Thursday, November 29, 2012

AND THEY LIVE HAPPILY EVER AFTER…

Menikah dan menjadi seorang istri adalah kisah romantic yang selalu diidamkan oleh para gadis, sejak masih gadis kecil hingga menjadi gadis remaja lalu gadis dewasa. Menemukan sang pangeran berkuda putih dengan jubah megah dan pedang di tangan, seolah dialah yang akan selalu menjaga dan melindungi si gadis seperti sang ayah selalu menjaga dan melindunginya sejak masih bayi hingga beranjak dewasa lalu melepaskan menuju gerbang pernikahan.

Hidup bersama dengan sang pangeran bak kisah negeri dongeng yang dilimpahi hidup bahagia tanpa aral dan onak hingga maut memisahkan, seolah menjadi plot utama dalam kisah mimpi-mimpi para gadis yang hendak melepas masa lajangnya. Menghabiskan sisa hidup dengan pujaan hati, membesarkan anak-anak, lalu berlari dan bercanda dengan cucu-cucu. Gambaran yang sangat indah..

And they live happily ever after..benarkah?

Cukupkah dengan menikahi pria idaman lalu kita akan bahagia selamanya?

Cukupkah cinta saja sebagai bekal pernikahan kita?

Tidak.. TIDAK..

Pernikahan tidaklah sesimple yang ada di negeri dongeng, meskipun kita menikahi pria idaman kita tapi tetap tidak semudah itu untuk hidup bahagia selamanaya, walaupun kadar cinta kita 24 karat sekalipun. Karena dalam pernikahan terdapat bermacam-macam elemen yang harus dipenuhi. Cinta…ya..di awal-awal pernikahan cintalah yang membangkitkan hasrat untuk bersatu. Tapi selanjutnya diperlukan lebih banyak perhatian, kejujuran, komunikasi, dan tanggung jawab.

Pernikahan adalah sebuah proses penjajaran dua orang yang sangat berbeda agar bisa berjalan beriringan, sejalan dalam pikiran, harmonis dalam tindakan, tanpa ada paksaan ataupun dominasi satu atas yang lain. Pernikahan tidaklah sesimpel kisah negeri dongeng. Karena pernikahan realitas tidak cukup hanya melibatkan pria dan wanita, tapi juga pernikahan antara seorang pria dengan keluarga besar wanita, pernikahan wanita dengan keluarga besar pria, serta pernikahan antara keluarga besar itu sendiri. Pernikahan pun memerlukan pencukupan kebutuhan, fisik dan rohani.

Pun demikian halnya dengan kebahagiaan. Kebahagiaan adalah sebuah proses panjang tak berkesudahan. Sebuah proses untuk menjadi bahagia. Dan ini pun tidak mudah, karena bahagia tidaklah mutlah, sangat nisbi. Seorang anak kecil akan sangat bahagia hanya karena bolanya yang hilang ditemukan lagi. Tapi seorang perempuan bisa jadi justru lebih bahagia saat kehilangan kekasihnya, meskipun pada awalnya diwarnai kesedihan dan mungkin cucuran air mata.

Meraih kebahagiaan dalam pernikahan pun bukanlah tanpa effort. Diperlukan effort dari kedua belah pihak, pria dan wanita. Dituntut untuk bisa saling menempatkan diri dan mengalah. Rasanya tak heran mengapa dalam Islam dinyatakan bahwa menikah adalah sebagian dari ibadah. Karena disinilah manusia benar-benar dituntut untuk berusaha, bersabar, ikhlas; bukan sekedar teori tapi benar-benar harus menjalani. Melalui pernikahan pula, manusia harus bisa mengalahkan egonya sendiri sesuai ajaran berpuasa. Dalam pernikahan pula, manusia harus pandai-pandai mengatur emosi dan berhati-hati mengambil keputusan, karena sedikit saja salah melangkah akan menghancurkan segalanya. Sangat mudah untuk sekedar menikah, tapi mempertahankan pernikahan itulah yang membutuhkan semua potensi diri kita.
 
Terkadang, setelah menikah kita mendapati orang yang kita nikahi bukanlah orang yang kita pacari dahulu. Jika dulu semuanya serba menyenangkan, kini semuanya serba menuntut tanggung jawab. Sehingga perlahan-lahan pasangan kita, atau justru kita sendirilah, yang berubah karena besarnya tuntutan yang harus dipenuhi. Terkadang, salah satu tidak sanggup menerima perubahan itu, sehingga menyerah dan memutuskan untuk berhenti. Namun sekali lagi, usaha terbesar yang harus diberikan adalah mempertahankan pernikahan itu. Kita bisa menikah sejuta kali dalam hidup ini. Tapi pernikahan sekali seumur hidup itulah yang dihargai dengan logam dan batu mulia.   

No comments:

Post a Comment