Tuesday, March 19, 2013

Cirebon, Des 2012


Cirebon, Des 2012

Cirebon mungkin lokasi yang cukup strtegis karena disinilah terdapat persimpangan kereta jalur selatan dan utara. Disini juga merupakan wilayah pantai yang mestinya bisa lebih dikomersilkan, selain wisata sejarah yang cukup kuat juga. Di akhir bulan Desember 2012, aku, suamiku, dan teman-teman kantorku berwisata ke Cirebon. Walo hanya semalam, dua hari, tapi kunjungan ini terasa lebih mendalam dan lebih banyak yang bisa diambil hikmahnya.

Kami berangkat naik kereta pagi pada hari Sabtu pukul 06.00 WIB masing-masing dengan membawa backpacknya sendiri-sendiri. Perjalanan selama 3 jam berlangsung cukup menyenangkan dan mengantukkan buatku, rel kereta api dari Jakarta ke Cirebon dikelilingi dengan pemandangan alam yang indah, hijau, berlekuk seperti tubuh penari Bali. Kereta sampai di stasiun tepat pukul 09.00 WIB dimana kami langsung menjajal hidangan khas Cirebon, empal gentong di station Cirebon yang memang nikmat itu. 

Selanjutnya kami menuju ke Trusmi, sebuah jalan tidak terlalu besar di Cirebon namun dipenuhi toko-toko batik khas Cirebon yang bernuansa cerah itu. Beberapa toko kami masuki dan beberapa batik khas Cirebon berhasil kami angkut ke dalam mobil, baik berupa pakaian jadi maupun kain yang harus dijahit lagi. 

Setelah lelah berbelanja, kami kembali berwisata kuliner dengan menikmati Nasi Lengko H. Barno, makanan ini sangat sederhana tapi entah mengapa terasa sangat nikmat di lidah jawaku. Hanya nasi sepiring dengan tempe goring diiris kecil2, kecap, dan sambal kacang, serta toge..semuanya diaduk jadi satu sambil mencecap sate kambing..rasanya bener-bener komplit..gurih dan manis menyatu di lidah, enaaak..! dan yang pasti sangat kenyang..

Perjalanan kami lanjutkan ke salah satu bangunan kuno di Cirebon, Kraton Kasepuhan yang total luasnya lebih dari 20 ha. Kraton ini semestinya bisa terlihat lebih indah jika saja lebih terawat dan tanpa aroma aneh yang cukup menyengat di pintu gerbangnya. Ada beberapa bangunan terpisah yang menjadi semacam bangunan kesatrian dan keputren, juga pemandian istri raja, masjid, tempat mengaji, serta tujuh sumber air yang salah satunya ditutup karena beracun. Beberapa bagian kraton yang sedang direnovasi tidak memungkinkan bagi kami untuk melihat lebih detail, tapi secara keseluruhan kami cukup puas bisa menyaksikan peninggalan sejarah yang masih cukup gagah berdiri di bumi Cirebon ini.

Kemudian kami menuju ke hotel, Hotel Amaris yang berdekatan dengan stasiun Cirebon, budget hotel yang cukup nyaman untuk sekedar melepas lelah, membersihkan diri dan meletakkan barang-barang belanjaan. Lepas petang kami kembali mengelilingi kota Cirebon, dengan menikmati Nasi Lengko, yaitu nasi yang dibungkus daun jati dengan berbagai macam pilihan lauk model pukwe (njupuk dewe = ambil sendiri) di meja panjang tempat para pembeli antre mengambil lauk. Sengaja aku tidak mau terlalu kenyang makan disini, karena masih ada rencana untuk makan di tempat lain. Selanjutnya kami kongkow di dekat Kraton Kasepuhan yang kami kunjungi sebelumnya untuk sekedar menikmati teh poci khas Jawa Tengah, teh tubruk panas dalam poci tanah liat disiramkan dalam gelas tanah liat dengan pemanis gula batu yang membuat minuman ini terasa lebih nikmat dan harum.

Beberapa jam kami habiskan disini selain ditemani tehpoci, juga gorengan..mungkin hanya di Cirebon ada outlet McD yang jualan tahu goreng hahahaha…no..actually bungkusnya saja yang meniru kertas pembungkus McD sekaligus dengan nama McD tercetak di kertas itu. Wisata kuliner ini kami akhiri dengan menikmati kelapa kopyor asli, dihidangkan dengan gelas besar dan agak terlalu kenyang mengingat kami sudah makan dan minum banyak sebelumnya. Jadi rencana makan sup bubur ayam harus dilupakan terlebih dahulu, next trip I guess.

