Suamiku sedang sangat tersiksa raganya karena radang tenggorokan, setiap kali dia selalu terbatuk-batuk dan merasa pengin muntah. Belum lagi ditambah dengan perutnya yang juga bermasalah. Bahkan pagi-pagi pun sudah harus berakrab ria dengan pijatan dan kerikan yang meninggalkan bekas merah tua di punggungnya.
Namun anehnya, di siang hari dia beli satu plastik krupuk tengiri berisi 5 buah krupuk. Wajahnya kelihatan senang sekali dan matanya pun seperti sudah terbayang nikmatnya krupuk itu. Tapi karena mengingat kondisinya yang sedang tidak baik, terutama tenggorokannya, maka aku pun melarangnya untuk mengkonsumsi krupuk itu. Aku bilang kenikmatan sesaat itu hanya akan membuat dia semakin menderita dan kesakitan.
Pada awalnya dia masih menerima laranganku, walaupun dia juga terus berusaha agar bisa aku ijinkan. Katanya makan secuil saja buat ngilangin kepengen. Tapi aku keukeuh melarangnya dengan alasan kesehatan. Sampai akhirnya setelah sholat maghrib, tiba-tiba dia ke ruang tengah dan baca Qur’an tanpa bilang apa-apa, aku pikir tidak ada apa-apa juga dengan hal itu, biasanya juga begitu. Tapi sekembalinya dari ruang tengah, tiba-tiba dia melontarkan statement yang cukup mengagetkan dan menyakitkan buatku. Katanya:
Aku heran sama kamu, Jo. Ternyata cara kita mencintai sangat berbeda, ketika kamu sakit dan pengen sesuatu aku tetap mengijinkan walau sedikit. Aku senang ketika bisa membuatmu senang. Tapi ketika aku pengen krupuk, kamu benar-benar tidak mengijinkanku makan walau cuma sedikit, sekedar buat ngilangin kepengenku.“
Lalu waktu aku suruh dia makan sesuka yang dia mau, dia bilang, Semuanya udah terlambat.“
Memang sepertinya bukan apa-apa, tapi buatku sangat menyakitkan. Betapa tidak! Hanya karena kerupuk dan itupun demi dirinya sendiri, dia tega mengatakan kalimat itu, seolah-olah aku tidak pernah membuatnya senang! Apa iya, ijin makan krupuk itu sebagai tanda cinta? Seingatku, dia pernah bilang bahwa cinta orang tua adalah cinta yang paling besar walau kadang seorang anak tidak memahaminya dan menganggap mereka tidak mencintainya. Bahkan ketika itu dia pun mencontohkan tentang anak kecil yang sedang pilek dan pengin es krim tapi dilarang oleh orang tuanya. Es krim baru diberikan setelah si anak benar-benar sembuh. Atau pemahaman itu hanya sepintas saja terlintas di benaknya? Atau bahkan mungkin hanya sekedar basa-basi pemanis bibir?
Entahlah..yang pasti kalimat itu sangat menyakitiku. Aku pun terdiam cukup lama, untuk beberapa jam, sudah jadi prinsipku untuk tidak berbicara ketika terluka, karena nantinya hanya akan menimbulkan luka-luka yang lain. Lebih baik diam daripada bicara menyakitkan. Aku akan baik-baik saja, nantinya semua akan kembali normal lagi. Dan memang, setelah membaca Yasin, rasa sakit itu sudah pergi, meski lukanya masih menganga dalam. Kesedihan itu sudah hilang, walau ternyata keadaan sudah tidak sama lagi. Kalimat itu melunturkan rasa yang telah terbangun selama ini, tidak hilang..hanya luntur. Aku terluka dan sangat kecewa…..
Mungkin ini teguran dari Allah juga, aku telah menduakan rasa cintaku pada Allah. Aku telah menomorduakan Allah di hatiku. Zat yang tak penah menyakitiku seberapa pun dalamnya cintaku padanya. Cinta yang berbeda. Cinta pada Allah menguatkan dan tidak menyakitkan. Sedang cinta pada manusia, sekuat apapun akan membawa rasa sakit pada saat tertentu. Karena manusia tidak sempurna, hanya Allah yang sempurna.
