Wednesday, July 2, 2014

Sepenggal Kisah Umrah di Madinah & Makkah

Sepenggal Kisah Umrah di Madinah & Makkah
KSA, 20-26 Mei 2014
Sudah sejak lama keinginan untuk beribadah di tanah suci terbersit di pikiranku, namun karena merasa belum cukup baik dan merasa beratnya tanggungan yang harus disandang sepulang dari tanah suci, maka hasrat itu sering kali terkubur dalam tumpukan kertas pekerjaan di kantor serta tetek bengek urusan rumah yang tak ada habisnya.

 Akhirnya setelah segala kekusutan sedikit demi sedikit terurai, hasrat itu pun menemukan jalannya untuk terpenuhi. Berawal di bulan Oktober 2013, kami bertemu dengan seorang ibu yang mengajak untuk turut serta dalam rombongannya, berangkat umrah di bulan Mei 2014. Memang cukup lama harus menunggu, tapi justru masa tunggu itu bisa aku dan suamiku gunakan untuk lebih mempersiapkan diri. Seperti untuk mengurus suntik meningitis, menyiapkan pas foto dan segala macam dokumen lainnya, juga baju-baju yang pantas dipakai di rumah orang, apalagi untuk perempuan seperti aku. Sebagai tamu tentunya kami, terutama aku, harus menghormati aturan yang berlaku di rumah orang lain. Bukankah dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung?

Ketika bulan Mei 2014 tiba, jantung serasa berdegup lebih kencang, menunggu tanggal yang dijanjikan untuk berangkat ke tanah suci. Aku mulai mengkonsumsi obat pengatur haid di awal bulan Mei 2014, karena jadwal keberangkatan bertepatan dengan jadwal bulananku. Dengan koper yang disediakan oleh biro perjalanan, aku pun mulai packing untuk mengatur apa saja yang harus kami bawa dan bagaimana supaya bisa muat dalam satu koper masing-masing untuk aku dan suamiku.

Dan tanggal yang ditunggu pun tiba. Hari Selasa, 20 Mei 2014, dini hari kami terbang bersama ratusan jamaah lainnya dengan pesawat Flynas, langsung dari Soekarno Hatta ke King Abdul Azis Airport di Jeddah. Perjalanan di udara berlangsung selama 9 jam 35 menit yang sebagian besar aku lalui dengan tidur, karena dengan seat untuk tiga orang, hanya terisi aku dan suamiku, jadi aku dan suamiku masih bisa bergantian merebahkan tubuh. Suamiku lebih banyak terjaga daripada aku, sedangkan aku hanya terjaga untuk menikmati hidangan yang disajikan pukul 5 pagi dan pukul 12 siang. Hidangan yang disajikan cukup nikmat dari segi rasa, dan juga cukup menggoda dari segi jenis hidangannya. Ditambah air putih serta jus buah, cukuplah untuk merecharge energy.

Setelah proses landing yang mulus, kami harus menunggu sekitar dua jam untuk proses pengambilan barang di bagasi dan antre imigrasi. Kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan bus menuju Madinah. Perjalanan ini berlangsung sekitar 5 jam, cukup lama, mungkin karena kami mampir ke Masjid Terapung untuk menunaikan sholat Dzuhur dan Ashar serta makan siang disana. Sedikit tentang Masjid Terapung, karena kami datang pada saat laut tidak pasang, maka kami bisa melihat pilar-pilar penyangganya. Toilet disini bersih dengan menggunakan semacam teko air untuk beristinja. Lelaki mendirikan sholat di dalam masjid, sedangkan perempuan mendirikan sholat di bagian luar masjid. Banyak sekali pejual disekitar masjid, terutama penjual makanan dan souvenir. Burung dara yang bersih juga tampak di sekitar masjid, terbang bersama hembusan angin laut.

Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya kami tiba di hotel yang berjarak sekitar 100 meter dari halaman Masjid Nabawi. Kami mandi dan sholat Maghrib di hotel, kemudian berangkat ke Masjid Nabawi untuk sholat Isya. Masjid Nabawi sangat Indah dengan pilar tinggi dan besar, plafon berhias warna kuning seperti emas, menara serta payung-payung yang menutup, dan karpet tebal dalam baluran sinar lampu yang terang. Sholat tahiyatul masjid langsung didirikan begitu mendapat tempat di dalam Masjid Nabawi, masjidnya Rasulullah. Suasana religious mulai terasa kuat saat adzan berkumandang. Suara adzan disini berbeda dengan di Indonesia. Disini, adzan diawali dengan suara datar lalu meninggi melalui speaker yang menggemakan suara dengan bagus dan bening. Pada saat sholat, imam membacakan surat yang cukup panjang dengan suara yang dalam dan menenangkan, lalu setiap takbiratul ihram suara imam seperti dipantulkan oleh second imam dengan suara yang lebih melengking, nyaring, dan panjang.

Pada hari biasa, aku dan suamiku menyempatkan diri untuk menikmati Masjid Nabawi. Di siang hari payung di halaman masjid terkembang untuk melindungi jamaah  yang sholat diluar dari terik matahari. Pad hari Jumat, setelah Sholat Jumat, atap masjid bergeser terbuka dan membiarkan sinar matahari menerpa karpet-karpet masjid. Mungkin itu sebabnya meski tebal dan sering terinjak kaki yang basah, tapi karpet disini tidak berbau. Di malam hari, cahaya kuning dari lampu menerangi pintu-pintu masjid yang berwarna keemasan. Air zamzam tersedia di setiap koridor yang dapat diminum oleh para jamaah, gratis, dengan gelas plastic bersih, bahkan jamaah boleh membawa pulang air zamzam dengan botol minuman masing-masing.

