Sunday, October 16, 2011

Yesterday was suck!

Suamiku sedang sangat tersiksa raganya karena radang tenggorokan, setiap kali dia selalu terbatuk-batuk dan merasa pengin muntah. Belum lagi ditambah dengan perutnya yang juga bermasalah. Bahkan pagi-pagi pun sudah harus berakrab ria dengan pijatan dan kerikan yang meninggalkan bekas merah tua di punggungnya.
Namun anehnya, di siang hari dia beli satu plastik krupuk tengiri berisi 5 buah krupuk. Wajahnya kelihatan senang sekali dan matanya pun seperti sudah terbayang nikmatnya krupuk itu. Tapi karena mengingat kondisinya yang sedang tidak baik, terutama tenggorokannya, maka aku pun melarangnya untuk mengkonsumsi krupuk itu. Aku bilang kenikmatan sesaat itu hanya akan membuat dia semakin menderita dan kesakitan.
Pada awalnya dia masih menerima laranganku, walaupun dia juga terus berusaha agar bisa aku ijinkan. Katanya makan secuil saja buat ngilangin kepengen. Tapi aku keukeuh melarangnya dengan alasan kesehatan. Sampai akhirnya setelah sholat maghrib, tiba-tiba dia ke ruang tengah dan baca Qur’an tanpa bilang apa-apa, aku pikir tidak ada apa-apa juga dengan hal itu, biasanya juga begitu. Tapi sekembalinya dari ruang tengah, tiba-tiba dia melontarkan statement yang cukup mengagetkan dan menyakitkan buatku. Katanya:
Aku heran sama kamu, Jo. Ternyata cara kita mencintai sangat berbeda, ketika kamu sakit dan pengen sesuatu aku tetap mengijinkan walau sedikit. Aku senang ketika bisa membuatmu senang. Tapi ketika aku pengen krupuk, kamu benar-benar tidak mengijinkanku makan walau cuma sedikit, sekedar buat ngilangin kepengenku.“
Lalu waktu aku suruh dia makan sesuka yang dia mau, dia bilang, Semuanya udah terlambat.“
Memang sepertinya bukan apa-apa, tapi buatku sangat menyakitkan. Betapa tidak! Hanya karena kerupuk dan itupun demi dirinya sendiri, dia tega mengatakan kalimat itu, seolah-olah aku tidak pernah membuatnya senang! Apa iya, ijin makan krupuk itu sebagai tanda cinta? Seingatku, dia pernah bilang bahwa cinta orang tua adalah cinta yang paling besar walau kadang seorang anak tidak memahaminya dan menganggap mereka tidak mencintainya. Bahkan ketika itu dia pun mencontohkan tentang anak kecil yang sedang pilek dan pengin es krim tapi dilarang oleh orang tuanya. Es krim baru diberikan setelah si anak benar-benar sembuh. Atau pemahaman itu hanya sepintas saja terlintas di benaknya? Atau bahkan mungkin hanya sekedar basa-basi pemanis bibir?
Entahlah..yang pasti kalimat itu sangat menyakitiku. Aku pun terdiam cukup lama, untuk beberapa jam, sudah jadi prinsipku untuk tidak berbicara ketika terluka, karena nantinya hanya akan menimbulkan luka-luka yang lain. Lebih baik diam daripada bicara menyakitkan. Aku akan baik-baik saja, nantinya semua akan kembali normal lagi. Dan memang, setelah membaca Yasin, rasa sakit itu sudah pergi, meski lukanya masih menganga dalam. Kesedihan itu sudah hilang, walau ternyata keadaan sudah tidak sama lagi. Kalimat itu melunturkan rasa yang telah terbangun selama ini, tidak hilang..hanya luntur. Aku terluka dan sangat kecewa…..
Mungkin ini teguran dari Allah juga, aku telah menduakan rasa cintaku pada Allah. Aku telah menomorduakan Allah di hatiku. Zat yang tak penah menyakitiku seberapa pun dalamnya cintaku padanya. Cinta yang berbeda. Cinta pada Allah menguatkan dan tidak menyakitkan. Sedang cinta pada manusia, sekuat apapun akan membawa rasa sakit pada saat tertentu. Karena manusia tidak sempurna, hanya Allah yang sempurna.
Baiklah..aku tidak akan melarang-larang lagi. Biarlah semua berjalan sekehendaknya dan aku pun akan berjalan sekehendakku dengan ijin Allah saja, sesembahanku. Meskipun kemudian dia berusaha bersikap biasa dan manis padaku, tapi semua sudah terlambat. Kata yang telah terucap bagaikan anak panah yang telah lepas dari busurnya, tak dapat ditarik lagi. Telah menancap dan menimbulkan luka.
Maafkan aku, suamiku sayang..tapi semua memang sudah terlambat..