Baiklah..aku tidak akan melarang-larang lagi. Biarlah semua berjalan sekehendaknya dan aku pun akan berjalan sekehendakku dengan ijin Allah saja, sesembahanku. Meskipun kemudian dia berusaha bersikap biasa dan manis padaku, tapi semua sudah terlambat. Kata yang telah terucap bagaikan anak panah yang telah lepas dari busurnya, tak dapat ditarik lagi. Telah menancap dan menimbulkan luka.
Maafkan aku, suamiku sayang..tapi semua memang sudah terlambat..
Sunday, October 16, 2011
Thursday, August 18, 2011
Berbagi Kisah Para Istri
Berbagi Kisah Para Istri
Usia pernikahan yang telah di ambang tiga tahun dan masih juga belum adanya tanda-tanda kehadiran buah hati, menghadirkan keresahan, jiwa dan raga. Apalagi jika kondisi ini ditambah dengan desakan dari lingkungan sekitar yang bukannya memberikan dukungan tapi malah mencari kesalahan salah satu pihak. Seolah-olah pernikahan hanya melulu tentang pengembangbiakan ras manusia. Bukan sebuah usaha memuliakan hubungan antar manusia untuk saling melengkapi dan mengisi.
Memang kerinduan itu selalu hadir dan menyeruak, namun apa hendak dikata jika memang keadaan belum mengijinkan. Meskipun berbagai usaha juga telah dilakukan untuk memperbaiki keadaan, tapijika memang Yang Punya Hidup belum menghendaki tetaplah kerinduan itu hanya sebatas kerinduan yang masih belum bertepi, entah sampai kapan....
Terkadang kondisi ini terasa lebih berat bagi para istri, karena memang masyarakat cenderung untuk menyalahkan para perempuan dalam keadaan apapun. Lihat saja ketika seorang perempuan diculik, disekap dan diperkosa; tetap perempuan itu yang dicari-cari kesalahannya, entah karena bajunya atau pergaulannya atau sikapnya. Padahal sebuah kejahatan pemerkosaan seperti itu, tetap menyisakan korban dan pelaku. Apapun baju si perempuan, bagaimana pun dia bersikap, atau bahkan dengan siapa pun dia bergaul sama sekali bukan alasan bagi seorang manusia berjenis kelamin lelaki untuk menurunkan derajatnya ke level binatang dengan melakukan pemaksaan seksual pada seorang perempuan.
Pun demikian adanya dengan seorang istri yang masih menyimpan kerinduan akan buah hati, tidak bisa semudah itu dipersalahkan sebagai pihak yang lemah karena kondisi ini. Bukankah benih itu dari lelaki? Bukankah perempuan hanya sekedar tempat menumbuhkan benih tersebut? Tapi kenapa selalu perempuan yang dituding mandul, tidak bisa punya anak, dlsb…? Bahkan sering kali tudingan itu hanya sekadar tudingan tanpa melalui tindakan medis yang memadai hmmmmmmh….
Pernahkah mereka, para hakim yang kejam itu, memikirkan bagaimana jika kondisi tersebut terjadi pada dirinya sendiri atau anak gadis kesayangannya? Bagaimana mereka akan menyikapi berbagai tudingan dan tuduhan tak berdasar tersebut? Akankah mereka bisa menerimanya dengan lapang dada seperti yang mereka tuntut pada para istri yang didera kerinduan tersebut? Atau kah mereka justru akan merasakan hati mereka remuk jadi puing-puing debut yang beterbangan dihembus deru napasnya sendiri?