Akhirnya kami kembali ke hotel untuk beristirahat, besok kami masih harus melanjutkan perjalanan yng cukup panjang…

Pagi hari, aku dan suamiku keluar kamar pukul 06.30 WIB untuk sarapan di lobi dekat resepsionis, untuk ukuran budget hotel, menunya pun cukup lumayan, lagipula tempatnya juga bersih..sangat jauh berbeda dengan hotel di Thailand yang juga aku kunjungi bulan Desember ini. Teman-teman menyusul beberapa saat kemudian. Setelah selesai makan, kami langsung check out untuk melanjutkan perjalanan seputar Cirebon. Kunjungan pertama adalah kembali ke Trusmi untuk sekedar menuntaskan belanjaan yang belum kelar. 

Dari Trusmi, kami melanjutkan perjalanan ke Kuningan. Sepanjang jalan dari Cirebon ke Kuningan juga tampak indah dengan jalinan pepohonan di lereng perbukitan yang menghijau dan bergelombang. Sesampai di Kuningan, kami makan hucap, ini adalah makanan yang terdiri dari tahu goreng, lontong dengan bleng, dan kecap. Walo terasa agak aneh, tapi enak juga lama-lama.. Tujuan pertama di Kuningan adalah sebuah tempat wisata yang berupa pemandian. Tapi bukannya mandi, kami malah menikmati terapi ikan. Kami menyerahkan kaki kami untuk digelitik ikan-ikan kecil yang menyantap kulit mati kami. Sangat geli pada awalnya, tapi lama-lama enak juga, apalagi dengan dibumbui desiran angin yang membelai wajah terasa nikmat dan membuai ke alam mimpi…

Selanjutnya para lelaki menikmati spa air panas di lokasi sekitar. Dan dilanjutkan dengan makan siang yang terlambat di lereng bukit itu. Hidangan ikan air tawar menggoda lidah kami dengan ditemani tahu dan tempe goring serta sambel terasi berdansa bersama sisa sarapan di perut kami. Setelah makan kami melanjutkan perjalanan ke tempat penyelenggaraan perjanjian Linggarjati, perjanjian antara para founding father kita dengan pihak Belanda yang dimediasi oleh pihak ketiga.

Lokasi perjanjian ini sangat indah. Sebuah rumah tua khas bangunan jaman Belanda dengan tembok tebal dan atap tinggi, dikelilingi oleh taman luas dengan rumput yang dipotong rapi serta pepohonan besar yang rindang. Secara keseluruhan, bangunan ini tampak terawat. Perabotannya pun juga terawat, meski pengunjung dilarang untuk menjajal perabotan itu, mungkin lebih untuk alasan keselamatan pengunjung mengingat perabotan itu sudah tua. Kamar mandi yang pernah digunakan para perwakilan delegasi menunjukkan typical kamar mandi jaman dulu yang luas dengan bak mandi besar berlantai lapisan semen, airnya dingiiin banget. Tempat tidur para delegasi juga masih ada, rupanya mereka sharing room karena setiap kamar terdiri dari dua tempat tidur. Tempat tidurnya kecil, mungkin ukuran 90 cm lebarnya yang hanya muat untuk satu orang saja.

Selain itu juga ada foto-foto pada saat pelaksanaan perjanjian itu, juga foto pemilik rumah yang menyerahkan rumah ini untuk perjanjian. Ternyata ada cerita dibalik pemilihan lokasi Linggarjati di Kuningan, ketika itu pemerintahan Jakarta menolak ke Jogja, sedangkan pemerintahan sementara Jogja juga menolak ke Jakarta, maka muncullah seorang perempuan, putri bupati Kuningan yang menelurkan ide untuk menyelenggarakan pertemuan itu di Linggarjati Kuningan karena secara lokasi berada di tengah-tengah antara Jakarta dan Jogjakarta, hmmmmm..the power of a woman..

Selesai menikmati Linggarjati, kami pun kembali ke Cirebon menuju ke stasiun untuk kembali ke Jakarta dengan kereta sore itu. Perjalanan yang menyenangkan..banyak ilmu yang bisa digali. Banyak pemandangan yang bisa dinikmati. Banyak makanan baru yang bisa disantap. Well..can’t wait for the next trip with you guys…    

No comments:

Post a Comment