PAK TUA PENGATUR JALAN
Jakarta, 13 February 2012
Berkendara membelah lautan kendaraan di pagi hari jalanan Casablanca menuju ke tempat mengais rejeki adalah rutinitas bagi sebagian besar penduduk kota Jakarta. Di saat udara masih dingin dan sinar mentari masih redup, tatkala menarik selimut di atas kasur adalah kenikmatan yang luar biasa, dan membasahi tubuh dengan air dingin adalah sebuah kemalasan luar biasa; kami justru meyiramkan air dingin itu ke tubuh kami, bergegas mengenakan baju, dan segera turut melaju dalam deraman kendaraan dan asap knalpot yang tak pandang bulu siapa yang diterpa.
Memacu kendaraan dalam bungkusan jaket agar tetap hangat, meliuk-liuk di antara ribuan kendaraan lainnya yang berlomba menuju tempat bekerja masing-masing sambil menikmati tamparan angin yang marah karena terganggu langkah sepoinya. Di antara langkah mantap bis-bis besar, gerak lamban mobil-mobil pribadi, dan kayuhan pedal sepeda di tepi jalan, aku dan suamiku berzig-zag mencari jalan untuk kendaraan kami menuju kawasan senayan.
Padatnya jalan Casablanca setiap pagi, siang, sore, dan malam tanpa mengenal hari libur maupun hari kerja tak sedikit pun meyurutkan langkah kami tuk menyibak keramaiannya. Inilah ikhtiar untuk mencari rizqi penyambung hidup kami. Meski seringkali tehalang mobil pribadi yang ditumpangi satu orang saja, maupun angkot yang berhenti seenaknya, kami tetap berlalu menuju kantor kami.
Tak terasa ujung kemacetan hampir berakhir. Sebentar lagi kami harus berbelok kiri ke jalan kampong di dekat Pasar Karet Belakang, sekedar sedikit menikmati jalanan yang lengang meski berliku-liku. Tapi lumayan untuk mencicipi udara yang lebih bersih dan bebas dari aroma pekat dan pedih knalpot.
Di ujung belokan jalan, di belakang Plaza Semanggi, selalu kulihat seorang bapak tua berkaus pink pudar dan celana hitam kusam berusaha mengatur jalannya lalu lintas agar para pengendara tidak bersenggolan karena tikungan tajam tertutup tembok. Dengan berdiri di atas kaki lemahnya, sambil sesekali berjalan gontai dia melambai-lambaikan tangannya menata arus pemakai jalan. Wajahnya tua dengan pipi yang kempot dan gigi yang sudah tanggal pula, tubuhnya kurus dan telihat lemah di atas kaki yang juga tak lagi tampak kuat menopangnya. Tapi niatnya untuk mengatur arus jalan kelihatan masih cukup kuat untuk menegakkan tubuh tua itu. Terkadang dia mengangkat tangannya agar mobil dari arah berlawanan dengan ku berhenti dulu hingga kami semua lewat, baru dia menurunkan tangannya sambil memberi aba-aba agar mobil itu lewat. Jalanan yang tidak terlalu besar ini memang memungkinkan terjadinya singgungan jika semua harus lewat bersamaan di pengkolan jalan itu.
Aku menengok wajah tirusnya, bola matanya tak mampu menutupi kenyataan bahwa dia sudah sangat tua, meski masih berdiri di atas kedua kaki kurus itu. Mata itu berwarna coklat pudar. Kulit keriput di sekeliling mata itupun tampak sudah sangat uzur.
Dan aku pun bertanya-tanya, apakah dia seorang diri didunia ini? Tidak adakah anak-anak yang menyantuninya agar dia bisa menikmati hari tuanya bersama cucu-cucu? Ataukah dia sebegitu bersemangat untuk membiayai hidupnya sendiri agar tidak membebani anak cucunya?
Beberapa motor dan mobil melewatinya begitu saja. Tak terlihat ada tangan yang melebar sekedar untuk menebar sedikit rizqi untuk pak tua itu. Mungkin dia ikhlas mengatur jalan ini, tapi apa salahnya jika sedikit berbagi sekedar untuk dia beli makanan atau baju dinas gantinya. Toh tak kan jadi miskin juga mereka dengan sedikit berbagi pada orang lain. Bukankah menjadi tanggung jawab kita juga sebagai sesama manusia untuk membagikan rizqi dari Allah? Bukankah dalam setiap receh rizqi kita, Allah menitipkan hak orang-orang yang renta dan papa seperti pak tua pengatur jalan itu?
Melihat wajah tuanya, terbayang wajah bapak di kampong. Nun jauh di pinggiran kota solo sana. Meski bapak masih gagah dan bisa mengendarai mobil maupun motor, tapi sedih rasanya membayangkan jika bapakku harus seperti pak tua itu. Tak terperi pedihnya hati ini jika sampai bapak yang sudah bersusah payah sepanjang hidupnya hingga aku dewasa, masih pula harus berdiri di jalanan di atas kaki rapuhnya sekedar untuk menopang hidupnya. Tak tega bahkan hanya sekedar untuk membayangkannya. Pilu hatiku... Tak terasa butiran air hangat merembes keluar dari mataku dan membasahi pipiku.
Ya Allah, jika masih ada usiaku, perkenankan aku untuk merawat kedua orang tuaku. Ijinkan aku untuk sekedar berbagi rizqi dan kebahagiaan dengan kedua orang tuaku. Jangan biarkan orang tuaku seperti pak tua pengatur jalan itu. Ampuni mereka, lindungi mereka dan limpahilah kebahagiaan di penghujung usia mereka. Ijinkanlah segaris senyuman selalu menghiasi wajah mereka setiap waktu.
No comments:
Post a Comment