Karena sesungguhnya, ketika kerinduan itu menyergap yang bisa dilakukan oleh para istri hanya bersabar sambil meminta pada Yang Punya Hidup agar diberi mukjizat untuk dapat melepas kerinduan itu dengan merasakan indahnya hamil dan nikmatnya menimang sang buah hati. Sebesar apapun dana yang dikeluarkan, sekuat apapun usaha yang dilakukan segalanya berpulang pada Yang Punya Hidup. Tak ada yang benar-benar bisa dilakukan manusia dalam hal ini. Hasrat untuk memuaskan kerinduan ini adalah sesuatu yang tidak dapat dikontrol oleh manusia. Seorang perempuan masih bisa memaksa lelaki untuk menikahinya, entah dengan iming-iming uang maupun dengan tekanan senjata. Namun professor yang paling hebat sekalipun tak pernah sanggup memaksa Yang Punya Hidup untuk menganugerahi sepasang suami istri dengan keturunan, ini adalah sesuatu diluar control manusia.
Andai semua orang di lingkungan terdekat para istri bisa memahami hal ini, tentu akan terasa lebih ringan beban seorang istri yang masih memendam kerinduan tersebut. Andai mereka bisa memberikan dukungan dan sedikit pengertian, tentu akan sangat berkurang beban yang yang harus ditanggung para istri ini. Andai mereka bisa melepaskan para perempuan dari berbagai tuntutan masyarakat, pasti akan sangat indah kehidupan suami istri dengan ataupun tanpa keturunan. Namun kenyataannya, dalam banyak kondisi justru orang terdekat para istri inilah yang memberikan beban dan tuntutan yang terlalu besar hingga semakin berat beban yang harus disangganya. Tak heran jika sering kali bumi pertiwi menangis setiap kali para istri ini menitikkan air mata...
Usia pernikahan yang telah di ambang tiga tahun dan masih juga belum adanya tanda-tanda kehadiran buah hati, menghadirkan keresahan, jiwa dan raga. Apalagi jika kondisi ini ditambah dengan desakan dari lingkungan sekitar yang bukannya memberikan dukungan tapi malah mencari kesalahan salah satu pihak. Seolah-olah pernikahan hanya melulu tentang pengembangbiakan ras manusia. Bukan sebuah usaha memuliakan hubungan antar manusia untuk saling melengkapi dan mengisi.
Memang kerinduan itu selalu hadir dan menyeruak, namun apa hendak dikata jika memang keadaan belum mengijinkan. Meskipun berbagai usaha juga telah dilakukan untuk memperbaiki keadaan, tapijika memang Yang Punya Hidup belum menghendaki tetaplah kerinduan itu hanya sebatas kerinduan yang masih belum bertepi, entah sampai kapan....
Terkadang kondisi ini terasa lebih berat bagi para istri, karena memang masyarakat cenderung untuk menyalahkan para perempuan dalam keadaan apapun. Lihat saja ketika seorang perempuan diculik, disekap dan diperkosa; tetap perempuan itu yang dicari-cari kesalahannya, entah karena bajunya atau pergaulannya atau sikapnya. Padahal sebuah kejahatan pemerkosaan seperti itu, tetap menyisakan korban dan pelaku. Apapun baju si perempuan, bagaimana pun dia bersikap, atau bahkan dengan siapa pun dia bergaul sama sekali bukan alasan bagi seorang manusia berjenis kelamin lelaki untuk menurunkan derajatnya ke level binatang dengan melakukan pemaksaan seksual pada seorang perempuan.
Pun demikian adanya dengan seorang istri yang masih menyimpan kerinduan akan buah hati, tidak bisa semudah itu dipersalahkan sebagai pihak yang lemah karena kondisi ini. Bukankah benih itu dari lelaki? Bukankah perempuan hanya sekedar tempat menumbuhkan benih tersebut? Tapi kenapa selalu perempuan yang dituding mandul, tidak bisa punya anak, dlsb…? Bahkan sering kali tudingan itu hanya sekadar tudingan tanpa melalui tindakan medis yang memadai hmmmmmmh….
