Kalo dihitung-hitung sudah 7 tahun aku kerja di perusahaan ini, tentunya inipun juga tidak lepas dari pengalaman di perusahaan sebelumnya yang juga berlangsung selama 2 tahun untuk 3 perusahaan. Hampir setahun di perusahaan ekspor kayu, setahun lebih di industri pipa pancang baja, dan hanya dua bulan di trading company. Total sudah 9 tahun lebih bekerja di perusahaan, padahal rasanya baru beberapa saat yang lalu wisuda S1.
Waktu 9 tahun terlewati dengan banyak hal dan pengalaman serta pelajaran baru. Pelajaran tentang pekerjaan yang ga berhubungan dengan kuliah. Pelajaran tentang berhubungan dengan teman kerja, atasan, maupun pihak ketiga. Semua blended jadi sebuah pengalaman yang penuh hikmah buatku.
Dalam waktu 9 tahun itu pula aku mengamati gaya kepemimpinan yang berbeda-beda. Ada kepemimpinan paternalistik, yang bergaya seperti seorang ayah yang baik namun terkadang berubah jadi diktator yang tidak punya belas kasihan. Ada pula bos yang agak genit dan suka menyentuh, sempat bikin stress dan ga nyaman tapi tidak punya cukup keberanian untuk melawan hahahaha…. Mungkin itulah ketergantungan pekerja pada pemilik modal, pasrah saja demi sesuap nasi dan sebongkah genting tempat berteduh.
Selain itu juga ada gaya kepemimpinan favoritku, bos yang mensupport staffnya untuk maju sampai level tertinggi di perusahaan, membolehkan seorang kutu kupret tanda tangan di memo dan mempresentasikan di depan komisaris dan direksi, benar-benar memberi ruang bagi anak buahnya untuk memaksimalkan potensi dirinya dan menunjukkan kemampuan diri tersebut.
Tapi kemudian, ternyata ada juga gaya kepemimpinan yang sangat..strukturalis, extremely hierarchycal. Seperti seorang raja yang alergi bertemu rakyat jelata. Itu yang juga aku temui, seorang bos yang hanya mau ditemui oleh ring 1, kalo kecoa mau menyampaikan idenya mesti bilang dulu ke ring di atasnya (A), trus ring di atasnya (A) tadi bilang lagi ke yang lebih atas (B), baru nanti si B menemui sang raja dan menyampaikan apa yang disampaikan si kecoa tadi. Hmmmmm….kebayang kan berapa banyak informasi yang terdistorsi..? Kebayang kan kalo A dan B kurang mampu menyerap informasi justru akan menimbulkan misinformasi, mispersepsi, misunderstanding, dan mis-mis lainnya...
Padahal bukankah salah satu misi kepemimpinan adalah untuk menghasilkan lebih banyak pemimpin, bukan pengikut (Ralph Nader)? Lalu bagaimana caranya mau menghasilkan lebih banyak pemimpin kalo mulut diberangus seperti itu? Keberanian dan kemampuan mengekspresikan pendapat pun dikebiri.. hahahaha….benar-benar gaya kepemimpinan yang aneh..
No comments:
Post a Comment