Jakarta, 29 November
2012
Aku dan suamiku sudah menikah selama 4 tahun. Kami mengawali
pernikahan kami dengan niatan untuk menyempurnakan ibadah. Diawali dengan
sebuah perkenalan melalui saudara iparku, kemudian kami berkomunikasi melalui
pesan singkat, saling melihat diri di Friendster, kemudian bertemu di acara
pernikahan seorang sahabat. Kemudian dia mengunjungi rumahku untuk bertemu
kedua orang tuaku dan langsung menyampaikan niatnya untuk meminangku. Klasik
saja, orang tuaku menyerahkan semua padaku dan aku minta waktu untuk memikirkan
pinangannya.
Tapi dua minggu kemudian keluarganya berkunjung ke rumahku untuk
sekedar bersilaturahmi, lalu dilanjutkan dengan kunjungan kedua untuk memintaku
jadi istrinya. Dan semua berlanjut dengan lancar tanpa rintangan dimana dia
melamarku lalu seluruh prosesi pernikahan dilaksanakan. Mulai dari acara
kumbokarno (pembentukan panitia pernikahan), pengajian beberapa hari sebelum
menikah, lamaran sambil membawa srah-srahan, akad nikah dan resepsi pada hari
Minggu, 21 Desember 2012.
Esok harinya kami berangkat ke Pulau Bali untuk berbulan madu selama 5
hari. Bulan madu yang sangat menyenangkan. Pulau Bali pun kami jelajahi dari
dataran rendahnya hingga ke dataran tingginya. Dari tempat yang paling panas
hingga yang paling dingin. Pulau Bali memang tempat indah para dewa-dewi dimana
berjuta insan memadu cinta dan kasih sayang disana. Kami sangat menikmati
hijaunya Pulau Bali lengkap dengan berbagai karya seni yang menghiasinya. Secara
travelling, bulan madu ini sangat berhasil. Tapi secara ‘bulan madu’, boleh
dikata kurang berhasil karena kami selalu gagal untuk menjajaki surga dunia
itu. Mungkin karena aku yang belum siap secara psikologis sehingga merasa
ketakutan akan rasa sakit yang ditimbulkan untuk menuju gerbang surga dunia
itu. Atau mungkin memang benar-benar harus sakit dulu sebelum merasakan
kenikmatan. No pain no gain hehehe…
Tapi di hari kelima, sehari sebelum kami kembali ke Solo, kami
berhasil menjalankan tugas mulia tersebut. Rupanya, sex merupakan hal penting
dalam sebuah perkawinan. Karena kegiatan itulah yang benar-benar menjadikan dua
insan yang saling asing untuk benar-benar menyatu. Tak ada lagi batas, tabir,
rahasia, maupun malu, dan jaim. Sex memegang peranan penting dalam pernikahan.
Sex adalah sebuah aktivitas yang menuntut komunikasi dan saling pengertian, sex
jugalah yang mendekatkan suami istri dan akhirnya menyatukan keduanya hingga
tak ada lagi jarak diantara keduanya.
Tapi antusiasme sex yang menggebu-gebu memang hanya terjadi di awal
pernikahan, mungkin karena itulah sebabnya orang bilang bahwa sex bukanlah
segalanya dalam pernikahan, meskipun berperan penting.
Karena yang terjadi selanjutnya dalam pernikahan adalah lebih pada
tanggung jawab; pemenuhan hak dan kewajiban dimana hak istri adalah kewajiban
suami dan hak suami adalah kewajiban istri; komunikasi yang lancar dan intensif
antara kedua belah pihak; bukan hanya secara verbal tapi juga secara
non-verbal, seperti memahami sinyal-sinyal, gejala, dan indikasi yang tersirat;
serta saling pengertian antara kedua belah pihak; dan tentu saja mau mengalah.
Ketika pernikahan hanya melibatkan suami dan istri, segalanya masih
terasa mudah untuk dijalani, ringan. Namun pernikahan tidak hanya antara suami
dan istri, karena sejatinya pernikahan adalah melibatkan keluarga kedua belah
pihak. Istri masuk dalam keluarga suami, dan suami masuk dalam keluarga istri.
Disini lebih dibutuhkan pemahaman, karena ketika satu individu kecil memasuki
institusi yang lebih besar, tentu menginginkan penerimaan dari institusi yang
lebih besar itu. Dan penerimaan ini hanya bisa terjadi ketika individu tersebut
bisa memahami kultur dan kebiasaan serta norma yang berlaku dalam institusi
itu. Berat sebelah? Memang! Karena dimana-mana yang dituntut untuk beradaptasi
adalah kelompok yang lebih kecil terhadap kelompok yang lebih besar. Itulah
sebabnya ketika berbicara mengenai survival for the fittest pasti bicara
tentang individu, dan kunci untuk hal ini adalah adaptasi. Habislah individu
yang tidak bisa beradaptasi, perlahan tapi pasti kehancuran masing-masing
individu akan membawa pada kepunahan kelompoknya, karena tak ada yang bisa
hidup sendiri tanpa kelompoknya. Dan pada saat individu masuk dalam institusi
yang lebih besar ini, keluarga, beberapa gesekan bisa terjadi. Entah karena
salah paham, mis komunikasi, atau memang issue yang sensitive.