Pernahkah mereka, para hakim yang kejam itu, memikirkan bagaimana jika kondisi tersebut terjadi pada dirinya sendiri atau anak gadis kesayangannya? Bagaimana mereka akan menyikapi berbagai tudingan dan tuduhan tak berdasar tersebut? Akankah mereka bisa menerimanya dengan lapang dada seperti yang mereka tuntut pada para istri yang didera kerinduan tersebut? Atau kah mereka justru akan merasakan hati mereka remuk jadi puing-puing debut yang beterbangan dihembus deru napasnya sendiri?
Karena sesungguhnya, ketika kerinduan itu menyergap yang bisa dilakukan oleh para istri hanya bersabar sambil meminta pada Yang Punya Hidup agar diberi mukjizat untuk dapat melepas kerinduan itu dengan merasakan indahnya hamil dan nikmatnya menimang sang buah hati. Sebesar apapun dana yang dikeluarkan, sekuat apapun usaha yang dilakukan segalanya berpulang pada Yang Punya Hidup. Tak ada yang benar-benar bisa dilakukan manusia dalam hal ini. Hasrat untuk memuaskan kerinduan ini adalah sesuatu yang tidak dapat dikontrol oleh manusia. Seorang perempuan masih bisa memaksa lelaki untuk menikahinya, entah dengan iming-iming uang maupun dengan tekanan senjata. Namun professor yang paling hebat sekalipun tak pernah sanggup memaksa Yang Punya Hidup untuk menganugerahi sepasang suami istri dengan keturunan, ini adalah sesuatu diluar control manusia.
Andai semua orang di lingkungan terdekat para istri bisa memahami hal ini, tentu akan terasa lebih ringan beban seorang istri yang masih memendam kerinduan tersebut. Andai mereka bisa memberikan dukungan dan sedikit pengertian, tentu akan sangat berkurang beban yang yang harus ditanggung para istri ini. Andai mereka bisa melepaskan para perempuan dari berbagai tuntutan masyarakat, pasti akan sangat indah kehidupan suami istri dengan ataupun tanpa keturunan. Namun kenyataannya, dalam banyak kondisi justru orang terdekat para istri inilah yang memberikan beban dan tuntutan yang terlalu besar hingga semakin berat beban yang harus disangganya. Tak heran jika sering kali bumi pertiwi menangis setiap kali para istri ini menitikkan air mata...
Thursday, June 9, 2011
Weird Leadership Style
Kalo dihitung-hitung sudah 7 tahun aku kerja di perusahaan ini, tentunya inipun juga tidak lepas dari pengalaman di perusahaan sebelumnya yang juga berlangsung selama 2 tahun untuk 3 perusahaan. Hampir setahun di perusahaan ekspor kayu, setahun lebih di industri pipa pancang baja, dan hanya dua bulan di trading company. Total sudah 9 tahun lebih bekerja di perusahaan, padahal rasanya baru beberapa saat yang lalu wisuda S1.
Waktu 9 tahun terlewati dengan banyak hal dan pengalaman serta pelajaran baru. Pelajaran tentang pekerjaan yang ga berhubungan dengan kuliah. Pelajaran tentang berhubungan dengan teman kerja, atasan, maupun pihak ketiga. Semua blended jadi sebuah pengalaman yang penuh hikmah buatku.
Dalam waktu 9 tahun itu pula aku mengamati gaya kepemimpinan yang berbeda-beda. Ada kepemimpinan paternalistik, yang bergaya seperti seorang ayah yang baik namun terkadang berubah jadi diktator yang tidak punya belas kasihan. Ada pula bos yang agak genit dan suka menyentuh, sempat bikin stress dan ga nyaman tapi tidak punya cukup keberanian untuk melawan hahahaha…. Mungkin itulah ketergantungan pekerja pada pemilik modal, pasrah saja demi sesuap nasi dan sebongkah genting tempat berteduh.
Selain itu juga ada gaya kepemimpinan favoritku, bos yang mensupport staffnya untuk maju sampai level tertinggi di perusahaan, membolehkan seorang kutu kupret tanda tangan di memo dan mempresentasikan di depan komisaris dan direksi, benar-benar memberi ruang bagi anak buahnya untuk memaksimalkan potensi dirinya dan menunjukkan kemampuan diri tersebut.
