perlu timbul biaya tambahan karena lembur, baik untuk bayar lembur pekerja maupun biaya yang timbul akibat perpanjangan jam kerja seperti listrik. Ada pula yang cukup lentur dengan 8 jam sehari itu, yang penting bekerja selama 8 jam, kalau datang terlambat maka pulang juga harus dikompensasikan dengan keterlambatan tersebut sehingga total waktu kerja benar-benar 8 jam sehari. Namun, ada pula yang jam kerjanya tidak tertentu, bisa jadi datang pagi dan pulang malam dengan parameter semua assignment harus selesai dikerjakan pada hari yang sama.
Perbedaan budaya dalam hal jam kerja ini tentunya merupakan keragaman budaya kerja yang mewarnai keseharian para pekerja. Akan ada sedikit cultural shock ketika seorang pekerja dengan typical gaya kerja pertama harus mengikuti kolam ketiga, pekerja kolam kedua mengikuti kolam pertama, dan pekerja kolam pertama dan kedua mengikuti kolam ketiga. Terjadinya cultural shock ini dapat diatasi dengan proses adaptasi dari masing-masing pekerja atau dengan mengadaptasi kolam barunya dengan si pekerja. Tentu lebih mudah jika satu orang yang berubah mengikuti lingkungannya, tanpa ada dampak tertentu bagi lingkungan itu pula. Namun bukan mustahil juga bila satu orang bisa merubah lingkungannya jika dia berada di posisi yang tepat dengan argumentasi yang tepat pula. Memang satu sendok teh garam tidak bisa mengasinkan seluruh kolam, tapi ketika sendok yang digunakan sebesar sekop maka bisa jadi kolam tersebut akan menjadi asin mengikuti perubahan yang dimasukkan dalam kolam.
Efek yang timbul akan cukup radikal jika lingkungan yang berubah mengikuti perseorangan, mungkin terjadi ketidakseimbangan lingkungan dengan adanya pertentangan dari berbagai pihak, baik secara lunak maupun tentangan yang frontal. Setiap perubahan menuntut konsekuensi logis yang bisa jadi berupa pengorbanan.
Jenis pengorbanan ini bisa datang dari siapapun, termasuk dari si pembawa perubahan itu sendiri atau justru dari penghuni lingkungan yang berubah. Apapun konsekuensinya, setiap kemungkinan harus dipertimbangkan masak-masak untuk meminimalisir resiko yang mungkin timbul. Karena tidak ada perusahaan manapun yang ingin namanya tercemar karena berita yang kurang sedap. Setiap perusahaan mengharapkan perubahan seradikal apapun, dapat diterima dengan baik dan tidak menimbulkan gejolak apalagi hingga diluar perusahaan. Perubahan boleh terjadi namun image harus tetap dijaga, itu resep setiap perusahaan.
Lalu bagaimana caranya agar perubahan itu tidak menimbulkan gejolak di kemudian hari?
Sosialisasi memegang peranan penting dalam hal ini. Jika rencana perubahan itu disosialisasikan dengan tepat maka para pihak dapat mengantisipasi efek-efek yang mungkin timbul. Mereka dapat memperhitungkan kemungkinan yang bisa terjadi dan cara antisipasi tepat untuk setiap prediksi kemungkinan tersebut.
Komunikasi juga merupakan kunci penting lainnya. Ketika sosialisasi disampaikan dengan cara berkomunikasi yang baik maka akan mampu meredam gejolak yang mungkin timbul. Tapi ketika sosialisasi  disampaikan dengan cara berkomunikasi yang kurang baik, maka akan memancing gejolak yang seharusnya dapat diredam.
Beberapa agen pembawa perubahan memiliki kemampuan komunikasi yang sangat memadai untuk menyampaikan perubahan ini, sehingga para pihak dapat menerima terjadinya perubahan dengan legowo. Namun ketika pembawa perubahan mengkomunikasikan misinya dengan cara yang salah, entah gaya penyampaiannya atau pilihan bahasanya, maka disitulah akan terjadi miskomunikasi yang bisa menimbulkan bencana berkepanjangan.
Dimulai dari bisik-bisik ketidakpuasan, pengaduan pada system yang lebih tinggi, gejolak pemberontakan, hingga perlawanan itu sendiri, yang pada akhirnya hanya akan merugikan salah satu pihak, karena pada kenyataannya jika berhubungan dengan organisasi modal maka tidak akan ada diskusi yang memberikan kemenangan bagi para pihak. Selalu harus ada yang dikorbankan dan harus ada yang dijaga kehormatannya, dan atas nama kehormatan yang lebih kuasa maka yang lemah harus dikalahkan dan mengalah. Disinilah timbul korban, yang semestinya tidak perlu terjadi jika perubahan tersebut disosialisasikan dengan cara berkomunikasi yang memadai, tanpa merendahkan yang lain ataupun meninggikan yang lainnya lagi.
Karena ketika yang terjadi adalah perendahan terhadap yang lain, penistaan pada yang lemah, pengorbanan pada yang kalah maka sumpah serapah atas luka yang timbul akan terlontar dan pada akhirnya hukum alam berjalan dengan teori kekekalan energy-nya, bahwa energy tidak pernah hilang, energy hanya berpindah dan berubah bentuk, dan akhirnya akan kembali pada si empunya energy itu sendiri. Kebaikan yang dilepaskan akan kembali padanya menjadi kebaikan. Keburukan yang dilepaskan akan kembali padanya menjadi keburukan.
Maka dari itu, berhati-hatilah ketika berada pada posisi sebagai pembawa perubahan, pengambil kebijakan, pembuat keputusan yang tindakannya dapat merubah kehidupan orang lain. Pertimbangkan setiap tindakan dan ucapan dengan bijak, hadapi setiap konsekuensi dengan gagah, jangan pernah melempar tanggung jawab pada orang lain yang mungkin justru tidak terakses oleh orang-orang yang secara tidak langsung nasibnya ada di tangan anda. Pelajari setiap kondisi dan situasi yang terpetakan agar tidak menjadi boomerang bagi diri anda sendiri. Karena hidup yang berarti adalah memberi makna bagi orang lain, bukan menghancurkan kehidupan orang lain. Sekali anda meghancurkan kehidupan orang lain, anda harus bertanggung jawab seumur hidup di dunia dan di akhirat.