Sepenggal Kisah Umrah di
Madinah & Makkah
KSA, 20-26 Mei 2014
Sudah sejak lama keinginan untuk
beribadah di tanah suci terbersit di pikiranku, namun karena merasa belum cukup
baik dan merasa beratnya tanggungan yang harus disandang sepulang dari tanah
suci, maka hasrat itu sering kali terkubur dalam tumpukan kertas pekerjaan di
kantor serta tetek bengek urusan rumah yang tak ada habisnya.
Akhirnya setelah segala kekusutan sedikit demi
sedikit terurai, hasrat itu pun menemukan jalannya untuk terpenuhi. Berawal di
bulan Oktober 2013, kami bertemu dengan seorang ibu yang mengajak untuk turut
serta dalam rombongannya, berangkat umrah di bulan Mei 2014. Memang cukup lama
harus menunggu, tapi justru masa tunggu itu bisa aku dan suamiku gunakan untuk
lebih mempersiapkan diri. Seperti untuk mengurus suntik meningitis, menyiapkan
pas foto dan segala macam dokumen lainnya, juga baju-baju yang pantas dipakai
di rumah orang, apalagi untuk perempuan seperti aku. Sebagai tamu tentunya
kami, terutama aku, harus menghormati aturan yang berlaku di rumah orang lain. Bukankah
dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung?
Ketika bulan Mei 2014 tiba,
jantung serasa berdegup lebih kencang, menunggu tanggal yang dijanjikan untuk
berangkat ke tanah suci. Aku mulai mengkonsumsi obat pengatur haid di awal
bulan Mei 2014, karena jadwal keberangkatan bertepatan dengan jadwal bulananku.
Dengan koper yang disediakan oleh biro perjalanan, aku pun mulai packing untuk
mengatur apa saja yang harus kami bawa dan bagaimana supaya bisa muat dalam
satu koper masing-masing untuk aku dan suamiku.
Dan tanggal yang ditunggu pun
tiba. Hari Selasa, 20 Mei 2014, dini hari kami terbang bersama ratusan jamaah
lainnya dengan pesawat Flynas, langsung dari Soekarno Hatta ke King Abdul Azis
Airport di Jeddah. Perjalanan di udara berlangsung selama 9 jam 35 menit yang
sebagian besar aku lalui dengan tidur, karena dengan seat untuk tiga orang,
hanya terisi aku dan suamiku, jadi aku dan suamiku masih bisa bergantian
merebahkan tubuh. Suamiku lebih banyak terjaga daripada aku, sedangkan aku
hanya terjaga untuk menikmati hidangan yang disajikan pukul 5 pagi dan pukul 12
siang. Hidangan yang disajikan cukup nikmat dari segi rasa, dan juga cukup
menggoda dari segi jenis hidangannya. Ditambah air putih serta jus buah,
cukuplah untuk merecharge energy.
Setelah proses landing yang
mulus, kami harus menunggu sekitar dua jam untuk proses pengambilan barang di
bagasi dan antre imigrasi. Kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan bus
menuju Madinah. Perjalanan ini berlangsung sekitar 5 jam, cukup lama, mungkin
karena kami mampir ke Masjid Terapung untuk menunaikan sholat Dzuhur dan Ashar serta
makan siang disana. Sedikit tentang Masjid Terapung, karena kami datang pada
saat laut tidak pasang, maka kami bisa melihat pilar-pilar penyangganya. Toilet
disini bersih dengan menggunakan semacam teko air untuk beristinja. Lelaki mendirikan
sholat di dalam masjid, sedangkan perempuan mendirikan sholat di bagian luar
masjid. Banyak sekali pejual disekitar masjid, terutama penjual makanan dan
souvenir. Burung dara yang bersih juga tampak di sekitar masjid, terbang
bersama hembusan angin laut.