Tapi kemudian, ternyata ada juga gaya kepemimpinan yang sangat..strukturalis, extremely hierarchycal. Seperti seorang raja yang alergi bertemu rakyat jelata. Itu yang juga aku temui, seorang bos yang hanya mau ditemui oleh ring 1, kalo kecoa mau menyampaikan idenya mesti bilang dulu ke ring di atasnya (A), trus ring di atasnya (A) tadi bilang lagi ke yang lebih atas (B), baru nanti si B menemui sang raja dan menyampaikan apa yang disampaikan si kecoa tadi. Hmmmmm….kebayang kan berapa banyak informasi yang terdistorsi..? Kebayang kan kalo A dan B kurang mampu menyerap informasi justru akan menimbulkan misinformasi, mispersepsi, misunderstanding, dan mis-mis lainnya...
Padahal bukankah salah satu misi kepemimpinan adalah untuk menghasilkan lebih banyak pemimpin, bukan pengikut (Ralph Nader)? Lalu bagaimana caranya mau menghasilkan lebih banyak pemimpin kalo mulut diberangus seperti itu? Keberanian dan kemampuan mengekspresikan pendapat pun dikebiri.. hahahaha….benar-benar gaya kepemimpinan yang aneh..
Waktu 9 tahun terlewati dengan banyak hal dan pengalaman serta pelajaran baru. Pelajaran tentang pekerjaan yang ga berhubungan dengan kuliah. Pelajaran tentang berhubungan dengan teman kerja, atasan, maupun pihak ketiga. Semua blended jadi sebuah pengalaman yang penuh hikmah buatku.
Dalam waktu 9 tahun itu pula aku mengamati gaya kepemimpinan yang berbeda-beda. Ada kepemimpinan paternalistik, yang bergaya seperti seorang ayah yang baik namun terkadang berubah jadi diktator yang tidak punya belas kasihan. Ada pula bos yang agak genit dan suka menyentuh, sempat bikin stress dan ga nyaman tapi tidak punya cukup keberanian untuk melawan hahahaha…. Mungkin itulah ketergantungan pekerja pada pemilik modal, pasrah saja demi sesuap nasi dan sebongkah genting tempat berteduh.
Selain itu juga ada gaya kepemimpinan favoritku, bos yang mensupport staffnya untuk maju sampai level tertinggi di perusahaan, membolehkan seorang kutu kupret tanda tangan di memo dan mempresentasikan di depan komisaris dan direksi, benar-benar memberi ruang bagi anak buahnya untuk memaksimalkan potensi dirinya dan menunjukkan kemampuan diri tersebut.
Tapi kemudian, ternyata ada juga gaya kepemimpinan yang sangat..strukturalis, extremely hierarchycal. Seperti seorang raja yang alergi bertemu rakyat jelata. Itu yang juga aku temui, seorang bos yang hanya mau ditemui oleh ring 1, kalo kecoa mau menyampaikan idenya mesti bilang dulu ke ring di atasnya (A), trus ring di atasnya (A) tadi bilang lagi ke yang lebih atas (B), baru nanti si B menemui sang raja dan menyampaikan apa yang disampaikan si kecoa tadi. Hmmmmm….kebayang kan berapa banyak informasi yang terdistorsi..? Kebayang kan kalo A dan B kurang mampu menyerap informasi justru akan menimbulkan misinformasi, mispersepsi, misunderstanding, dan mis-mis lainnya...
Padahal bukankah salah satu misi kepemimpinan adalah untuk menghasilkan lebih banyak pemimpin, bukan pengikut (Ralph Nader)? Lalu bagaimana caranya mau menghasilkan lebih banyak pemimpin kalo mulut diberangus seperti itu? Keberanian dan kemampuan mengekspresikan pendapat pun dikebiri.. hahahaha….benar-benar gaya kepemimpinan yang aneh..
