Thursday, August 18, 2011

Berbagi Kisah Para Istri

Berbagi Kisah Para Istri

Usia pernikahan yang telah di ambang tiga tahun dan masih juga belum adanya tanda-tanda kehadiran buah hati, menghadirkan keresahan, jiwa dan raga. Apalagi jika kondisi ini ditambah dengan desakan dari lingkungan sekitar yang bukannya memberikan dukungan tapi malah mencari kesalahan salah satu pihak. Seolah-olah pernikahan hanya melulu tentang pengembangbiakan ras manusia. Bukan sebuah usaha memuliakan hubungan antar manusia untuk saling melengkapi dan mengisi.

Memang kerinduan itu selalu hadir dan menyeruak, namun apa hendak dikata jika memang keadaan belum mengijinkan. Meskipun berbagai usaha juga telah dilakukan untuk memperbaiki keadaan, tapijika memang Yang Punya Hidup belum menghendaki tetaplah kerinduan itu hanya sebatas kerinduan yang masih belum bertepi, entah sampai kapan....

Terkadang kondisi ini terasa lebih berat bagi para istri, karena memang masyarakat cenderung untuk menyalahkan para perempuan dalam keadaan apapun. Lihat saja ketika seorang perempuan diculik, disekap dan diperkosa; tetap perempuan itu yang dicari-cari kesalahannya, entah karena bajunya atau pergaulannya atau sikapnya. Padahal sebuah kejahatan pemerkosaan seperti itu, tetap menyisakan korban dan pelaku. Apapun baju si perempuan, bagaimana pun dia bersikap, atau bahkan dengan siapa pun dia bergaul sama sekali bukan alasan bagi seorang manusia berjenis kelamin lelaki untuk menurunkan derajatnya ke level binatang dengan melakukan pemaksaan seksual pada seorang perempuan.

Pun demikian adanya dengan seorang istri yang masih menyimpan kerinduan akan buah hati, tidak bisa semudah itu dipersalahkan sebagai pihak yang lemah karena kondisi ini. Bukankah benih itu dari lelaki? Bukankah perempuan hanya sekedar tempat menumbuhkan benih tersebut? Tapi kenapa selalu perempuan yang dituding mandul, tidak bisa punya anak, dlsb…? Bahkan sering kali tudingan itu hanya sekadar tudingan tanpa melalui tindakan medis yang memadai hmmmmmmh….

Pernahkah mereka, para hakim yang kejam itu, memikirkan bagaimana jika kondisi tersebut terjadi pada dirinya sendiri atau anak gadis kesayangannya? Bagaimana mereka akan menyikapi berbagai tudingan dan tuduhan tak berdasar tersebut? Akankah mereka bisa menerimanya dengan lapang dada seperti yang mereka tuntut pada para istri yang didera kerinduan tersebut? Atau kah mereka justru akan merasakan hati mereka remuk jadi puing-puing debut yang beterbangan dihembus deru napasnya sendiri?
Karena sesungguhnya, ketika kerinduan itu menyergap yang bisa dilakukan oleh para istri hanya bersabar sambil meminta pada Yang Punya Hidup agar diberi mukjizat untuk dapat melepas kerinduan itu dengan merasakan indahnya hamil dan nikmatnya menimang sang buah hati. Sebesar apapun dana yang dikeluarkan, sekuat apapun usaha yang dilakukan segalanya berpulang pada Yang Punya Hidup. Tak ada yang benar-benar bisa dilakukan manusia dalam hal ini. Hasrat untuk memuaskan kerinduan ini adalah sesuatu yang tidak dapat dikontrol oleh manusia. Seorang perempuan masih bisa memaksa lelaki untuk menikahinya, entah dengan iming-iming uang maupun dengan tekanan senjata. Namun professor yang paling hebat sekalipun tak pernah sanggup memaksa Yang Punya Hidup untuk menganugerahi sepasang suami istri dengan keturunan, ini adalah sesuatu diluar control manusia.

Andai semua orang di lingkungan terdekat para istri bisa memahami hal ini, tentu akan terasa lebih ringan beban seorang istri yang masih memendam kerinduan tersebut. Andai mereka bisa memberikan dukungan dan sedikit pengertian, tentu akan sangat berkurang beban yang yang harus ditanggung para istri ini. Andai mereka bisa melepaskan para perempuan dari berbagai tuntutan masyarakat, pasti akan sangat indah kehidupan suami istri dengan ataupun tanpa keturunan. Namun kenyataannya, dalam banyak kondisi justru orang terdekat para istri inilah yang memberikan beban dan tuntutan yang terlalu besar hingga semakin berat beban yang harus disangganya. Tak heran jika sering kali bumi pertiwi menangis setiap kali para istri ini menitikkan air mata...

No comments:

Post a Comment