Setelah perjalanan yang cukup
melelahkan, akhirnya kami tiba di hotel yang berjarak sekitar 100 meter dari
halaman Masjid Nabawi. Kami mandi dan sholat Maghrib di hotel, kemudian
berangkat ke Masjid Nabawi untuk sholat Isya. Masjid Nabawi sangat Indah dengan
pilar tinggi dan besar, plafon berhias warna kuning seperti emas, menara serta payung-payung
yang menutup, dan karpet tebal dalam baluran sinar lampu yang terang. Sholat tahiyatul
masjid langsung didirikan begitu mendapat tempat di dalam Masjid Nabawi,
masjidnya Rasulullah. Suasana religious mulai terasa kuat saat adzan
berkumandang. Suara adzan disini berbeda dengan di Indonesia. Disini, adzan
diawali dengan suara datar lalu meninggi melalui speaker yang menggemakan suara
dengan bagus dan bening. Pada saat sholat, imam membacakan surat yang cukup
panjang dengan suara yang dalam dan menenangkan, lalu setiap takbiratul ihram
suara imam seperti dipantulkan oleh second imam dengan suara yang lebih
melengking, nyaring, dan panjang.
Pada hari biasa, aku dan suamiku
menyempatkan diri untuk menikmati Masjid Nabawi. Di siang hari payung di
halaman masjid terkembang untuk melindungi jamaah yang sholat diluar dari terik matahari. Pad hari
Jumat, setelah Sholat Jumat, atap masjid bergeser terbuka dan membiarkan sinar
matahari menerpa karpet-karpet masjid. Mungkin itu sebabnya meski tebal dan
sering terinjak kaki yang basah, tapi karpet disini tidak berbau. Di malam
hari, cahaya kuning dari lampu menerangi pintu-pintu masjid yang berwarna
keemasan. Air zamzam tersedia di setiap koridor yang dapat diminum oleh para
jamaah, gratis, dengan gelas plastic bersih, bahkan jamaah boleh membawa pulang
air zamzam dengan botol minuman masing-masing.
Selama di Madinah, kami juga
menyempatkan diri untuk sholat di Raudhah yang sangat penuh sesak oleh jamaah
lainnya. Diperlukan kesabaran hati dan kekuatan fisik untuk beribadah disana
karena antrean yang sangat panjang serta kondisinya yang berjubel. Disitu terdapat
makam Rasulullah beserta kedua sahabatnya Abu Bakar asy Shidiq & Umar bin
Khattab, serta sebuah makam kosong yang alkisah disiapkan untuk makam Isa as di
akhir jaman nanti.
Selain itu kami juga mengikuti
tour ke Jabal Uhud, gunung dimana terjadi peperangan Uhud dan bala tentara
muslim kalah perang karena tidak mengikuti perintah Rasulullah. Makam para
sahabat yang tewas dalam peperangan Uhud juga ada di kaki gunung, rupanya
disana makam hanya berupa tanah datar saja, tanpa papan nama, apalagi bangunan
berkeramik seperti disini. Masjid Quba yang diriwayatkan sebagai tempat sholat
dua rakaat berpahala sepadan dengan menjalankan ibadah umrah juga kami
kunjungi. Selanjutnya kami menuju perkebunan kurma, dimana kami boleh
mengumpulkan kurma muda yang jatuh dari pohonnya, tapi tidak boleh memetik
langsung dari pohon. Alkisah kurma muda dapat membantu meyuburkan organ
reproduksi pasangan, jadi kami bersemangat mengumpulkannya sambil berharap doa
kami untuk memiliki keturunan diijabah Allah.
Setelah sholat Jumat, kami
berangkat ke Makkah mengendarai bus. Perjalanan berlangsung selama 7 jam,
dimana kami sudah mandi besar serta berbaju putih untuk persiapan ibadah umrah.