Wednesday, June 1, 2011
Semalam Di Kereta Senja
Long weekend karena adanya cuti bersama yg diumumkan pemerintah untuk efektivitas kerja Dan menyegarkan para pekerja setelah libur panjang...
Hmmmmm..banyak yg memanfaatkan untuk pulang kampung, termasuk aku n suamiku. lebih dari seminggu sebelumnya, tepat saat diumumkan cuti bersama..kesibukan mencari tiket langsung terjadi. Alhamdulillah, tak lama berselang tiket pin didapat. Berangkat Solo naik kereta senja bareng rombongan YSU Dan balik ke Jakarta dari Semarang naik Argo.
Tak usah dibahas dulu lah soal baliknya.
Sekarang adalah cerita tentang perjalanan ke Solo naik kereta senja. Hmmmmm...judulnya sih Business Class, tapi banyak uang ngegelesot Di lantai, bahkan PT KAI menyewakan alas untuk tidur Di lantai (Ga kebayang naik pesawat klas bisnis n penumpangnya ngegelesot Di lantai hehehe...). Gerbong sudah penuh sesak sampe pedagang asongan pun ogah naik..tapi tiba2 Ada serombongan tentara naik ke gerbong yg udah penuh sesak ini. Lengkap dgn seragam hijau Dan tas ransel setebal 30cm yg kelihatan sangat berat..terbukti dgn keringat mereka yg bercucuran..
Tapi para tentara muda ini lumayan juga. Mereka masih mengucap kata permisi pada orang2 yg dilewati Dan mereka benar2 memanggul sendiri tas ransel yg berat itu... Well...at least they are better than our neighbor's young soldiers who needed maid to help carrying the back pack.
It's okay...though tiresome but there are still things to be grateful for, I got a seat next to my hubby..and watching them standing or lying on the floor hehehe...
Time to sleep now..enough blogging in this train tonite...
Hmmmmm..banyak yg memanfaatkan untuk pulang kampung, termasuk aku n suamiku. lebih dari seminggu sebelumnya, tepat saat diumumkan cuti bersama..kesibukan mencari tiket langsung terjadi. Alhamdulillah, tak lama berselang tiket pin didapat. Berangkat Solo naik kereta senja bareng rombongan YSU Dan balik ke Jakarta dari Semarang naik Argo.
Tak usah dibahas dulu lah soal baliknya.
Sekarang adalah cerita tentang perjalanan ke Solo naik kereta senja. Hmmmmm...judulnya sih Business Class, tapi banyak uang ngegelesot Di lantai, bahkan PT KAI menyewakan alas untuk tidur Di lantai (Ga kebayang naik pesawat klas bisnis n penumpangnya ngegelesot Di lantai hehehe...). Gerbong sudah penuh sesak sampe pedagang asongan pun ogah naik..tapi tiba2 Ada serombongan tentara naik ke gerbong yg udah penuh sesak ini. Lengkap dgn seragam hijau Dan tas ransel setebal 30cm yg kelihatan sangat berat..terbukti dgn keringat mereka yg bercucuran..
Tapi para tentara muda ini lumayan juga. Mereka masih mengucap kata permisi pada orang2 yg dilewati Dan mereka benar2 memanggul sendiri tas ransel yg berat itu... Well...at least they are better than our neighbor's young soldiers who needed maid to help carrying the back pack.
It's okay...though tiresome but there are still things to be grateful for, I got a seat next to my hubby..and watching them standing or lying on the floor hehehe...
Time to sleep now..enough blogging in this train tonite...
Sajak Cinta untuk Suamiku
Sajak Cinta untuk Suamiku
Beny Kurniawan, suamiku sayang….
Sudah lebih dari dua tahun aku melabuhkan hati dan diriku padamu dan selama itu pula aku menyerahkan jiwa dan pengabdianku padamu.
Engkau adalah samudera cintaku, pelabuhan kasih sayangku, sandaran hidupku di dunia dan di akhirat nanti, insha Allah.
Hadirmu dalam hidupku bagai cahaya mentari di siang hariku.
