A NEW PHASE IN ME
Jakarta, 9 Januari 2012
Setiap kolam punya jenis ikannya sendiri. Walaupun jenisnya mungkin sama, namun selalu ada ciri khusus dari ikan di kolam yang sama. Mungkin dari gaya berenangnya, gaya sembunyinya, gaya makannya; tapi ada ciri khusus dari masing-masing kolam.
Pun demikian dengan bekerja. Budaya kerja di masing-masing kantor pastilah berbeda. Ada yang sangat disiplin dengan waktu sehingga jam datang dan jam pulang, exactly on time. Asumsi yang dipakai adalah efektivitas jam kerja 8 jam sehari, sehingga tidak perlu timbul biaya tambahan karena lembur, baik untuk bayar lembur pekerja maupun biaya yang timbul akibat perpanjangan jam kerja seperti listrik. Ada pula yang cukup lentur dengan 8 jam sehari itu, yang penting bekerja selama 8 jam, kalau datang terlambat maka pulang juga harus dikompensasikan dengan keterlambatan tersebut sehingga total waktu kerja benar-benar 8 jam sehari. Namun, ada pula yang jam kerjanya tidak tertentu, bisa jadi datang pagi dan pulang malam dengan parameter semua assignment harus selesai dikerjakan pada hari yang sama.
Perbedaan budaya dalam hal jam kerja ini tentunya merupakan keragaman budaya kerja yang mewarnai keseharian para pekerja. Akan ada sedikit cultural shock ketika seorang pekerja dengan typical gaya kerja pertama harus mengikuti kolam ketiga, pekerja kolam kedua mengikuti kolam pertama, dan pekerja kolam pertama dan kedua mengikuti kolam ketiga. Terjadinya cultural shock ini dapat diatasi dengan proses adaptasi dari masing-masing pekerja atau dengan mengadaptasi kolam barunya dengan si pekerja. Tentu lebih mudah jika satu orang yang berubah mengikuti lingkungannya, tanpa ada dampak tertentu bagi lingkungan itu pula. Namun bukan mustahil juga bila satu orang bisa merubah lingkungannya jika dia berada di posisi yang tepat dengan argumentasi yang tepat pula. Memang satu sendok teh garam tidak bisa mengasinkan seluruh kolam, tapi ketika sendok yang digunakan sebesar sekop maka bisa jadi kolam tersebut akan menjadi asin mengikuti perubahan yang dimasukkan dalam kolam.
Efek yang timbul akan cukup radikal jika lingkungan yang berubah mengikuti perseorangan, mungkin terjadi ketidakseimbangan lingkungan dengan adanya pertentangan dari berbagai pihak, baik secara lunak maupun tentangan yang frontal. Setiap perubahan menuntut konsekuensi logis yang bisa jadi berupa pengorbanan.
Jenis pengorbanan ini bisa datang dari siapapun, termasuk dari si pembawa perubahan itu sendiri atau justru dari penghuni lingkungan yang berubah. Apapun konsekuensinya, setiap kemungkinan harus dipertimbangkan masak-masak untuk meminimalisir resiko yang mungkin timbul. Karena tidak ada perusahaan manapun yang ingin namanya tercemar karena berita yang kurang sedap. Setiap perusahaan mengharapkan perubahan seradikal apapun, dapat diterima dengan baik dan tidak menimbulkan gejolak apalagi hingga diluar perusahaan. Perubahan boleh terjadi namun image harus tetap dijaga, itu resep setiap perusahaan.
Lalu bagaimana caranya agar perubahan itu tidak menimbulkan gejolak di kemudian hari?
Sosialisasi memegang peranan penting dalam hal ini. Jika rencana perubahan itu disosialisasikan dengan tepat maka para pihak dapat mengantisipasi efek-efek yang mungkin timbul. Mereka dapat memperhitungkan kemungkinan yang bisa terjadi dan cara antisipasi tepat untuk setiap prediksi kemungkinan tersebut.
Komunikasi juga merupakan kunci penting lainnya. Ketika sosialisasi disampaikan dengan cara berkomunikasi yang baik maka akan mampu meredam gejolak yang mungkin timbul. Tapi ketika sosialisasi disampaikan dengan cara berkomunikasi yang kurang baik, maka akan memancing gejolak yang seharusnya dapat diredam.
Beberapa agen pembawa perubahan memiliki kemampuan komunikasi yang sangat memadai untuk menyampaikan perubahan ini, sehingga para pihak dapat menerima terjadinya perubahan dengan legowo. Namun ketika pembawa perubahan mengkomunikasikan misinya dengan cara yang salah, entah gaya penyampaiannya atau pilihan bahasanya, maka disitulah akan terjadi miskomunikasi yang bisa menimbulkan bencana berkepanjangan.
Dimulai dari bisik-bisik ketidakpuasan, pengaduan pada system yang lebih tinggi, gejolak pemberontakan, hingga perlawanan itu sendiri, yang pada akhirnya hanya akan merugikan salah satu pihak, karena pada kenyataannya jika berhubungan dengan organisasi modal maka tidak akan ada diskusi yang memberikan kemenangan bagi para pihak. Selalu harus ada yang dikorbankan dan harus ada yang dijaga kehormatannya, dan atas nama kehormatan yang lebih kuasa maka yang lemah harus dikalahkan dan mengalah. Disinilah timbul korban, yang semestinya tidak perlu terjadi jika perubahan tersebut disosialisasikan dengan cara berkomunikasi yang memadai, tanpa merendahkan yang lain ataupun meninggikan yang lainnya lagi.
Karena ketika yang terjadi adalah perendahan terhadap yang lain, penistaan pada yang lemah, pengorbanan pada yang kalah maka sumpah serapah atas luka yang timbul akan terlontar dan pada akhirnya hukum alam berjalan dengan teori kekekalan energy-nya, bahwa energy tidak pernah hilang, energy hanya berpindah dan berubah bentuk, dan akhirnya akan kembali pada si empunya energy itu sendiri. Kebaikan yang dilepaskan akan kembali padanya menjadi kebaikan. Keburukan yang dilepaskan akan kembali padanya menjadi keburukan.
Maka dari itu, berhati-hatilah ketika berada pada posisi sebagai pembawa perubahan, pengambil kebijakan, pembuat keputusan yang tindakannya dapat merubah kehidupan orang lain. Pertimbangkan setiap tindakan dan ucapan dengan bijak, hadapi setiap konsekuensi dengan gagah, jangan pernah melempar tanggung jawab pada orang lain yang mungkin justru tidak terakses oleh orang-orang yang secara tidak langsung nasibnya ada di tangan anda. Pelajari setiap kondisi dan situasi yang terpetakan agar tidak menjadi boomerang bagi diri anda sendiri. Karena hidup yang berarti adalah memberi makna bagi orang lain, bukan menghancurkan kehidupan orang lain. Sekali anda meghancurkan kehidupan orang lain, anda harus bertanggung jawab seumur hidup di dunia dan di akhirat.
Ctrl+FSearch the document
F3Find next
Shift+F3Find previous
Edit online
Ctrl+SDownload original
Save in Google Docs
Ctrl+PPrint (PDF)
Ctrl+Shift+→Zoom in
Ctrl+Shift+←Zoom out
1Fit page to screen width
2Fit two pages to screen width
Shift+Ctrl+FCompact controls
HPlain HTML
Google Docs Help Center
Learn from other Google users
Report an issue
Try the new look
Use the classic look
?Show keyboard shortcuts
No comments:
Post a Comment