Kami mengambil miqat di Masjid Bir Ali dan kembali melanjutkan perjalanan
menuju hotel terlebih dahulu. Entah bagaimana kami baru tiba di hotel, di
daerah Misfallah pukul 11 malam. Setelah makan malam dan bersuci, kami berjalan
kaki menuju Masjidil Haram yang berjarak sekitar 500 meter dari hotel.
Tiba di Masjidil Haram, kami
masuk melalui King Abdul Azis Gate dan setelah berjalan beberapa langkah, di
depan mataku terpampang Kabah, rumah Allah, dalam balutan kiswah hitam dengan
tulisan Arab dari benang emas. Tampak agung sekaligus anggun, perkasa sekaligus
ramah mengundang kami mendekat. Tanpa terkontrol, mataku terasa panas dan air
mata yang kubendung kuat mulai meleleh. Saat bersujud, roboh semua benteng yang
kubangun, aku menangis sesenggukan dalam uraian istighfar dalam hati serta
lontaran bibirku. Terasa kecil sekali diri ini di hadapan Allah, hancur luluh
semua ego diri yang ada selama ini, porak poranda segala keakuan yang menguasai
sanubari ini. Terasa berat sekali badan ini untuk bangkit dari sujud di depan
rumah Allah.
Lewat tengah malam itu juga kami
menjalankan ibadah umrah, diawali dengan thawaf, berjalan mengelilingi Kabah
tujuh kali, dilanjutkan dengan sa’I, berjalan dari bukit shafa ke bukit marwah
bolak-balik tujuh kali seperti saat Siti Hajar mencarikan air minum untuk
puranya, Nabi Ismail as, kemudian tahalul, yaitu memotong rambut sebagai
pamungkas kegiatan umrah. Umrah kedua dilakukan siang hari, saat matahari
berada di puncaknya. Airmata pun tak berhenti bercucuran selama tujuh putaran
thawaf. Rasa syahdu meliputi hati dan pikiran. Suatu pagi selepas sholat dhuha
di Masjdil Haram, ketika mengunjungi Kabah berdua saja dengan suamiku, kami berkesempatan
untuk sholat di Hijr Ismail, melihat di dalam Maqam Ibrahim, serta mencium
Kabah di bagian Rukun Yamani, bagian Kabah yang tidak tertutup Kiswah. Semerbak
wangi Kabah (atau Kiswah?) tak hilang dari telapak tanganku nyaris sepanjang
hari itu. Bahkan aroma itu masih sering tercium saat aku sudah kembali ke tanah
air.
Suara adzan di Masjidil Haram
berbeda lagi dengan yang di Masjid Nabawi. Imam pun membacakan surat yang lebih
pendek daripada di Masjid Nabawi. Selain itu, kota Madinah juga lebih tertata
dan bersih dibanding kota Makkah. Satu persamaannya, di kedua kota ini banyak
ditemukan burung dara dengan makanan berserakan disekitar, tapi tidak ada
kotorannya sama sekali. Aneh, bukan?
Selama di Makkah, kami melakukan
perjalanan ke beberapa tempat. Jabal Rahmah, tugu besar di atas gunung yang
menjadi tempat pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa. Jabal Magnit, sebuah tempat
dimana mobil berjalan sendiri dengan posisi gigi 0 di jalur landai. Serta beberapa
masjid lain yang juga kami kunjungi.
Hari terakhir di Makkah, terasa
berat sekali untuk meninggalkan Kabah. Ada keinginan untuk tinggal lebih lama,
atau bahkan selamanya, dan beribadah disana. Ada kerinduan mengiris jiwa,
bahkan saat aku belum pergi meninggalkannya. Tapi kehidupan terus berjalan,
setelah thawaf wadha, aku berlalu tanpa menengok lagi Kabah. Aku pergi
meninggalkan sekeping hatiku disana dengan tetesan airmata, membawa segumpal
kenangan dan segenggam hasrat untuk kembali lagi kesana. Insya Allah..aku akan
kembali mengunjungi rumahmu lagi, ya Allah..