Adamu dalam hari-hariku bagai sinar rembulan di malam-malam gelapku.
Kaulah cahaya mataku, selimut kehangatan di dinginnya musim hujan.
Engkaulah sumber kebahagian dalam hidupku, pusat kehidupanku saat ini dan nanti.
Suamiku tercinta,
Padamu kulandaskan hari-hari esokku, engkau harapanku, tanpamu aku goyah, tanpamu aku remuk, tanpamu aku hancur, luluh bagai debu di angkasa liar.
Membayangkan senyummu telah meredam kegalauan hatiku.
Mengingat tatapanmu telah menenangkan keresahan jiwaku.
Ingin rasanya kuselami luasnya lautan asmara yang kau hamparkan untukku, namun ragaku terlalu rapuh untuk menghirup segala cinta dan cita yang kau hadirkan bagiku.
Sejuta rasa yang kau taburkan tlah berbuah asa panjang yang penuh dengan gairah dan gejolak kenikmatan dalam dadaku.
Hasratku tuk terus bersamamu tlah meracuni pikirku dan meluluhlantakkan isi kepalaku.
Suamiku terkasih,
Engkau adalah rajaku, padamu aku tundukkan segenap keinginan diri, padamu pula aku serahkan seluruh keinginan hati.
Aku mau menunaikan sisa umurku bersamamu, menangis dan tertawa denganmu, berjalan dan berlari diiringi langkah kakimu, hanyut dalam dekap erat pelukan hangatmu serta bergayut mesra dalam kokohnya pundakmu.
Engkau adalah pangeranku, tempatku menautkan cinta dan seluruh harapanku, denganmulah kutuntaskan seluruh hari-hariku.
Deru nafasmulah yang mengisi rongga tubuhku
Keindahanmulah yang pertama kulihat saat aku membuka mata di pagi hari.
Dan pesonamulah yang terakhir kusaksikan saat aku menutup mata di malam hari.
Sayangku, cintaku, kasihku….aku mencintaimu dengan segenap jiwa dan ragaku, dengan sepenuh hati dan pikirku, di sepanjang sisa umurku.
Engkau Ada dalam setiap hela nafasku,
Engkau Ada dalam setiap doa-doaku....
Jakarta, 24 February 2011
Istrimu, Agustina Niken Kurniawan
Beny Kurniawan, suamiku sayang….
Sudah lebih dari dua tahun aku melabuhkan hati dan diriku padamu dan selama itu pula aku menyerahkan jiwa dan pengabdianku padamu.
Engkau adalah samudera cintaku, pelabuhan kasih sayangku, sandaran hidupku di dunia dan di akhirat nanti, insha Allah.
Hadirmu dalam hidupku bagai cahaya mentari di siang hariku.
Adamu dalam hari-hariku bagai sinar rembulan di malam-malam gelapku.
Kaulah cahaya mataku, selimut kehangatan di dinginnya musim hujan.
Engkaulah sumber kebahagian dalam hidupku, pusat kehidupanku saat ini dan nanti.
Suamiku tercinta,
Padamu kulandaskan hari-hari esokku, engkau harapanku, tanpamu aku goyah, tanpamu aku remuk, tanpamu aku hancur, luluh bagai debu di angkasa liar.
Membayangkan senyummu telah meredam kegalauan hatiku.
Mengingat tatapanmu telah menenangkan keresahan jiwaku.
Ingin rasanya kuselami luasnya lautan asmara yang kau hamparkan untukku, namun ragaku terlalu rapuh untuk menghirup segala cinta dan cita yang kau hadirkan bagiku.
Sejuta rasa yang kau taburkan tlah berbuah asa panjang yang penuh dengan gairah dan gejolak kenikmatan dalam dadaku.
Hasratku tuk terus bersamamu tlah meracuni pikirku dan meluluhlantakkan isi kepalaku.
Suamiku terkasih,
Engkau adalah rajaku, padamu aku tundukkan segenap keinginan diri, padamu pula aku serahkan seluruh keinginan hati.