Selama di Madinah, kami juga menyempatkan diri untuk sholat di Raudhah yang sangat penuh sesak oleh jamaah lainnya. Diperlukan kesabaran hati dan kekuatan fisik untuk beribadah disana karena antrean yang sangat panjang serta kondisinya yang berjubel. Disitu terdapat makam Rasulullah beserta kedua sahabatnya Abu Bakar asy Shidiq & Umar bin Khattab, serta sebuah makam kosong yang alkisah disiapkan untuk makam Isa as di akhir jaman nanti.

Selain itu kami juga mengikuti tour ke Jabal Uhud, gunung dimana terjadi peperangan Uhud dan bala tentara muslim kalah perang karena tidak mengikuti perintah Rasulullah. Makam para sahabat yang tewas dalam peperangan Uhud juga ada di kaki gunung, rupanya disana makam hanya berupa tanah datar saja, tanpa papan nama, apalagi bangunan berkeramik seperti disini. Masjid Quba yang diriwayatkan sebagai tempat sholat dua rakaat berpahala sepadan dengan menjalankan ibadah umrah juga kami kunjungi. Selanjutnya kami menuju perkebunan kurma, dimana kami boleh mengumpulkan kurma muda yang jatuh dari pohonnya, tapi tidak boleh memetik langsung dari pohon. Alkisah kurma muda dapat membantu meyuburkan organ reproduksi pasangan, jadi kami bersemangat mengumpulkannya sambil berharap doa kami untuk memiliki keturunan diijabah Allah.

Setelah sholat Jumat, kami berangkat ke Makkah mengendarai bus. Perjalanan berlangsung selama 7 jam, dimana kami sudah mandi besar serta berbaju putih untuk persiapan ibadah umrah. Kami mengambil miqat di Masjid Bir Ali dan kembali melanjutkan perjalanan menuju hotel terlebih dahulu. Entah bagaimana kami baru tiba di hotel, di daerah Misfallah pukul 11 malam. Setelah makan malam dan bersuci, kami berjalan kaki menuju Masjidil Haram yang berjarak sekitar 500 meter dari hotel.

Tiba di Masjidil Haram, kami masuk melalui King Abdul Azis Gate dan setelah berjalan beberapa langkah, di depan mataku terpampang Kabah, rumah Allah, dalam balutan kiswah hitam dengan tulisan Arab dari benang emas. Tampak agung sekaligus anggun, perkasa sekaligus ramah mengundang kami mendekat. Tanpa terkontrol, mataku terasa panas dan air mata yang kubendung kuat mulai meleleh. Saat bersujud, roboh semua benteng yang kubangun, aku menangis sesenggukan dalam uraian istighfar dalam hati serta lontaran bibirku. Terasa kecil sekali diri ini di hadapan Allah, hancur luluh semua ego diri yang ada selama ini, porak poranda segala keakuan yang menguasai sanubari ini. Terasa berat sekali badan ini untuk bangkit dari sujud di depan rumah Allah.

Lewat tengah malam itu juga kami menjalankan ibadah umrah, diawali dengan thawaf, berjalan mengelilingi Kabah tujuh kali, dilanjutkan dengan sa’I, berjalan dari bukit shafa ke bukit marwah bolak-balik tujuh kali seperti saat Siti Hajar mencarikan air minum untuk puranya, Nabi Ismail as, kemudian tahalul, yaitu memotong rambut sebagai pamungkas kegiatan umrah. Umrah kedua dilakukan siang hari, saat matahari berada di puncaknya. Airmata pun tak berhenti bercucuran selama tujuh putaran thawaf. Rasa syahdu meliputi hati dan pikiran. Suatu pagi selepas sholat dhuha di Masjdil Haram, ketika mengunjungi Kabah berdua saja dengan suamiku, kami berkesempatan untuk sholat di Hijr Ismail, melihat di dalam Maqam Ibrahim, serta mencium Kabah di bagian Rukun Yamani, bagian Kabah yang tidak tertutup Kiswah. Semerbak wangi Kabah (atau Kiswah?) tak hilang dari telapak tanganku nyaris sepanjang hari itu. Bahkan aroma itu masih sering tercium saat aku sudah kembali ke tanah air.

Suara adzan di Masjidil Haram berbeda lagi dengan yang di Masjid Nabawi. Imam pun membacakan surat yang lebih pendek daripada di Masjid Nabawi. Selain itu, kota Madinah juga lebih tertata dan bersih dibanding kota Makkah. Satu persamaannya, di kedua kota ini banyak ditemukan burung dara dengan makanan berserakan disekitar, tapi tidak ada kotorannya sama sekali. Aneh, bukan?

Selama di Makkah, kami melakukan perjalanan ke beberapa tempat. Jabal Rahmah, tugu besar di atas gunung yang menjadi tempat pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa. Jabal Magnit, sebuah tempat dimana mobil berjalan sendiri dengan posisi gigi 0 di jalur landai. Serta beberapa masjid lain yang juga kami kunjungi.
Hari terakhir di Makkah, terasa berat sekali untuk meninggalkan Kabah. Ada keinginan untuk tinggal lebih lama, atau bahkan selamanya, dan beribadah disana. Ada kerinduan mengiris jiwa, bahkan saat aku belum pergi meninggalkannya. Tapi kehidupan terus berjalan, setelah thawaf wadha, aku berlalu tanpa menengok lagi Kabah. Aku pergi meninggalkan sekeping hatiku disana dengan tetesan airmata, membawa segumpal kenangan dan segenggam hasrat untuk kembali lagi kesana. Insya Allah..aku akan kembali mengunjungi rumahmu lagi, ya Allah..     


No comments:

Post a Comment