Hal ini terjadi padaku. Di awal pernikahan segalanya baik-baik saja.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Dan hidup
seperti sebuah paket. Lahir, tumbuh, remaja, dewasa, lulus, bekerja, menikah,
punya anak… paket yang terakhir gagal terkirim sepertinya. Sehingga semua orang
mulai membunyikan alarm, seolah-olah bahaya besar sedang terjadi, like a
disaster that will cause someone deceased. Berawal dari pertanyaan, orang mulai
bertanya apakah aku sudah hamil, seolah-olah hamil adalah hak-ku, bukan hak
ilahi. Yaaa…ternyata hamil adalah hak ilahi, terserah Dia dengan semua hak
prerogatifnya terhadap semesta alam, termasuk aku yang hanya partikel kecil di
alam raya ini. Lalu berlanjut dengan desakan, kenapa aku ga segera hamil,
apakah sengaja ditunda atau memang belum hamil. Jujur..aku tidak pernah menunda
apapun, aku selalu ngeflow dengan jalannya hidupku, dan saat ini flow hidupku
seperti ini, didesak untuk mendapatkan paket yang memang belum terkirim.
Periode selanjutnya lebih pada saran dan nasihat yang terkadang agak
memaksa untuk berkunjung ke dokter ini dan itu, atau ke ahli alternative ini
dan itu, atau konsumsi ini dan itu, jangan begini dan begitu, lakukan ini dan
itu, tiresome.. Cause I did all those things they said! I read in papers, I’m
not a dumb. Tapi ada yang lebih menyakitkan ketika tiba-tiba disodorkan obat
mandul di depan mata, dear god atau holy shit..?! Entahlah..tapi aku mulai
merasa how unfair life is. Nothing is easy on me. Why me, god. Dan semua
cercaan serta makian entah pada siapa yang akhirnya aku tujukan pada my single
deity. Ketika amarah menggelegak dan tak tahu kemana ditujukan, maka tuhan adalah
sasaran terakhir yang paling baik. Dia toh tidak akan marah padaku, Dia tetap
akan diam saja, seperti biasanya.
Lalu karena desakan yang bertubi, pikiran mulai kalut, emosi menguasai
jiwa. Satu persatu desakan itupun kupenuhi. Satu persatu tempat dan tindakan
rujukan kujalani. Dompet menipis, tabungan mengempis untuk sesuatu yang jua berhasil.
Bahkan secara psikologis kehidupan kami mulai terganggu. Suamiku yang
berbadan sehat tanpa keluhan mulai merasa seperti orang sakit karena setiap
minggu harus ke rumah sakit bertemu dengan lelaki berjubah putih yang
meresepkan bermacam obat dan vitamin. Pikiranku pun mulai terkooptasi dengan
agenda yang harus dijadwalkan. Jika sebelumnya sex adalah sesuatu yang
menyenangkan, untuk melepas penat, stress, dan meraih kesenangan. Maka sex kami
berubah menjadi sebuah beban berat yang terjadwal. Aku selalu menandai
hari-hari dimana aku berovulasi dan menjaga sperma suamiku fit pada saat itu,
lalu mengajaknya ke kamar untuk melakukan ‘kewajiban’ yang sangat berat. Yaaa…kewajiban
sangat berat karena disana ada target untuk punya anak, untuk memenuhi harapan
semua orang, untuk menyenangkan semua orang. Sedemikian beratnya aktivitas itu
hingga kami pun tak mampu menjalaninya. Dan beban itupun semakin berat setiap
harinya. Karena orang-orang tak henti bertanya mengenai bocah kecil yang
seharusnya muncul sebagai hasil kerja keras kami. Dan semakin hari semakin
sulit kehidupan sex yang harus kami jalani. Sex bukan lagi hal yang
menyenangkan, tempat kami mengeksplorasi surga dunia. Tapi sex berubah menjadi
monster yang menyeramkan dimana terdapat tuntutan dari semua orang yang harus
dipenuhi.
Karena beratnya beban itu, maka kami pun mundur selangkah. Saat kami
sudah berjalan di kilometer 7, kami memutuskan untuk kembali lagi ke kilometer
3. Menata ulang semua yang sudah kami susun. Sedikit menutup mata dan telinga
serta tidak peduli dengan omongan orang. Mungkin kami adalah pasangan yang
menyebalkan bagi orang-orang di sekeliling kami. Tapi kami lebih bahagia dengan
hal yang kami kondisikan ini. Kami tidak bisa menyenangkan semua orang. Tapi
setidaknya kami bisa saling membahagiakan satu sama lain. Bukankah pernikahan
adalah untuk saling menjaga, melindungi, membahagiakan, dan mencari tempat yang
menenangkan? Ketika pernikahan berubah menjadi makhluk tak terkendali yang siap
menghancurkan kebahagiaan kami, maka sudah waktunya bagi kami untuk menata
ulang semuanya. Menyingkirkan makhluk itu dan menyusun kembali prioritas yang
kami impikan sejak awal.
Saat ini kami bahagia dengan apa yang kami miliki, lepas dari semua
keriuhan dan tuntutan yang disampaikan orang-orang di sekeliling kami. Kami
menikmati saat kami bangun pagi dan melihat satu sama lain masih bersama,
bersisian di ranjang yang sama. Kami menikmati saat kami berangkat bermimpi
dengan jemari tangan bertautan dan saling mengatakan “I love you”. Kami pun
menikmati aktivitas penyatuan dua individu dengan penuh kebahagiaan untuk
melepas segala penat tanpa beban yang harus dipanggul dan target yang harus
dipenuhi.
Orang bilang anak adalah harta karun akhirat, yang akan menolong kita
di akhirat dengan doa-doanya. Tapi bukankah anak lebih potensial untuk menjadi
jembatan ke neraka? So what’s the point of rushing and pushing? Let it be, let
it flow.
No comments:
Post a Comment