Aku mau menunaikan sisa umurku bersamamu, menangis dan tertawa denganmu, berjalan dan berlari diiringi langkah kakimu, hanyut dalam dekap erat pelukan hangatmu serta bergayut mesra dalam kokohnya pundakmu.
Engkau adalah pangeranku, tempatku menautkan cinta dan seluruh harapanku, denganmulah kutuntaskan seluruh hari-hariku.
Deru nafasmulah yang mengisi rongga tubuhku
Keindahanmulah yang pertama kulihat saat aku membuka mata di pagi hari.
Dan pesonamulah yang terakhir kusaksikan saat aku menutup mata di malam hari.
Sayangku, cintaku, kasihku….aku mencintaimu dengan segenap jiwa dan ragaku, dengan sepenuh hati dan pikirku, di sepanjang sisa umurku.
Engkau Ada dalam setiap hela nafasku,
Engkau Ada dalam setiap doa-doaku....
Jakarta, 24 February 2011
Istrimu, Agustina Niken Kurniawan
Tuesday, May 31, 2011
kalo jadi elang kayaknya asyik ya..terbang kejar2an
Hmmmm....itu pernyataan seorang teman yang melihat elang berkejaran Di angkasa. Tapi apa bener jadi elang asyik? Apakah mereka tidak merasakan seperti temenku yg merasa jadi manusia itu enak?
Aku ga mau jadi elang, yang bulunya diambil buat hiasan mahkota kepala suku Indian, atau dikejar2 pemburu untuk dijual, atau bahkan mungkin dikebiri kebebasannya atas nama penangkaran or pengembangbiakan agar tidak punah.
Aku ga mau jadi apapun yang lainnya, karena aku hanya mau jadi aku, NIKEN.
Aku mencintai diriku, aku mencintai hidupku Dan seluruh proses kehidupanku menjadi aku yang ada saat ini. Aku mencintai pengalaman2 yg sudah membentukku menjadi manusia seperti ini. Aku pun mencintai orang2 Di sekelilingku yg turut menjadikanku sebagai individu ini.
Aku memang tidak sangat baik, tapi aku juga tidak sangat buruk.
Aku memang tidak berkontribusi maksimal, tapi aku juga bukan benalu.
Aku bahagia dengan adanya aku saat ini berikut masa2 yg sudah lewat.
Aku berterima kasih pada pemilik kehidupanku karenanya, aku bersyukur dengan adanya diriku Dan aku tidak mau menjadi yang lain lagi.
Aku masih akan terus berproses seperti batu hitam yang ditempa hingga menjadi berlian, dari kepompong hingga jadi kupu-kupu yang cantik...
Aku ga mau jadi elang, yang bulunya diambil buat hiasan mahkota kepala suku Indian, atau dikejar2 pemburu untuk dijual, atau bahkan mungkin dikebiri kebebasannya atas nama penangkaran or pengembangbiakan agar tidak punah.
Aku ga mau jadi apapun yang lainnya, karena aku hanya mau jadi aku, NIKEN.
Aku mencintai diriku, aku mencintai hidupku Dan seluruh proses kehidupanku menjadi aku yang ada saat ini. Aku mencintai pengalaman2 yg sudah membentukku menjadi manusia seperti ini. Aku pun mencintai orang2 Di sekelilingku yg turut menjadikanku sebagai individu ini.
Aku memang tidak sangat baik, tapi aku juga tidak sangat buruk.
Aku memang tidak berkontribusi maksimal, tapi aku juga bukan benalu.
Aku bahagia dengan adanya aku saat ini berikut masa2 yg sudah lewat.
Aku berterima kasih pada pemilik kehidupanku karenanya, aku bersyukur dengan adanya diriku Dan aku tidak mau menjadi yang lain lagi.
Aku masih akan terus berproses seperti batu hitam yang ditempa hingga menjadi berlian, dari kepompong hingga jadi kupu-kupu yang cantik...
Subscribe to:
Comments (Atom)